Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #25

Rumah yang Utuh

Waktu berjalan tanpa pernah meminta izin untuk berhenti. Limabelas tahun telah berlalu sejak malam di mana suara tangis bayi memecah kegelapan ruang persalinan, mengubah air mata penderitaan menjadi benih harapan baru. Momen kelam kini terlipat rapi di lembaran masa lalu.

Di atas bukit kecil dengan pemandangan kota yang menghijau, berdiri sebuah bangunan megah beraksen kayu dan kaca dengan arsitektur modern tropis yang anggun. Cahaya yang luas membuat sinar matahari pagi masuk tanpa hambatan, menerangi setiap sudut ruangan yang lapang, hangat, dan bernapas. Bangunan itu bukan sekadar tempat berteduh, melainkan mahakarya dari seorang laki-laki yang pernah diabaikan oleh dunia.

Alwi Wijaya berdiri di depan sebuah kanvas besar di studio pribadinya yang menghadap langsung ke pekarangan belakang. Di usianya yang kini makin matang, penampilannya memancarkan aura ketenangan, wibawa, dan keberhasilan. Kemeja linen putih yang digulung hingga siku sedikit terkena noda cat minyak warna biru dan jingga. Jemari tangannya yang dulu kasar dan dipenuhi luka memar bekas kerja keras di proyek pertukangan, kini bergerak begitu lihai memegang kuas melukis, menarikan warna-warna kehidupan di atas kanvas kraf.

Siapa sangka? Laki-laki yang puluhan tahun lalu dianggap sebagai "anak sial", ditindas, dan dihina sebagai benalu, kini telah menjelma menjadi seorang arsitek ternama sekaligus pebisnis sukses yang disegani di mana-mana. Perusahaan jasa konstruksi dan desain arsitektur yang didirikannya bersama Miftah dan bimbingan awal dari Surya kini telah berkembang pesat, memiliki cabang di beberapa kota besar. Desain-desain karya Alwi dikenal memiliki "jiwa" karena setiap garis rancangannya selalu mengutamakan kehangatan, kenyamanan, dan rasa aman bagi pemiliknya.

Tak hanya itu, hobi melukis yang dulu hanya bisa ia impikan dan tersembunyi rapat-rapat di tengah himpitan ekonomi, kini tersalurkan sepenuhnya. Lukisan-lukisannya kerap dipajang di galeri ternama, menceritakan tentang transformasi, harapan, dan keikhlasan.

Alwi meletakkan kuasnya di atas meja palet, lalu melangkah menuju jendela kaca besar. Ia menyeruput teh hangatnya sambil menatap ke luar pekarangan.

Di bawah rindangnya pohon, tampak seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun sedang asyik memetik senar gitar akustik. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya bersih, dan matanya berbinar cerah memancarkan kebahagiaan tanpa beban. Dialah Rizki Akbar. Anak laki-laki yang hadirnya dulu menjadi rezeki terbesar dalam hidup Alwi. Rizki tumbuh menjadi anak yang cerdas, sopan, dan penuh prestasi, jauh dari bentakan, rasa takut, atau cemoohan yang dulu mewarnai masa muda ayahnya.

Tak jauh dari Rizki, Melati duduk di bangku taman sambil merajut rajutan benang wol. Usianya memang terus bertambah, namun kecantikan dan kelembutan raut wajahnya tak pernah memudar. Senyumannya tetap menjadi telaga teduh yang menyegarkan jiwa Alwi setiap kali rasa lelah datang menyapa.

Lihat selengkapnya