Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #20

Pengakuan

Langit sore di atas desa berganti warna menjadi jingga keabu-abuan yang suram. Di dalam kamar belakang yang remang-remang, aroma minyak angin dan bau obat-obatan terasa kian pekat. Ratih terbaring makin lemah di atas kasur kapuknya. Napasnya pendek dan patah-patah, sementara matanya yang makin cekung menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang berdebu.

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah luar mendadak memecah keheningan. Miftah melangkah masuk dengan napas terengah-engah, disusul oleh Alwi yang berjalan pelan di belakangnya. Miftah membawa kabar baru yang didapatnya dari kantor polisi kecamatan kabar yang akhirnya menjawab ke mana hilangnya Romi selama beberapa hari terakhir ini.

"Bu... Alwi..." panggil Miftah dengan suara tertahan, mencoba mengatur napasnya. "Romi... Romi sudah ditangkap polisi tadi siang di kota."

Ratih yang tadinya memejamkan mata seketika membuka kelopak matanya secara perlahan. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia menggerakkan kepalanya sedikit, menatap Miftah dengan tatapan bertanya yang penuh kecemasan.

"Dia... dia terlibat kasus penipuan sertifikat tanah dan pemakaian narkoba," lanjut Miftah, tak sanggup menyembunyikan kebenaran pahit itu lagi. "Polisi menemukan barang bukti di kontrakan persembunyiannya. Romi resmi dipenjara dan tidak bisa dibebaskan dengan jaminan."

Deg.

Kata-kata itu menghantam kesadaran Ratih bagaikan godam raksasa. Anak emasnya, anak kesayangannya yang selama puluhan tahun ia bela mati-matian, anak yang selalu ia bangga-banggakan di depan warga, kini meringkuk di balik jeruji besi sebagai seorang penipu dan pecandu.

Ratih tidak menjerit histeris seperti biasanya. Tidak ada lagi bentakan atau bantahan kejam yang keluar dari mulutnya. Tubuh tuanya yang terbaring di kasur mendadak meluruh, tampak makin kecil dan tak berdaya. Air mata deras mengalir tanpa suara dari sudut matanya, membasahi bantal kusam yang menopang kepalanya. Hukuman dari langit seolah runtuh bertubi-tubi menghantam wanita tua itu. Benteng kesombongan dan pertahanan ego yang selama ini ia bangun rapat-rapat runtuh total tanpa sisa.

Miftah menepuk bahu Alwi pelan, memberi isyarat untuk memberi ruang, lalu melangkah mundur keluar dari kamar sempit itu. Kini, hanya tersisa Alwi dan Ratih di dalam ruangan yang makin menggelap.

Alwi berdiri kaku di samping kasur. Hatinya yang tadi dipenuhi rasa marah dan kecewa mendadak dihinggapi kepahitan yang aneh saat melihat ibunya terkulai pasrah tanpa daya. Tak ada lagi sosok Ratih yang galak, egois, atau penuh sandiwara. Yang ada di atas kasur itu hanyalah seorang wanita tua yang hancur dipukul oleh hasil perbuatannya sendiri.

"Alwi..." suara Ratih keluar dari tenggorokannya, begitu tipis, parau, dan bergetar hebat.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, suara itu terdengar begitu lembut di telinga Alwi. Tak ada nada tinggi, tak ada nada ancaman, bukan sandiwara dan tak ada kebencian yang biasanya selalu menyertai panggilan itu.

Lihat selengkapnya