Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #7

Manipulatif

Dua hari berlalu setelah ketegangan malam itu, namun atmosfer di dalam rumah lapuk tersebut sama sekali tidak membaik. Justru, kedamaian semu yang mulai merayap terasa jauh lebih berbahaya. Sikap Ratih Rahayu kepada Alwi tetap diusahakan sehalus mungkin. Setiap pagi ketika Alwi bersiap berangkat ke proyek pertukangannya, Ratih akan memanggilnya dengan suara parau yang dibuat-buat selembut sutra, menanyakan apakah Alwi sudah membawa bekal atau belum hal yang tidak pernah wanita itu lakukan selama Alwi hidup di dunia.

Alwi tidak bodoh. Ia tahu betul setiap gerak-gerik ibunya memiliki motif tersembunyi. Sifat manipulatif yang mengalir di dalam darah keluarga ini bukan hal baru baginya. Dan sore itu, semua firasat buruk Alwi akhirnya menemukan muaranya.

Hujan rintik-rintik baru saja membasahi bumi ketika Alwi pulang lebih awal karena material di proyek terlambat datang. Ia melangkah masuk lewat pintu dapur, bermaksud meletakkan gergaji dan martilnya di dekat rak sepatunya yang lama. Melati sedang tidak ada di rumah, istrinya itu sedang pergi ke pasar desa untuk membeli beberapa kilo beras dan keperluan dapur yang mulai menipis. Rumah terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara gemercik air hujan yang menerpa genting tanah liat yang bocor di beberapa titik.

Saat Alwi berjalan melewati lorong tengah yang remang, ia mendengar suara dering ponsel monokrom dari kamar depan. Langkah kaki Alwi seketika mematung. Sesaat kemudian, suara Ratih terdengar mengangkat panggilan itu. Alwi tidak berniat menguping, namun kalimat pertama yang keluar dari mulut ibunya memaksa kedua kakinya untuk terpaku di atas lantai semen yang dingin.

“Iya, Romi... Romi sayang. Mamah sudah pegang uangnya,” ucap Ratih, suaranya berbisik-bisik, sarat akan kerahasiaan yang mendalam. Wajahnya yang pucat pasti sedang tersenyum penuh kemenangan di dalam sana. “Uang obat dari Alwi bulan ini sengaja tidak Mamah belikan semua. Mamah Cuma beli setengahnya, sisa uangnya dan uang belanja dari Melati sudah Mamah kumpulkan di bawah kasur.”

Dada Alwi mendadak seperti dihantam oleh godam besar. Napasnya tertahan di tenggorokan.

“Kamu tenang saja, Nak. Jangan menangis begitu, jantung Mamah rasanya mau copot mendengarmu bingung karena ditagih hutang,” lanjut Ratih, nadanya berubah menjadi penuh kecemasan yang berlebih, sangat kontras dengan ketenangannya saat membohongi Alwi tentang obatnya yang habis kemarin. “Nanti malam, kalau Alwi sudah tidur, kamu datang ke belakang rumah ya. Jangan lewat pintu depan, nanti Alwi tahu. Kamu ambil uang ini di dekat jendela kamar Mamah. Totalnya ada dua juta lima ratus, Wi... eh, maksud Mamah, Romi. Cukup kan, Nak, untuk bayar bunganya dulu?”

Alwi mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, dua juta lima ratus. Bagai orang kaya, ibunya dengan mudah memberikan nominal sebesar itu kepada Romi. Padahal, uang itu adalah hasil Alwi banting tulang di bawah terik matahari, memanjat steger bambu yang tinggi, dan menahan lapar demi memastikan ibunya tidak kekurangan nutrisi dan obat-obatan.

Ternyata, sikap manis, perhatian palsu, dan kelembutan yang Ratih tunjukkan selama beberapa hari terakhir ini hanyalah sebuah taktik busuk. Ada udang di balik batu. Sikap manis itu sengaja dipasang agar Alwi dan Melati tidak menaruh curiga ketika Ratih meminta uang tambahan dengan alasan dosis obatnya dinaikkan oleh dokter puskesmas. Ratih memanipulasi rasa bersalah Alwi, memanfaatkan statusnya sebagai ibu yang sedang sakit, demi memeras keringat anak bungsunya untuk membiayai gaya hidup bejat anak sulungnya.

“Iya, Romi... Mamah tahu kamu sedang susah. Alwi memang pelit, dia tidak pernah mau mengerti kalau kakaknya butuh bantuan,” Ratih kembali bersuara, mengumpat Alwi di balik telepon untuk menyenangkan hati Romi. “Sudah dulu ya, Nak. Takutnya Alwi pulang cepat hari ini. Ingat pesan Mamah, nanti malam ambil uangnya pelan-pelan.”

Lihat selengkapnya