Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #10

Bapak

Matahari sore baru saja tergelincir di ufuk barat, menyisakan semburat warna jingga keunguan yang tampak mati di langit langit teras rumah. Alwi duduk di bangku kayu panjang yang paku-pakunya sudah mulai berkarat, membersihkan sisa serutan kayu jati dari sela-sela jemari tangannya yang kapalan. Tatapannya tertuju pada sebuah kursi rotan tua yang diletakkan di sudut teras.

Kursi itu sudah bertahun-tahun kosong, dibiarkan berdebu tanpa ada satu pun orang di rumah ini yang berniat mendudukinya kembali. Namun bagi Alwi, setiap kali matanya tidak sengaja melirik kursi rotan tersebut, siluet tubuh seorang laki-laki berbadan tegap dengan aroma asap rokok kretek yang pekat seolah kembali tercetak jelas di sana.

Rudi Saputra. Bapaknya.

Sepanjang dua puluh jam dalam sehari, jika Alwi mencoba mengingat kembali lembar demi lembar kenangan masa kecilnya, ia tidak pernah sekali pun menemukan jawaban atas satu pertanyaan besar yang mengganjal di hatinya, kenapa bapak begitu membencinya?

Sejak Alwi bisa mengingat dunia, sorot mata Rudi yang tertuju padanya selalu berbeda dengan sorot mata yang diberikan kepada Romi. Jika menatap Romi, sepasang mata bapaknya yang tegas itu akan melunak, memancarkan rasa bangga dan kepemilikan yang utuh sebagai seorang kepala keluarga. Namun, begitu pandangan itu bergeser ke arah Alwi, sepasang mata itu seketika berubah menjadi sedingin es, penuh dengan kilatan ketidaksukaan, kejengkelan, dan penolakan yang murni tanpa alasan yang jelas.

Alwi tumbuh dalam ketidakpahaman yang menyiksa. Baginya, berkomunikasi dengan bapaknya adalah sebuah kemewahan yang tidak pernah sanggup ia beli. Jangankan duduk berdua, membicarakan masa depan atau sekedar ditanya bagaimana hasil belajarnya di sekolah, untuk mendengar bapaknya memanggil namanya tanpa nada bentakan saja adalah hal yang mustahil. Hubungan mereka hanya sebatas instruksi satu arah yang mutlak dan tidak boleh dibantah.

"Alwi! Ambilkan arit di dapur!"

"Alwi! Belikan rokok ke warung depan!"

Dan neraka yang sesungguhnya akan tercipta jika Alwi terlambat semenit saja dalam menuntaskan perintah perintah itu. Alwi ingat betul kejadian saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sore itu, ia sedang asyik membantu gurunya merapikan buku di perpustakaan sekolah hingga terlambat pulang sekitar tiga puluh menit dari jam biasanya. Begitu kakinya yang kecil melangkah melewati ambang pintu pagar, sepotong kayu berukuran dua jari sudah menunggu di tangan bapaknya.

Lihat selengkapnya