Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #21

Kata yang Tertunda

Keheningan yang membungkus kamar sempit itu terasa begitu sakral dan memekakkan telinga. Detak jarum jam dinding tua bergaya kuno yang tergantung di atas pintu menjadi satu-satunya suara yang tersisa, berdetak lambat seolah menghitung sisa-sisa waktu yang merayap pergi. Cahaya lampu gantung lima belas watt yang samar melemparkan bayangan panjang dan kusam di atas semen dingin, menciptakan atmosfer yang teramat kelam.

Alwi masih menggenggam erat telapak tangan Ratih yang kurus, kasar, dan terasa makin dingin dari detik ke detik. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan wanita tua yang terbaring pasrah di atas kasur kapuk itu. Di dalam kepalanya, kata-kata terakhir yang baru saja diucapkan oleh Ratih bergaung berulang-ulang, menembus setiap lekuk ingatan dan dinding kesadarannya yang paling dalam.

“Ibu sayang kamu, Alwi...”

Sayang.

Satu kata yang teramat sederhana. Hanya lima huruf. Namun bagi seorang Alwi, kata itu terasa bagaikan sebuah bahasa asing dari negeri yang tak tersentuh. Sepanjang dua puluh lima tahun ia menginjakkan kaki di atas bumi, menjalani hidup dalam siksaan, cemoohan, rasa terbuang, dan pukulan yang tak bertepi, kata "sayang" dari bibir seorang ibu adalah sebuah misteri yang tak pernah ia temukan jawabannya. Ia tidak pernah mendengarnya sewaktu kecil ketika lututnya berdarah karena jatuh, tidak pernah mendengarnya saat ia membawa pulang uang hasil keringat pertamanya dari lapak bangunan, dan tak pernah membayangkan akan mendengarnya di dalam rumah tua yang penuh dengan kepahitan ini.

Namun malam ini, di bawah remangnya lampu kamar yang kusam, tepat ketika nafas Ratih berada di ambang batas akhir, kata itu akhirnya keluar. Pengakuan tulus bahwa di balik seluruh rasa benci, penderitaan, dan trauma masa lalu yang menyayat hati, Ratih tetap mencintainya sebagai darah dagingnya sendiri.

Dadanya bergemuruh hebat. Sebuah getaran emosi yang belum pernah Alwi rasakan seumur hidupnya mendadak menyeruak, menjalar dari telapak tangannya hingga membakar seluruh rongga dadanya.

"Lega..." bisik Alwi lirih, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam di antara hembusan angin malam yang menerobos lewat celah jendela kayu yang renggang.

Lega. Satu kata yang belum pernah ia kenal selama dua puluh lima tahun hidup di dunia ini. Selama dua dekade lebih, Alwi berjalan menelusuri hidupnya dengan memikul beban raksasa berupa pertanyaan yang tak pernah terjawab, mengapa aku tidak dicintai? Mengapa aku selalu dianggap sebagai kesalahan? Beban itu telah membengkokkan pundaknya, menggores jiwanya, dan membuatnya merasa tidak layak untuk bahagia. Namun dalam satu detik yang singkat, saat kata "sayang" itu diucapkan oleh ibunya, beban raksasa yang mengimpit dadanya selama bertahun-tahun mendadak terangkat habis.

Ternyata ia tidak sepenuhnya dibenci. Ternyata keberadaannya di dunia ini bukan hanya sekadar kecelakaan atau bentuk hukuman. Ibu kandungnya menyayanginya. Rasa lega yang luar biasa dahsyat mengalir memenuhi jiwanya, membasuh seluruh luka memar dan dahaga akan kasih sayang selama puluhan tahun.

Lihat selengkapnya