Kabar burung di sebuah desa kecil selalu terbang lebih cepat daripada angin. Hanya dalam hitungan jam setelah kepindahan Alwi dan terkuaknya rahasia di rumah tua itu, gunjingan warga mulai menyebar bagaikan api menyambar semak kering. Dari warung kelontong di ujung gang, pos ronda, hingga perkumpulan pengajian ibu-ibu, nama Ratih Rahayu menjadi buah bibir utama. Rahasia kelam puluhan lalu tentang perselingkuhan, status Alwi sebagai anak yang tak diakui, hingga perlakuan semena-mena terhadap Alwi dan istrinya yang tengah hamil, kini terbuka telanjang di depan publik.
Masyarakat desa yang dulunya menaruh iba pada Ratih, seorang janda tua bersuara lembut yang kerap terbaring sakit, kini berbalik arah. Pandangan simpatik berganti menjadi tatapan sinis dan cemoohan tajam. Setiap kali warga melintas di depan pintu pagar rumah tua itu, bisik-bisik miring tak dapat dihindari, menusuk hingga ke dalam dinding-dinding kayu yang mulai lapuk.
Di dalam kamar belakang yang remang-remang, kondisi Ratih turun secara drastis. Tubuhnya yang sudah digerogoti penyakit kini benar-benar drop. Dinding pertahanan mentalnya hancur berkeping-keping. Malu yang luar biasa, digabung dengan rasa bersalah serta tekanan gosip tetangga yang kian liar, membuat daya tahan tubuhnya ambruk berada di titik terendah.
Ratih terbaring lemah di atas kasur kapuknya. Napasnya terdengar memburu dan pendek-pendek, sementara dadanya naik turun dengan payah. Bibirnya yang kering dan pecah-pecah terkadang bergumam tanpa arah, memanggil-manggil nama Alwi dan Romi bergantian dalam ketidaksadarannya. Demam tinggi kembali menyerang, membuat kulit wajahnya yang pucat menjadi terasa begitu panas saat disentuh.
"Bu... Ibu, minum air dulu..." bisik seorang tetangga dekat yang masih menaruh belas kasihan, mencoba menyodorkan sendok berisi air putih ke bibir Ratih.
Namun Ratih hanya menggelengkan kepala secara lemah, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Air mata dingin mengalir dari pelupuk matanya yang terpejam, membasahi bantal kusam yang sudah bau minyak angin. Ia tidak sanggup lagi membuka mata, tak siap membayangkan wajah-wajah orang kampung yang kini menatapnya dengan rasa jijik. Rasa sakit fisik yang menggerogoti tubuhnya kalah jauh dibanding rasa remuk di dalam dadanya. Semua dosa dan kebohongan masa lalu yang ia tanam dengan rapat kini menuai badai yang meruntuhkan seluruh sisa hidupnya.
Sementara itu, tak jauh dari lingkungan rumah tua tersebut, Alwi duduk termenung di teras kontrakan kecil yang baru ia sewa bersama Melati. Di hadapannya, secangkir kopi hitam yang sudah dingin dibiarkan tak tersentuh sejak pagi.
Guncangan jiwa yang dialami Alwi belum juga mereda. Meskipun ia telah mengambil keputusan tegas untuk pergi dan memutus ikatan dari rumah tua itu, kabar mengenai kondisi ibunya yang kian memburuk serta gosip warga yang meledak liar tetap sampai ke telinganya melalui Miftah.