Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #23

Maaf

Malam kian melarut ketika Alwi tiba di halaman kontrakan kecilnya. Langkah kakinya yang tadinya berat dan gontai perlahan terhenti di depan pintu kayu bersederhana yang memancarkan pendar cahaya kuning hangat dari dalam. Bau tanah basah disiram gerimis tipis menyambut hidungnya, membawa aroma kedamaian yang teramat kontras dengan badai emosi yang baru saja mengamuk di dalam dadanya sepanjang perjalanan dari Lapas.

Ia berdiri termenung beberapa saat di atas ubin teras yang bersih, membiarkan gerimis tipis membasahi ujung rambutnya. Berhadapan dengan Romi di balik sekat kaca, jeritan penyesalan ibunya di detik-detik terakhir nafasnya, serta bayangan sosok almarhum Rudi yang dulu kerap melayangkan pukulan, menari-nari bergantian di pelupuk matanya.

Alwi menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara malam yang dingin, lalu menghembuskannya secara perlahan.

Semua yang lalu... sudah terjadi, batin Alwi bergema lirih di dalam sudut hatinya yang paling dalam.

Sebuah kesadaran sederhana namun teramat kuat merayap menyelimuti pikirannya. Seberapa keras pun ia menangis hingga air matanya mengering, seberapa banyak pun ia menyesali nasibnya yang malang, dan seberapa tajam pun rasa marah yang ia simpan di dalam dada, takdir tidak akan pernah bisa diubah.

Masa lalu adalah sebuah prasasti yang telah terpahat mati. Rudi telah tiada membawa pergi segala kebenciannya, Ratih telah berpulang bersama penyesalan terbesarnya, dan Romi kini harus membayar seluruh perbuatannya di balik jeruji besi. Mengutuki apa yang telah lewat hanya akan memenjarakan jiwanya sendiri dalam lingkaran neraka yang diciptakan oleh orang lain.

Pintu kontrakan perlahan terbuka. Melati muncul dari balik pintu, menyambut suaminya dengan tatapan hangat yang penuh perhatian. Melihat matanya yang sembap dan wajahnya yang lelah, Melati tidak bertanya apa-apa. Ia hanya tersenyum tipis, meraih tangan kasar Alwi, dan menuntunnya masuk ke dalam ruangan yang rapi dan harum.

"Mas mau minum teh hangat?" bisik Melati lembut sambil mengelus lengan Alwi.

Alwi menggelengkan kepalanya pelan, lalu menarik Melati ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya dengan erat, menyandarkan dagunya di atas kepala Melati, merasakan detak jantung wanita yang selalu berdiri setia di sampingnya saat seluruh dunia membelakanginya. Di dalam pelukan hangat itu, sisa-sisa sesak di dada Alwi perlahan-lahan luruh.

Lihat selengkapnya