Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #22

Penyesalan

Dinding beton tebal berselimut cat kusam yang terkelupas mengurung aroma dingin dan lembap di dalam ruang kunjungan Lembaga Pemasyarakatan. Suara riuh gemerisik gesekan rantai, langkah sepatu Laras petugas, serta bisik-bisik lesu dari para tahanan lain mengisi sudut-sudut ruangan berdinding kusam itu. Alwi duduk kaku di atas bangku kayu panjang yang terpaku ke lantai. Di hadapannya, dipisahkan oleh sebuah meja tebal dengan sekat kaca kusam, duduk sosok laki-laki yang dulu begitu ditakuti sekaligus dibencinya.

Romi.

Laki-laki yang dulu selalu tampil necis dengan pakaian mahal hasil memeras Alwi itu kini tampak begitu menyedihkan. Baju tahanan oranye berukuran kebesaran melekat di tubuhnya yang tampak makin kurus. Wajahnya pucat, lingkaran hitam menebal di bawah matanya, dan gurat kebingungan serta kecemasan menghiasi raut mukanya. Lingkaran setan narkoba dan dunia tipu-menipu yang dijalaninya selama bertahun-tahun akhirnya menyeretnya ke balik terali besi ini.

Ketika Romi mendongak dan menatap Alwi dari balik sekat, tak ada lagi binar kesombongan atau tatapan merendahkan yang biasa ia lemparkan di rumah tua dulu, yang tersisa hanyalah tatapan hampa dari seorang pria yang telah kehilangan segalanya.

Alwi menatap anak emas almarhumah ibunya itu dengan pandangan datar. Hatinya tidak lagi bergejolak oleh rasa dendam yang membara, namun juga belum sepenuhnya hampa dari rasa pahit.

"Ada apa lo datang ke sini?" suara Romi keluar dari selang telepon kusam di samping sekat kaca, terdengar parau dan kecil. "Mau menghina gue? Mau pamer karena sekarang lo yang menang dan gue yang masuk penjara?"

Alwi perlahan mengangkat gagang telepon di sisinya, memegang benda plastik dingin itu rapat-rapat di telinganya. Ia menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata Romi.

"Gue datang bukan untuk pamer atau menghina lo, Rom," ucap Alwi, suaranya sangat tenang, dingin, dan tertata. "Gue cuma mau menyampaikan pesan terakhir dari Mamah sebelum beliau meninggal minggu lalu."

Kata meninggal bergaung di dalam ruang kunjungan yang sempit itu. Tubuh Romi seketika membeku. Matanya membelalak lebar menatap Alwi melalui sekat kaca, bibirnya bergetar hebat hingga gagang telepon di tangannya hampir terlepas.

"Ma... Mamah... meninggal?" bisik Romi gagap, suaranya tercekat di tenggorokan. "Lo... lo bercanda, kan?! Mamah cuma sakit biasa! Gara-gara lo, kan?! Lo yang bikin Mamah kepikiran sampai meninggal?!"

"Gue nggak punya waktu untuk bercanda di tempat seperti ini," potong Alwi tajam tanpa terpancing emosi. "Mamah sudah tidak ada. Beliau meninggal setelah mendengar kabar bahwa lo ditangkap karena kasus penipuan dan narkoba. Kondisinya drop parah, dan napas terakhirnya dihembuskan di kasur tua itu."

Romi tertunduk dalam-dalam. Dahinya membentur sekat kaca kusam di hadapannya. Tangannya yang menggenggam gagang telepon gemetar hebat, dan detik berikutnya, bahunya mulai berguncang seiring isak tangis yang pecah tanpa suara. Penyesalan yang terlambat mulai merayap menyerang jiwanya yang kelam.

Alwi menatap pemandangan di hadapannya tanpa ekspresi berlebih. Ia melanjutkan kalimatnya, menyampaikan amanan terakhir yang diamanatkan padanya.

Lihat selengkapnya