Keheningan di dalam ruang kerja ber-AC itu mendadak terasa jauh lebih pekat dan mencekam. Miftah yang duduk di samping Alwi ikut mematung, merasakan perubahan atmosfer yang sangat drastis. Surya menyandarkan punggungnya pada kursi kulitnya, menatap langit-langit ruangan sejenak sebelum mengembuskan napas panjang yang amat berat.
"Pertama-tama... aku mau minta maaf, Wi," suara Surya terdengar begitu rendah, tanpa ada sisa keangkuhan sedikit pun. "Atas semua perlakuan burukku padamu sewaktu kita SMP dulu. Pukulan, makian, dan rasa takut yang kubuat di hidupmu... aku benar-benar minta maaf. Dulu aku sangat kekanak-kanakan, Frustrasi, dan melampiaskan kemarahanku pada orang yang sama sekali tidak bersalah."
Alwi terpaku. Lidahnya yang baru saja melunak kembali kelu. Ia menatap Surya dengan kerutan mendalam di dahinya. Rasa heran bertumpuk di dalam kepalanya. Mengapa seorang Surya Wijaya anak orang terpandang yang sukses harus merasa sangat frustrasi hingga membencinya sedemikian rupa?
"Kenapa, Mas?" tanya Alwi, suaranya pelan namun tegas. "Kenapa dulu kamu begitu benci padaku? Apa salahku?"
Surya tersenyum getir, seulas senyuman yang dipenuhi rasa pahit dari masa lalu. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Alwi. "Kamu tidak punya salah apa-apa, Wi. Dulu aku membencimu... hanya karena aku tidak bisa menerima kenyataan pahit bahwa kamu adalah adikku sendiri."
Brak!
Kata-kata itu menghantam ruangan bagaikan ledakan bom yang tak kasat mata. Miftah sampai tersentak kaget dari duduknya, sementara Alwi merasa seolah seluruh oksigen di dalam ruangan itu mendadak dihisap habis. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur, kepalanya berdenyut hebat.
"A-apa... apa maksudmu, Mas?" Alwi terbelalak, suaranya bergetar hebat. "Adik? Jangan becanda!"