Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #9

Adil?

Matahari siang menyengat tanpa ampun, memanaskan tumpukan pasir dan material semen di area proyek pembangunan ruko di pinggir kota. Alwi duduk di atas sebatang kayu jati gelondongan yang teduh di bawah pohon. Peluh bercucuran dari pelipisnya, membasahi kaos oblongnya yang abu-abu kekuningan akibat debu proyek. Di tangan kanannya, ada sebotol air mineral dingin yang permukaannya sudah berembun, sementara pandangannya menatap lurus ke seberang jalan raya yang ramai.

"Nih, makan dulu. Jangan ngelamun terus, kesamben tahu rasa kamu, Wi," sebuah bungkusan nasi rames berbalut daun pisang disodorkan ke depan wajah Alwi.

Alwi mendongak. Miftah Kusuma, sahabatnya sejak zaman seragam putih-biru, sudah berdiri di sana dengan senyum khasnya yang lelah namun tetap berusaha terlihat jenaka. Miftah adalah satu dari sedikit orang yang tahu persis bagaimana rapuhnya fondasi hidup Alwi, karena laki-laki itu jugalah yang selalu menemaninya pulang dengan tubuh penuh lebam belasan tahun yang lalu.

Alwi menerima bungkusan nasi itu, lalu membukanya perlahan. "Makasih, Mif. Aku cuma lagi mikir."

Miftah ikut duduk di samping Alwi, membuka bungkusan nasinya sendiri dengan lahap. "Mikirin rumah lagi? Gimana kondisi Mamah Ratih? Masih sering nanyain si Romi?"

Mendengar nama kakaknya disebut, Alwi menghentikan suapannya. Gerakan tangannya menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia mendengus getir. "Tadi malam Romi datang. Mengambil uang tujuh ratus lima puluh ribu yang dikumpulkan Mamah dari memotong jatah obatnya. Tidak puas dengan uang itu, dia bahkan merampas cincin nikah Mamah untuk digadaikan, dan Mamah? Dia memberikannya sambil menangis, bilang kalau Romi adalah separuh jiwanya."

Miftah menghentikan kunyahannya, menoleh ke arah Alwi dengan tatapan penuh rasa iba yang mendalam. "Gila... si Romi benar-benar biadab. Terus kamu diam aja, Wi?"

"Lalu aku harus gimana, Mif?" Alwi menatap Miftah dengan sepasang mata yang begitu kosong, seolah seluruh energi kehidupannya telah terkuras habis tanpa sisa.

"Aku sudah melarangnya sore hari, aku sampai membanting pintu kamar karena muak dengan sandiwara manis Mamah. Tapi kalau ibunya sendiri yang memaksa untuk dihancurkan oleh anak emasnya, buat apa aku repot-repot menjadi pahlawan?”

Miftah menghela napas panjang, bersandar pada pilar beton di belakang mereka. Ia menepuk-nepuk bahu Alwi dengan pelan. "Hidup ini benar-benar tidak ada adil-adilnya ya, Wi. Dari dulu sampai sekarang, kamu yang selalu berjuang benar, malah kamu yang selalu diposisikan sebagai pihak yang salah."

Kata adil yang keluar dari mulut Miftah seketika memicu sebuah tombol rahasia di dalam ingatan Alwi. Pandangan matanya yang lurus ke seberang jalan mendadak terpaku pada sebuah jajaran ruko dua lantai yang baru saja diresmikan sebulan lalu. Di papan namanya tertulis besar-besar: "Surya Jaya Motor - Cabang ke-3".

Lihat selengkapnya