Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #6

Kapan Giliranku?

Aroma minyak kayu putih dan bumbu dapur yang pekat selalu menjadi penyambut pertama yang merayap masuk ke indra penciuman Alwi setiap kali ia melangkahkan kaki melewati pintu depan. Sore itu, langit di luar rumah sedang muram, sewarna dengan cat dinding ruang tengah yang mengelupas di sana-sini. Alwi meletakkan tas kain lusuh berisi peralatan pertukangannya di sudut ruangan dengan gerakan pelan, mencoba tidak menimbulkan suara bising yang biasanya akan langsung memicu ketegangan.

Namun, langkahnya terhenti ketika pendengarannya menangkap sesuatu yang tidak biasa dari arah kamar depan. Bukan suara batuk kering yang tersendat, bukan pula erangan parau menahan sakit yang biasa Ratih dengungkan sepanjang hari.

Itu adalah suara tawa. Lembut, renyah, dan sarat akan binar kebahagiaan yang sudah bertahun-tahun lamanya absen dari rumah lapuk ini.

Alwi melangkah mendekat tanpa alas kaki, menghentikan tubuhnya tepat di balik tirai pembatas pintu kamar Ratih yang sedikit tersingkap. Di atas kasur tipisnya, Ratih sedang menggenggam sebuah ponsel jadul berlayar monokrom dekat ke telinganya. Wajahnya yang keriput dan pucat mendadak tampak begitu segar, kedua matanya yang biasanya redup kini melengkung membentuk bulan sabit, memancarkan binar kasih sayang yang teramat pekat.

“Iya, Romi... Romi sayang... Mamah dengar, Nak,” ucap Ratih dengan nada suara yang begitu manis, begitu renyah, seolah-olah ia sedang berbicara dengan seorang malaikat yang membawa kabar surga. “Mamah tidak apa-apa di rumah. Kamu tidak usah terlalu memikirkan Mamah ya, yang penting kamu di sana sehat, makan yang teratur. Jangan sampai telat makan, nanti lambung kamu sakit lagi seperti waktu SMA dulu.”

Alwi mematung di tempatnya berdiri. Dadanya mendadak terasa dihantam oleh sebongkah es besar yang dingin dan membekukan aliran darahnya. Suara lembut itu... nada bicara yang begitu penuh perhatian itu... Alwi hampir lupa bahwa ibunya memiliki sisi manusiawi yang sewarna itu. Selama berbulan-bulan ia merawat wanita tua itu, menyeka tubuhnya yang bau, membelikan obat dari sisa keringat yang diperasnya dari pagi hingga malam, Alwi tidak pernah sekali pun dihadiahi nada bicara selembut itu. Yang ia dapatkan setiap hari hanyalah tatapan penuh ketakutan, keluhan pahit, atau bentakan penuh permusuhan.

“Bagus kalau urusan kerjaan kamu lancar, Nak,” lanjut Ratih lagi, tangannya yang kurus mengusap-usap layar ponsel seolah sedang mengusap pipi anak sulungnya yang berada di seberang telepon. “Mamah selalu doakan kamu di setiap sujud Mamah. Nama kamu tidak pernah lepas dari doa Mamah, Romi. Mamah tahu kamu anak baik, kamu pasti bisa sukses.”

Dua minggu terakhir ini, Romi mendadak menjelma menjadi anak yang sangat berbakti. Laki-laki bajingan yang biasanya menghilang berbulan-bulan tanpa kabar itu tiba-tiba menjadi sangat rajin menelepon. Hampir setiap sore, tepat di jam-jam Alwi baru pulang bekerja dengan tubuh yang remuk, ponsel di kamar depan itu akan berdering, membawa suara Romi yang langsung mengubah atmosfer rumah menjadi sebuah panggung sandiwara yang memuakkan bagi Alwi. Dan yang paling membuat hati Alwi terasa diiris-iris adalah perubahan sikap Ratih kepadanya. Sejak Romi rajin menelepon, Ratih tiba-tiba bersikap manis kepada Alwi. Namun, manisnya sikap wanita tua itu tidak terasa tulus di hati Alwi; melainkan terasa seperti sebuah manipulasi tingkat tinggi, sebuah upaya terselubung untuk menjaga agar Alwi tetap mau menjadi pelayan yang patuh di rumah ini.

“Alwi sudah pulang, Nak?” Suara Ratih mendadak memanggil dari dalam kamar, menyadarkan Alwi dari lamunan pahitnya. Rupanya, Ratih sempat melihat bayangan tubuh Alwi yang berdiri di balik tirai setelah ia mematikan sambungan teleponnya.

Alwi menarik napas pendek, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Wajahnya kembali terkunci dalam ekspresi dingin dan datar tanpa emosi. “Ya,” sahut Alwi singkat.

Lihat selengkapnya