Langkah kaki Alwi menyapu jalanan berdebu dengan kecepatan yang hampir menyerupai lari kecil. Angin siang yang membakar kulit tak ia rasa, bahkan rasa lelah yang mengendap di otot-otot tubuhnya hilang tersapu oleh gelombang amarah dan kepahitan yang bergulung-gulung di dalam dadanya. Di genggaman tangan kanannya, selembar cek tergenggam begitu erat hingga pinggirannya sedikit remuk. Di sampingnya, Miftah setengah berlari menyamai langkahnya, sesekali menatap Alwi dengan tatapan cemas yang tak tersembunyi.
Alwi tak langsung pergi ke bank untuk mencairkan uang itu. Ada satu hal yang jauh lebih mendesak, satu bisul busuk dari masa lalu yang harus ia pecahkan hari ini juga sebelum ia bisa bernapas dengan tenang.
"Wi, tenang dulu, Wi... Jangan pakai emosi buta," Miftah mencoba menahan lengan Alwi saat mereka mulai memasuki gang menuju pekarangan rumah tua itu.
"Aku tenang, Mif. Aku sangat tenang," suara Alwi keluar begitu dingin, hampir tanpa nada. Namun sepasang matanya menyala merah, memancarkan aura perseteruan yang teramat pekat.
Begitu melangkahkan kaki melewati pintu pagar bambu yang reyot, Alwi mendapati pintu depan rumah terbuka sedikit. Stiker segel dari lembaga keuangan masih menempel angkuh di kaca jendela. Alwi melangkah masuk melewati ruang tamu yang sepi, menuntun Miftah menuju kamar belakang. Di sana, di atas kasur kapuk tipis berbau tebal minyak angin dan keringat dingin, Ratih terbaring lemah dengan selimut kusam menutupi dadanya. Wajahnya pucat dan layu oleh penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya beberapa bulan terakhir. Di sudut ruangan, Melati sedang duduk diam di kursi kayu sambil meremas jemarinya, tak berani berucap sepatah kata pun.
Brak!
Alwi menendang pintu kamar yang terbongkar separuh itu hingga membentur dinding kayu dengan keras. Suara dentuman itu membuat Ratih yang tadinya memejamkan mata seketika tersentak kaget. Ia terbatuk-batuk kecil sambil mencoba mendudukkan tubuhnya yang lemah di atas kasur, bersandar pada bantal yang sudah kempis.
"Alwi! Kamu ini apa-apaan datang-datang pakai banting pintu?!" semprot Ratih dengan suara seraknya yang parau dan lemah, namun tetap mencoba memasang nada tinggi untuk menutupi kesalahan. "Kamu tidak lihat Mamah lagi sakit begini?! Bukannya bawa uang atau cari obat untuk Mamah, malah bikin rumah semakin panas!"
Alwi berdiri tegak di samping kasur tempat Ratih terbaring, dadanya naik turun memburu. Ia tidak melayangkan pukulan, tidak pula melempar barang. Namun cara Alwi menatap Ratih dengan tatapan tajam, asing, dan penuh rasa jijik membuat Ratih yang berada di atas kasur itu perlahan-lahan menghentikan omelannya. l
"Di mana Romi?" tanya Alwi, suaranya sangat rendah, namun sanggup menggetarkan kamar yang sempit itu.
"Kakakmu... Romi sedang berusaha cari jalan keluar di luar! Jangan ganggu dia!" jawab Ratih cepat dari balik selimutnya, kembali memainkan peran sebagai ibu yang malang dan terzalimi.
"Bohong," potong Alwi tajam. "Bajingan itu sedang bersembunyi dari debt collector, dan Mamah yang terbaring sakit di sini masih saja melindungi bangkai yang sudah membusuk itu."
"Alwi! Jaga mulutmu! Dia kakak kandungmu!" jerit Ratih histeris sambil memegangi dadanya yang sesak di atas kasur. "Kamu ini anak tidak tahu untung ya! Mamah yang mempertaruhkan nyawa melahirkanmu, membesarkanmu, tapi mulutmu seperti tidak berpendidikan!"
Alwi tertawa. Sebuah tawa sumbang, kering, dan sangat menyakitkan yang membuat Melati di sudut ruangan sampai mengusap dadanya karena ketakutan.