Enam hari berlalu bagai kedipan mata yang menyiksa. Setiap detik yang berdetak di jam dinding rumah lapuk itu terdengar seperti langkah kaki algojo yang semakin mendekat ke leher Alwi. Pagi ini adalah batas akhir. Besok pagi, petugas dari lembaga keuangan itu akan datang membawa truk kosong, buruh angkut, dan mungkin aparat desa untuk mengosongkan rumah mereka secara paksa. Stiker segel di jendela depan seolah menjelma menjadi hantu yang menertawakan ketidakberdayaan Alwi setiap kali ia melangkah keluar rumah.
Alwi sudah berada di titik nadir. Sepanjang malam ia tidak bisa memejamkan mata, hanya bisa menatap wajah Melati yang tertidur gelisah sambil terus mengusap perut mudanya dalam mimpi buruk. Alwi sudah mendatangi setiap koperasi, setiap juragan material, bahkan berniat menjual seluruh peralatan pertukangan pusaka peninggalan kakeknya, namun uang yang terkumpul bahkan tidak cukup untuk membayar denda satu bulan.
Dunia telah menutup seluruh pintunya rapat-rapat untuk Alwi. Dan kini, hanya ada satu pintu gerbang besi yang tersisa di hadapannya. Pintu gerbang menuju neraka masa lalunya.
"Wi... kalau kamu belum siap, kita bisa balik kanan sekarang," bisik Miftah, membuyarkan lamunan Alwi.
Mereka berdua sedang berdiri di trotoar seberang jalan, tepat di hadapan ruko megah dua lantai bercat abu-abu dan merah menyala. Papan nama "Surya Jaya Motor" terpampang dengan angkuh di atasnya, berkilau diterpa matahari pagi. Beberapa montir berseragam rapi sedang sibuk membongkar mesin sepeda motor besar, sementara deretan motor matic keluaran terbaru berjejer rapi di ruang berkaca tebal.
Alwi menarik napas panjang, membiarkan udara pagi yang panas membakar tenggorokannya. Telapak tangannya terasa sangat dingin dan basah oleh keringat. Di dalam dadanya, harga diri Alwi sedang meronta, menjerit, dan memaki dirinya sendiri sebagai seorang pengecut yang tidak punya pendirian. Namun, ingatan tentang wajah pucat Melati dan janji sucinya untuk calon anaknya memaksa kaki Alwi untuk tetap berpijak di atas aspal.
"Tidak, Mif. Kita masuk sekarang. Aku... tidak punya cara lain lagi," ucap Alwi, suaranya terdengar begitu tipis, kering, menandakan kepasrahan yang teramat sangat. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti menelan serpihan kaca tajam.
Miftah menepuk bahu Alwi pelan, memberikan sedikit kekuatan yang tersisa, lalu memimpin jalan menyeberangi jalan raya yang mulai ramai. Langkah kaki Alwi terasa begitu berat, seolah-olah sepasang sepatu bot kerjanya yang kotor telah dicor dengan semen seberat ratusan kilogram.
Begitu mereka melangkah melewati pintu kaca yang sejuk oleh hembusan pendingin ruangan, aroma wangi parfum mahal langsung menyengat indra penciuman Alwi, sangat kontras dengan bau keringat, debu proyek, dan oli yang melekat pada kaos oblong lusuhnya. Seorang pramuniaga wanita menyambut mereka dengan senyum formal, namun matanya sempat melirik sekilas ke arah pakaian Alwi dan Miftah yang berdebu dengan tatapan menilai.
"Mau cari unit apa, Pak? Atau ada yang bisa dibantu?" tanya pramuniaga itu sopan namun berjarak.