Malam itu, hening di dalam kontrakan kecil mereka mendadak pecah oleh erangan pelan yang ditahan. Alwi yang baru saja terlelap seketika terbangun saat merasakan guncangan lembut di lengannya. Di bawah temaram cahaya lampu tidur, Melati meremas sprei dengan jemarinya yang gemetar, peluh dingin bertumpuk di dahinya.
"Mas... perut Melati sakit sekali..." bisik Melati dengan suara yang patah-patah. Tangannya yang sebelah lagi mencengkeram perutnya yang membuncit tebal. "Perut Melati... mulasnya beda dari biasanya, Mas."
Alwi seketika meloncat dari tempat tidur. Rasa kantuk yang tadi menggelayut di kelopak matanya menguap begitu saja, berganti dengan gelombang kepanikan dan kegugupan yang teramat sangat. Ini adalah momen yang telah mereka tunggu-tunggu selama sembilan bulan, namun ketika saat itu benar-benar tiba di depan mata, jantung Alwi berdegup kencang seperti ingin melompat keluar dari dadanya.
"Mel, kamu kuat, ya? Tunggu sebentar!" Alwi memegangi kedua bahu istrinya dengan tangan yang gemetar hebat. "Cairan ketubannya... sudah keluar belum, Mel?"
Melati hanya bisa meringis sambil menggeleng pelan, napasnya diatur pendek-pendek sesuai petunjuk bidan yang pernah mereka kunjungi. Gelombang kontraksi yang makin rapat membuat tubuh Melati berguncang halus.
Tanpa membuang waktu, Alwi menyambar tas kain berisi pakaian bayi dan perlengkapan bersalin yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari di sudut ruangan. Namun, keluar dari rumah di tengah malam yang sepi tanpa kendaraan menjadi hambatan besar. Dalam kondisi darurat dan panik seperti ini, hanya ada satu nama yang terlintas di kepala Alwi untuk dimintai bantuan, Surya.
Dengan jari-jari yang masih gemetar karena gugup, Alwi mengambil ponselnya dan menekan nomor Surya. Hanya butuh tiga kali nada panggil sebelum suara tegas di ujung telepon terdengar.
"Halo, Alwi? Ada apa malam-malam begini?" suara Surya terdengar sigap dari seberang sana.
"Pak Surya... tolong saya, Pak!" Alwi setengah berteriak, tak sanggup menyembunyikan getar ketakutan di suaranya. "Melati mau melahirkan! Kontraksinya makin parah, Pak! Saya bingung harus bawa Melati pakai apa..."
"Tenang, Alwi! Jangan panik," potong Surya cepat dan mantap. "Saya dan sopir langsung jalan ke rumahmu sekarang pakai mobil. Siapkan Melati, lima belas menit lagi saya sampai!"
Sambungan telepon terputus. Alwi bernapas lega, meskipun rasa gugup yang luar biasa masih menjalar di sekujur tubuhnya. Ia berlutut di samping Melati, menyapu keringat dingin di dahi istrinya dengan selimut, lalu membisikkan doa-doa keselamatan di telinga Melati.
Tak sampai lima belas menit, suara deru mesin mobil yang berhenti di depan pintu kontrakan terdengar. Surya bergerak cepat. Bersama sopirnya, ia membantu Alwi memapah Melati yang terus meringis menahan sakit menuju kursi belakang mobil. Tanpa banyak bicara, mobil sedan itu melaju membelah kegelapan malam menuju Rumah Sakit Umum Daerah kota.
Sepanjang perjalanan, Alwi tidak melepaskan genggaman tangannya dari Melati. Ia memangku kepala istrinya, membiarkan jemarinya diremas kuat oleh Melati setiap kali gelombang kontraksi yang hebat datang menyerang.