Lampu teplok di sudut kamar belakang yang menjadi ruang pribadi Alwi dan Melati tampak bergoyang, memantulkan bayangan tubuh Alwi yang membungkuk di atas sebuah meja kayu kecil. Di atas meja itu, berserakan beberapa lembar kertas gambar yang ujung-ujungnya sudah mulai menguning. Tangan Alwi memegang sebatang pensil 2B yang sudah pendek, menggoreskan garis-garis tegas di atas permukaan kertas putih, membentuk sebuah sketsa bangunan dengan struktur pilar yang megah dan atap kaca yang modern.
Hanya di malam hari, ketika rumah sudah sepenuhnya sunyi dan Ratih sudah tertidur lelap setelah meminum obatnya, Alwi bisa melepaskan topeng anak durhaka yang kasarnya sehari-hari. Di bawah temaram cahaya, sepasang mata Alwi yang biasanya dingin dan mati, mendadak memancarkan binar kehidupan yang sangat pekat.
Menggambar adalah jiwanya. Menjadi seorang pelukis terkenal yang karyanya dipajang di galeri-galeri besar, atau menjadi seorang arsitek hebat yang rancangan bangunannya berdiri kokoh mencakar langit, adalah bahan bakar yang membuatnya tetap bernapas hingga detik ini.
Namun, setiap kali pensilnya menggoreskan detail pada jendela atau bayangan bangunan, jemari Alwi tanpa sadar bergetar. Ingatan motoriknya seolah memanggil kembali rasa perih yang teramat sangat pada punggung tangan dan lengan atasnya. Sebuah trauma masa lalu yang berakar begitu dalam, yang dengan kejam menghancurkan setiap jengkal harapan yang pernah dibangun Alwi kecil.
Sejak ia bisa memegang pensil warna, Alwi tahu dia memiliki bakat yang tidak dimiliki kakaknya, Romi. Ketika Romi hanya bisa menghabiskan waktu dengan bermain ketapel dan merusak tanaman tetangga, Alwi kecil bisa duduk berjam-jam di sudut teras, mengamati bentuk daun, guratan kayu, atau siluet senja, lalu memindahkannya ke atas kertas dengan kemiripan yang luar biasa. Baginya, lembaran kertas kosong adalah dunia tempat ia memegang kendali penuh, tidak ada pengabaian, tidak ada bentakan, dan tidak ada sosok Romi yang selalu menjadi anak emas.
Alwi menarik napas panjang, menghentikan goresan pensilnya sejenak. Matanya tertuju pada sebuah bekas luka memanjang di pergelangan tangan kirinya. Luka itu didapatnya saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, sebuah hari kelam yang tidak akan pernah bisa dihapus dari garis hidupnya.
Hari itu, Alwi pulang dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Di dalam tas sekolahnya yang jahitannya sudah mulai lepas, terdapat sebuah piagam penghargaan berwarna emas. Alwi kembali berhasil menyabet juara pertama dalam lomba melukis tingkat provinsi. Bukan hanya piagam, ia juga membawa pulang uang tunai dalam amplop yang cukup besar, uang yang rencananya akan ia serahkan seluruhnya pada Ratih untuk membantu membeli beras dan biaya sekolah Romi yang menunggak.
Alwi melangkah masuk ke rumah dengan dada membusung bangga. Di ruang tengah, Rudi Saputra, sedang duduk di kursi rotan sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam. Wajah bapaknya selalu terlihat keruh, penuh dengan kekecewaan hidup yang entah apa penyebabnya. Di dekatnya, Ratih sedang sibuk menghitung sisa uang belanja di atas meja dengan wajah yang tak kalah kusut.
“Bapak, Mamah... Alwi juara satu lagi,” ucap Alwi remaja kala itu, menyodorkan kertas gambar hasil juaranya yang dikembalikan oleh panitia beserta amplop hadiahnya. “Ini ada uang dari lomba, buat Mamah.”
Ratih menoleh sekilas, matanya berbinar melihat amplop tebal itu, lalu dengan cepat merebutnya dari tangan Alwi tanpa mengucapkan sepatah kata terima kasih pun. Ratih langsung sibuk menghitung lembaran uang di dalamnya. “Kebetulan sekali, Wi. Uang ini pas buat bayar tunggakan motor kakakmu yang mau ditarik lising.”