Malam telah larut ketika hujan deras yang mengguyur sejak sore perlahan mereda, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di dalam kamar belakang, Alwi masih terjaga. Ia berbaring telentang di samping Melati yang sudah tertidur lelap karena kelelahan. Sepasang mata Alwi menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara telinganya tetap awas mendengarkan setiap detak dan derit dari rumah tua ini.
Sekitar pukul satu dini hari, pendengaran Alwi menangkap suara langkah kaki di dekat dinding luar halaman belakang. Langkah kaki itu ragu-ragu, bergesek dengan rumput liar yang basah. Alwi seketika menegakkan tubuhnya. Ia tahu betul siapa yang datang. Itu adalah jam kunjung yang dijanjikan Ratih dalam teleponnya tadi sore. Romi Saputra, si anak emas, datang untuk mengambil upeti hasil memeras keringat adiknya sendiri.
Alwi menyibak selimut tipisnya perlahan agar tidak membangunkan Melati. Dengan gerakan yang sangat halus, ia turun dari kasur lantai dan melangkah keluar kamar tanpa alas kaki. Lorong tengah rumah begitu gelap dan dingin, namun Alwi sudah menghafal setiap sudut lantai semen yang retak agar langkahnya tidak menimbulkan bunyi.
Ia berjalan mendekati kamar depan, bermaksud menyaksikan sendiri puncak dari sandiwara menjijikkan ini. Namun, setibanya di dekat tirai pembatas, Alwi menyadari bahwa Romi ternyata tidak mengambil uang itu lewat jendela luar. Pintu belakang rumah yang lapuk tampaknya sengaja tidak dikunci oleh Ratih, sehingga bajingan itu kini sudah berada di dalam kamar, duduk di tepi kasur ibunya.
Alwi mematung di kegelapan lorong, tepat di balik bayang-bayang lemari tua. Kamar Ratih hanya diterangi oleh lampu teplok kecil yang temaram, memantulkan siluet dua orang yang sedang saling berbisik.
“Ini, Rom... ambil cepat. Masukkan ke dalam saku jaketmu,” bisik Ratih, suaranya parau namun sarat akan kecemasan yang teramat sangat. Tangannya yang gemetar menyerahkan bungkusan plastik berisi uang tujuh ratus lima puluh ribu yang sempat diinjak Alwi sore tadi.
Romi menyambar bungkusan itu dengan cepat, menghitung lembarannya sekilas di bawah cahaya teplok yang bergoyang. Bukannya berterima kasih, wajah Romi yang tampak kusam dan dipenuhi lingkaran hitam di bawah matanya justru berkerut masai.
“Cuma segini, Mah?” keluh Romi dengan nada kesal yang tertahan, seolah uang itu adalah hak yang jumlahnya kurang. “Hutang Romi di bandar judi itu lima juta, Mah! Kalau besok Romi Cuma bayar segini, mereka tetap akan menyita motor Romi. Malah bisa-bisa Romi digebuki di pasar!”
Ratih seketika panik mendengar gertakan anak sulungnya. Ia memegang lengan Romi dengan kedua tangannya yang kurus kering. “Aduh, Rom... jangan bicara begitu, jantung Mamah tidak kuat. Ini saja Mamah sudah setengah mati mengumpulkannya dari uang obat yang diberikan Alwi. Alwi tadi sore mengamuk sampai menendang pintu kamar karena tahu Mamah menyimpan uang ini untukmu. Dia sudah melarang Mamah memberikan uang lagi kepadamu.”