Langit sore itu bergumpal kelam, sewarna dengan jelaga yang mengendap di cerobong asap pabrik-pabrik tua di pinggir kota. Angin kencang berembus liar, menerbangkan debu-debu jalanan dan merontokkan daun-daun kering dari pohon tempat Alwi biasa beristirahat. Alwi melangkah turun dari angkutan desa dengan senyum yang masih tersisa di sudut bibirnya. Tangannya mendekap erat sebuah kantong plastik hitam berisi setengah kilogram kelengkeng manis kesukaan Melati, yang sengaja ia beli dari sisa uang upah hariannya setelah disisihkan untuk tabungan bersalin.
Satu hari penuh memeras keringat di bawah terik matahari tidak membuat langkah kaki Alwi goyah. Jiwanya masih membumbung tinggi, dipenuhi oleh bayangan masa depan yang cerah bersama calon buah hatinya. Ia membayangkan bagaimana mata Melati akan berbinar ketika melihat buah kelengkeng itu, dan bagaimana istrinya akan tersenyum menyambutnya di ambang pintu seperti biasa.
Namun, semakin ia mendekati pekarangan rumah tua peninggalan bapaknya, perasaan Alwi mendadak berdesir aneh. Atmosfer di sekitar rumahnya terasa begitu mencekam, lebih dingin dari biasanya.
Di depan pintu pagar bambu yang sudah reyot, berdiri sebuah sepeda motor besar yang tampak asing. Dua orang laki-laki berbadan tegap dengan pakaian rapi berkemeja batik dan celana kain hitam sedang berdiri di teras rumah. Salah satu dari mereka memegang sebuah map jinjing kulit berwarna cokelat tua, sementara yang lain sedang sibuk memotret fasad depan rumah Alwi menggunakan ponsel pintarnya.
Jantung Alwi seketika berdegup kencang, memberikan sinyal bahaya yang langsung menaikkan bulu kuduknya. Senyum di wajahnya lenyap seketika. Ia mempercepat langkah kakinya, mengabaikan plastik kelengkeng yang kini berayun kencang di tangannya.
"Selamat sore. Ada keperluan apa ya di rumah saya?" suara Alwi terdengar berat dan tegas, menginterupsi aktivitas kedua pria asing tersebut.
Kedua laki-laki itu menoleh. Pria yang memegang map jinjing menatap Alwi dari atas ke bawah, memperhatikan kaos oblong penuh noda pelitur dan tas kain pertukangan yang disandang Alwi, sebelum akhirnya memasang senyum formal yang dingin.
"Selamat sore. Apakah betul ini dengan Saudara Alwi Wijaya, anak bungsu dari almarhum Bapak Rudi Saputra?" tanya pria bermap cokelat itu dengan nada suara yang teramat tenang, namun justru terdengar mengerikan di telinga Alwi.
"Benar. Saya Alwi. Ada apa?" Alwi maju selangkah, menaruh tas peralatannya di atas bangku kayu teras dengan hentakan pelan, mencoba menahan gemuruh di dalam dadanya.
Pria itu membuka map kulitnya, mengeluarkan selembar kertas putih tebal berlogo sebuah lembaga keuangan mikro swasta terkemuka di kota mereka. "Perkenalkan, saya Yudha dari bagian penanganan aset bermasalah. Kami datang ke sini untuk melakukan verifikasi lapangan sekaligus penempelan stiker sita jaminan, Mas. Karena dokumen jaminan atas nama Bapak Rudi Saputra yang diajukan oleh Saudara Romi Saputra sudah dinyatakan gagal bayar atau wanprestasi selama tiga bulan berturut-turut."
Blegar!
Kata-kata itu menghantam kesadaran Alwi bagai sambaran petir di siang bolong, menghancurkan seluruh dinding kebahagiaan yang baru saja ia bangun dengan susah payah sejak tadi malam. Dunianya mendadak runtuh, berantakan menjadi kepingan-kepingan tajam yang langsung menusuk jantungnya hingga berdarah. Kepalanya berdenyut hebat, pandangannya sempat mengabur selama beberapa detik.
"Sita jaminan? Dokumen apa maksud Anda?!" Alwi merebut kertas itu dari tangan pria bernama Yudha dengan sentakan kasar. Sepasang matanya bergerak liar, membaca baris demi baris tulisan di atas kertas tersebut.
Di sana, tercetak jelas foto sertifikat tanah dan bangunan rumah yang selama ini mereka tinggali, dan yang membuat darah Alwi mendadak mendidih hingga ke ubun-ubun adalah nama yang tertera sebagai pemohon pinjaman, Romi Saputra. Lengkap dengan tanda tangan Romi, serta sebuah surat kuasa mutlak yang dibubuhi tanda tangan di atas meterai oleh... Ratih Rahayu. Ibunya sendiri.
Pinjaman sebesar tujuh puluh lima juta rupiah, dengan jaminan sertifikat rumah tunggal keluarga mereka, dan uang itu sudah dicairkan sejak empat bulan yang lalu.