Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #11

Anugerah Terindah

Malam kian merayap tua ketika rintik hujan sisa sore tadi menyisakan udara sedingin es yang merembes masuk lewat celah-celah ventilasi kayu kamar belakang. Di atas kasur lantai yang tipis, Alwi duduk bersandar pada dinding semen yang lembap. Kamar itu hanya diterangi oleh sebuah lampu bohlam lima watt berkekuatan rendah yang menggantung di tengah ruangan, menciptakan siluet temaram yang membungkus keheningan di antara dirinya dan Melati.

Di hadapannya, Melati duduk bersimpuh. Kedua tangan istrinya itu tampak gemetar hebat, menyembunyikan sesuatu di balik lipatan daster batiknya yang sudah pudar warnanya. Wajah Melati tampak pias, namun sepasang matanya yang bulat merona oleh binar yang belum pernah Alwi lihat sebelumnya, sebuah kombinasi antara rasa takut, haru, dan kebahagiaan yang teramat membuncah.

"Mas..." suara Melati memecah kesunyian, nyaris berbisik bagai desau angin malam.

Alwi menghentikan gerakan tangannya yang sedang memijat betisnya yang pegal setelah seharian mengangkat balok jati di proyek. Ia menatap wajah istrinya dengan dahi berkerut halus. "Iya, Mel? Ada apa? Kamu sakit? Wajahmu pucat sekali."

Melati tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan gemuruh di dalam dadanya. Perlahan, ia mengeluarkan sepotong benda plastik pipih berukuran jari telunjuk dari balik lipatan kain dasternya, lalu meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas telapak tangan Alwi yang kasar dan kapalan.

"Ini, Mas... tadi sore aku iseng memeriksa ke kamar mandi puskesmas setelah mengantar Mamah berobat," cicit Melati, matanya seketika berkaca-kaca, menatap lurus ke dalam manik mata Alwi.

Alwi menundukkan kepalanya, mengarahkan benda plastik itu tepat di bawah sorot lampu bohlam yang remang. Di sana, di atas permukaan alat tes kehamilan itu, terukir dua garis merah yang tegas. Dua garis sejajar berwarna merah muda pekat, tanpa ada keraguan atau keburaman sedikit pun di antaranya.

Jantung Alwi seketika berdetak begitu kencang. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak lemas, seolah-olah semen dan kayu yang ia panggul seharian beralih membebani dadanya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, mengusap permukaan plastik itu dengan ibu jarinya yang kotor oleh sisa pelitur, memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang menipunya di tengah kelelahan yang mendera.

Dua garis merah. Positif.

Satu tahun. Tepat satu tahun usia pernikahan mereka dilewati di bawah atap rumah lapuk ini. Satu tahun yang dipenuhi oleh caci maki bapak sebelum meninggal, manipulasi Ratih yang tak pernah usai, penindasan Romi yang merampas ketenangan, serta cibiran tetangga kampung yang memandang Alwi sebelah mata karena hanya bekerja sebagai buruh kasar berdebu. Sepanjang satu tahun itu, Melati dengan setia berdiri di sampingnya, menahan lapar saat proyek sepi, menyeka keringat di punggung Alwi tanpa pernah mengeluh satu patah kata pun.

Lihat selengkapnya