Malam itu, langit seolah ikut mengutuk isi rumah tua peninggalan Rudi Saputra. Gerimis tipis sisa badai sore tadi menyisakan udara lembap yang menusuk-nusuk permukaan kulit. Di dalam kamar belakang yang sempit, Alwi duduk di tepi kasur dengan kedua tangan menangkup wajahnya sendiri. Senter kecil di atas lemari menjadi satu-satunya sumber cahaya, memantulkan bayangan tubuh jangkungnya yang tampak bungkuk didera beban yang teramat raksasa.
Di sampingnya, Melati duduk dengan mata yang membengkak merah. Kantong plastik berisi buah kelengkeng yang Alwi bawa sore tadi masih tergeletak utuh di sudut ruangan, tak tersentuh sama sekali. Nafsu makan mereka telah lenyap, menguap bersama dengan stiker segel sita jaminan yang kini tertempel angkuh di kaca jendela depan.
"Seratus juta, Mel..." suara Alwi keluar dari sela-sela jarinya, terdengar begitu parau dan bergetar hebat. "Petugas tadi bilang, tujuh puluh lima juta itu hutang pokoknya. Dua puluh lima jutanya lagi adalah bunga dan denda keterlambatan yang menumpuk selama ini karena Romi tidak pernah membayar sepeser pun. Seratus juta dalam tujuh hari. Dari mana aku bisa dapat uang sebesar itu?"
Melati tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa mengusap punggung suaminya dengan tangan yang gemetar, sesekali menyeka air mata yang kembali luruh membasahi pipinya yang pias. Angka itu terlalu tidak masuk akal bagi mereka yang hidup dari upah harian proyek bangunan. Seratus juta bagi seorang kuli pertukangan seperti Alwi bagaikan perintah untuk memindahkan sebuah gunung dengan tangan kosong dalam waktu satu minggu.
Keesokan paginya, Alwi tidak lagi pergi ke lokasi proyek untuk memegang gergaji atau memaku papan cor. Dengan sisa-sisa harapan yang mulai menipis, ia melangkah menyusuri jalanan kota demi mencari pinjaman uang ke sana-kemari. Langkah kakinya membawa Alwi mendatangi beberapa kerabat jauh bapaknya, orang-orang terpandang di kampung yang dulu sering menyapa Rudi saat masih hidup.
Namun, kenyataan dunia kembali menampar wajah Alwi tanpa ampun. Begitu mendengar nominal yang disebutkan Alwi, serta mengetahui bahwa uang itu digunakan untuk menebus sertifikat rumah yang digadaikan oleh Romi, wajah para kerabat itu seketika berubah dingin.
"Aduh, Wi... kalau sepuluh puluh ribu atau dua ratus ribu untuk beli beras, paman bisa bantu," ucap salah seorang sepupu bapaknya sambil menyeruput kopi di teras rumahnya yang mewah. "Tapi kalau seratus juta untuk menutupi kelakuan kakakmu si Romi itu, maaf sekali, paman tidak berani. Semua orang di desa ini tahu Romi itu babu judi. Kalau paman pinjamkan uang sekarang, sama saja paman membuang uang ke dalam got. Lagi pula, ibumu sendiri yang menandatangani surat kuasanya, kan? Berarti keluarga kalian memang sudah sepakat."
Kalimat demi kalimat penolakan yang Alwi terima di sepanjang jalan terasa bagai tetesan asam yang membakar lukanya yang belum kering. Setiap orang memandangnya dengan tatapan kasihan yang bercampur dengan penghinaan terselubung. Di mata orang-orang, Alwi disamakan dengan Romi bagian dari silsilah keluarga Rudi yang sudah rusak dan tidak layak untuk dipercaya lagi.
Tepat jam dua siang, dengan tubuh yang lunglai dan tenggorokan yang kering karena belum menyentuh air sejak pagi, Alwi terduduk di sebuah warung kopi pinggir jalan dekat area proyek. Tak lama kemudian, Miftah datang menghampirinya setelah menyelesaikan giliran kerja sif pertamanya. Miftah meletakkan segelas es teh manis di depan Alwi, lalu ikut duduk di bangku panjang kayu yang reyot.