Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #4

Melati

Langkah kaki Alwi yang berat membawanya keluar dari lorong tengah menuju dapur kecil di bagian belakang rumah. Di sana, di bawah pijaran lampu neon yang berkedip-kedip, seorang wanita sedang sibuk merapikan sisa-sisa bumbu dapur ke dalam wadah plastik. Melati Purnama. Istrinya.

Mendengar langkah kaki yang tergesa, Melati langsung berbalik. Rambut hitamnya diikat asal-asalan ke belakang, memperlihatkan gurat kelelahan yang sama di wajah ayunya. Namun, begitu matanya menangkap rahang Alwi yang mengeras dan dadanya yang naik-turun menahan amarah, sorot mata Melati seketika melunak. Tanpa perlu bertanya, Melati tahu badai apa yang baru saja terjadi di kamar depan.

Melati berjalan mendekat, meraih jemari Alwi yang masih mengepal kuat hingga memutih. Dengan perlahan, ia mengusap punggung tangan suaminya, menyalurkan kehangatan yang perlahan-lahan meruntuhkan ketegangan di otot-otot Alwi.

“Minum dulu, Mas,” bisik Melati lembut, menyodorkan segelas air putih hangat yang memang sudah ia siapkan sejak mendengar suara bantingan pintu tadi.

Alwi menerima gelas itu, meneguknya hingga tandas, lalu mengembuskan napas panjang. Kehadiran Melati di rumah ini adalah satu-satunya alasan mengapa Alwi belum gila menghadapi kewajiban yang mencekik lehernya. Melati adalah jangkar bagi jiwanya yang hampir hanyut oleh arus kebencian.

“Mamah menanyakan Romi lagi?” tanya Melati pelan. Ia mengambil gelas kosong dari tangan Alwi dan meletakkannya di atas meja makan kayu yang bergoyang.

Lihat selengkapnya