Dinding-dinding kaca di ruangan ber-AC itu mendadak seolah menghimpit dada Alwi, menyedot habis seluruh udara hingga napasnya terasa sangat sesak. Alwi membeku, duduk terpaku di atas sofa kulit yang empuk dengan jemari yang mencengkeram erat lembaran cek di tangannya. Matanya menatap kosong ke arah meja kayu mahal di hadapannya. Kata-kata Surya bergema berulang-ulang di dalam kepalanya bagaikan dentang lonceng raksasa yang meretakkan seluruh dinding kesadarannya.
“Kamu adalah adikku... Anak Ratih dari perselingkuhannya dengan bapakku...”
Setiap kata dari rahasia kelam itu merembes masuk ke dalam benaknya, memicu pusaran ingatan masa lalu yang menari-nari liar di depan matanya. Seketika, potongan-potongan teka-teki hidupnya yang selama belasan tahun ini terasa ganjil, menyakitkan, dan tak masuk akal, mendadak tersusun rapi menjadi sebuah lukisan kenyataan yang teramat mengerikan.
Laki-laki jangkung itu memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan dadanya bergemuruh hebat didera badai emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa tidak percaya, syok, terhina, dan kepahitan yang teramat dalam berkecamuk menjadi satu, meremukkan hatinya hingga menjadi serbuk tak berharga.
Sekarang ia paham. Demi Tuhan, Alwi akhirnya paham semuanya.
Kilasan memori masa kecilnya mendadak berputar kembali bagai film hitam-putih. Ia mengingat kembali raut wajah almarhum Rudi Saputra, pria yang selama ini ia panggil "Bapak" setiap kali menatapnya. Itu bukan sekadar tatapan seorang ayah yang galak atau tegas, melainkan tatapan kebencian yang murni, jijik, dan penuh penolakan dari seorang laki-laki yang dilukai harga dirinya.
Alwi ingat betul bagaimana Rudi selalu mencari-cari alasannya untuk melayangkan pukulan. Hanya karena Alwi menjatuhkan mangkuk, atau sekadar karena Alwi berdiri di dekatnya saat ia pulang dari lapak judi. Dulu, Alwi kecil kerap menangis di balik sudut dapur, meratapi nasibnya dan bertanya-tanya pada langit, dosa apa yang aku perbuat sampai bapak begitu membenciku? Apakah aku anak yang salah lahir? Apakah aku kurang berbakti?
Ternyata, jawabannya begitu simpel namun meremukkan jiwa, bagi Rudi, keberadaan Alwi di dalam rumah itu adalah monumen kekalahan dan kehinaan seumur hidup. Alwi adalah bukti nyata bahwa istrinya, Ratih, telah menyerahkan tubuhnya pada pria lain. Alwi adalah pengingat bahwa Rudi hanyalah seorang laki-laki miskin tak berdaya yang mau menjual harga dirinya, menerima uang tutup mulut demi merelakan istrinya mengandung darah daging pria lain.
Setiap kali Rudi menatap wajah Alwi yang semakin dewasa, dan memiliki gurat-gurat kemiripan dengan Hendra Wijaya, luka terhina di dada Rudi kembali berdarah. Dan untuk membalas rasa terhina itu, Rudi melampiaskannya dengan menjadikan Alwi sebagai samsak bernyawa.
"Wi... kamu tidak apa-apa?" suara Miftah terdengar begitu jauh dan samar di telinga Alwi. Tangan Miftah yang meremas bahunya sama sekali tak sanggup mengurangi hawa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya.