"Anak-anak perkenalkan dia, Lengkara Adipta, hari ini akan menjadi teman kalian, karena ada keterbatasan, ia mengunakan kursi roda. Tolong, bijak berteman dengan dirinya."
Suasana hening, upacara kembali syahdu, terdengar lantunan lagu rayuan pulau kelapa mengiringi upacara dengan suara merdu paduan suara, dan suara sopran paling nyaring itu adalah aku, Neslaka Jingga.
Pandanganku terpusat pada anak laki-laki yang duduk di tengah lapangan mengunakan kursi roda itu; rodanya ada tiga. Aku tersenyum tipis padanya, ia membalas senyumanku.
Mungkin kita bisa berteman dengan baik pikirku.
Upacara hari senin berakhir di tutup dengan doa, berakhir dengan khidmat. Barisan padus bubar paling akhir, aku berjalan mendekati keyboardis solo itu.
"Van, pitch lu meleset yah?"
"Iya, kok lu tau?" Tanyanya, mata sipit campuran manado-china itu tertawa.
"Lah, nggak tau, cuman ngerasa kek beda aja." Jawabku sekenanya
"Van, sorry gabisa bantu, gua ke kelas dulu yah, nanti sore tetap latihan kan" Ujarku pada anak laki-laki yang sedang merapikan keyboard sekolah untuk di kembalikan ke ruang musik.
"Yoi, nanti ke kelas Aku aja." Ujarnya kemudian, aku berjalan menjauh menuju kelas, sambil mengacungkan 2 jempolku kearahnya
Aku sangat menyukai konsep bangunan sekolahku yang seperti kubus ini, aku segera menaiki tangga dan setengah berlari menuju ke kelas dengan sebungkus siomay seharga 15 ribu dengan es kopyor di tanganku, siomay bu marni, saus bumbu kacangnya emang endul.
Aku mendaratkan bokongku ke kursi yang biasanya aku pakai untuk nongkrong di depan kelasku sembari menunggu guru datang.
"Kenapa nggak buka warung sate aja sih, enak banget. Mana bukan pakai kacang tanah tapi kacang mede, enak banget" ujarku sembari menikmati siomay itu.
Kenikmatan siomay ku terkontaminasi dengan cekikan dari teman sekelasku; suara sang ratu drama, pagi ini. Kenapa, Tuhan menciptakan manusia seberisik mereka dengan jilbab yang di sampirkan ke dada dan memakai baju seragam yang memamerkan lekuk tubuhnya.
"Kalian liat ga, Lengkara ganteng banget yah, sayang cacat." Aku mendengar ucapan teman sekelas ku merasa geram.
Ah, perempuan toa masjid itu menganggu pagi hari yang cerah. Batinku
"Kalau dia ga cacat gua mau lagi, nyokapnya muda banget. Kaya raya, ngga masalah kalau anaknya cacat yang penting duit ngalir." Ujar Shintia salah satu dari antara mereka; anak donantur sekolah.