Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #12

Semangat Baru

Bunyi nyaring jam weker jadul di atas meja kayu kecil berdering tepat pukul lima pagi, memecah keheningan fajar yang masih berselimut kabut tebal. Biasanya, suara itu menjadi awal dari helaan napas berat Alwi sebelum menghadapi kenyataan hidup yang melelahkan. Namun pagi ini, ada yang berbeda. Begitu kelopak matanya terbuka, tidak ada lagi rasa enggan atau beban berat yang biasa menggelayuti pundaknya. Sebaliknya, seulas senyum tipis langsung terukir di bibirnya yang kering.

Alwi menoleh ke samping. Melati masih meringkuk di balik selimut lurik mereka, napasnya teratur dan wajahnya tampak begitu damai dalam kehamilan mudanya. Alwi mengulurkan tangan, mengusap pucuk kepala istrinya dengan sangat perlahan agar tidak mengusik tidurnya. Pandangannya kemudian turun ke arah perut Melati yang masih rata. Di dalam sana, sebuah kehidupan baru sedang bertunas.

“Aku akan jadi ayah,” bisik Alwi dalam hati, dan kalimat pendek itu seketika mengirimkan sengatan energi yang luar biasa ke seluruh aliran darahnya. Rasa lelah yang biasanya masih tersisa di persendiannya menguap begitu saja, digantikan oleh kobaran semangat yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.

Laki-laki jangkung itu bangkit dari kasur tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Setelah membersihkan diri dan menunaikan ibadah subuh, Alwi langsung melangkah ke dapur. Ia sengaja tidak membangunkan Melati agar istrinya yang sedang berbadan dua itu bisa beristirahat lebih lama. Dengan gerakan yang cekatan, Alwi menyalakan kompor, memasak air, dan menanak nasi seadanya. Tangannya yang kasar kini bergerak dengan penuh kehati-hatian dan ketulusan. Mulai hari ini, setiap hal kecil yang ia lakukan di rumah ini didorong oleh satu tujuan baru yang teramat megah, menjaga malaikat kecilnya yang sedang tumbuh.

Sebelum matahari sepenuhnya menampakkan diri di ufuk timur, Alwi sudah siap dengan pakaian kerjanya. Ia menyandangkan tas kain berisi peralatan pertukangannya di bahu kanan. Berat tas itu tidak berubah, masih berisi gergaji, martil, pahat, dan meteran besi yang berat. Namun anehnya, pagi ini tas itu terasa seringan kapas di pundaknya.

Saat Alwi melangkah melewati ruang tengah hendak menuju pintu depan, tirai kamar Ratih menyembul sedikit. Ibunya melongokkan kepala dengan wajah keriput yang tampak muram, mungkin masih memikirkan cincin nikah yang ia serahkan pada Romi beberapa malam lalu. Ratih menatap Alwi dengan tatapan memelas, seolah mencoba mencari celah untuk kembali memanipulasi perasaan anak bungsunya.

"Alwi... kamu sudah mau berangkat? Belum makan?" suara Ratih terdengar serak dan lemah, sengaja dibuat-buat agar memancing rasa iba.

Alwi menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap ibunya dengan ekspresi yang datar, namun tidak ada lagi kilatan amarah yang meledak-ledak seperti beberapa hari lalu. Dinding es di dalam dada Alwi kini telah mengeras dengan sempurna. Kabar kehamilan Melati telah memberinya sebuah perisai pelindung yang luar biasa.

"Ya. Nasi dan lauk sudah saya siapkan di meja dapur. Melati masih tidur, jangan diganggu," sahut Alwi dingin tanpa intonasi, lalu langsung berbalik dan membuka pintu depan tanpa menunggu jawaban ibunya.

Lihat selengkapnya