Hening, Lengkara memperhatikan sudut rumah yang terasa sepi—dulu rumah ini ramai dengan suara adiknya selalu mengomel perkara apa saja, bahkan masalah sepele seperti yang sering bermain nitendo dengannya, ia merindukan gadis sawo matang dengan senyum manis itu, gigi kelinci dan rambut ikal dengan mata yang sipit.
Mama pergi lagi— dulu, walaupun Papa dan Mama selalu kerja, masih ada Dharma yang menemani dirinya baik suka maupun duka, memiliki orang tua yang gila kerja itu sangat menganggu.
Sekarang hanya ada dirinya dan kedua asisten yang di bayar mahal dan selalu siap siaga untuk membantu apapun yang di butuhkan Lengkara, ia tidak ingin menyusahkan seperti ini laki-laki itu berharap semoga ia bisa berjalan lagi seperti sedia kala.
Kecelakaan curug di bandung itu merenggut Papa dan Dharma tiga tahun silam. Masih teringat dengan jelas, percakapan yang merenggut kebebasannya bergerak dan dua orang yang ia sayangi.
Kejadian 3 tahun silam :
"Mas Lengkara, nanti mau makan apa?" Tanya Mama sembari tengah sibuk memperbaiki riasannya untuk tampak lebih cantik saat di kamera.
Lengkara tidak memperhatikan ucapan Mama; cowok itu tengah sibuk membaca buku yang berjudul Esok, tidak ia gubris pertanyaan.
Gadis kecil yang terpaut dua tahun di bawahnya itu menyenggol kaki Lengkara hingga ia terkejut.
"Apaan sih, Dhar!" Sungut Lengkara, bukunya jatuh ke bawah, ia memungut buku itu dan menaruhnya di pangkuan, matanya mendelik menatap, gadis yang ia panggil Dhar itu—itu sang adiknya.
"Lu bege, di panggil nama juga, kagak nyaut, pacaran muluk sama novel, pantes nggak dapet cewek. siapa cewek doyan kutu buku coba."
Lengkara mendengus kesal, "Yah ada deh, buta mata tuh cewek sia-siakan cowok ga menye-menye kayak gua penting, kan gua udah punya Nurida Dharma."
"Yey, bege. Ga gua juga, gua curiga, lu gak gay kan Bang?," Jahil Dharma.
Lengkara menjitak kepala Dharma cukup kuat, hingga airmata gadis itu menetes dari pucuk matanya. "SAKIT BEGO!"
"Ya, lu duluan kan." Balas Lengkara, sorot mata cueknya itu di balas omelan dari Dharma. "Cewek emang suka ngomel yah."
"Lu duluan ya, Onta!"
"Abang, Adek, lagi di jalan." Intrupsi Pria separuh baya itu, ia fokus mengemudi di jalan merasa terganggu
Sorot tajam dari Pria separuh baya di balik kaca spion mobil itu membuat keduanya membisu; hening—Jika tuan Paradipta sudah berbicara Lengkara maupun Dharma tidak akan bisa berkutik.
"Maaf, Pa."
"Abang udah, Abang. Kamu ini ganggu adek terus" Kali ini, Mama yang berbicara, sembari memperbaiki letak lipstiknya yang sedikit berantakan.
Mata Papa tidak bisa berpaling dari wanita yang duduk di sampingnya itu, garis lengkung tipis menghiasi wajah Pria itu, guratan tua tampak ikut tersenyum—Tuan Pradipta memang menikah terpaut 7 tahun diatas wanita yang ia persunting itu.
"Cantik banget, bidadari surga dunia Papa." Puji tulus Pria itu, terlihat ada guratan semu rona alami dari Mama.
Mama membersihkan tenggorokan yang serasa ada yang mengganjal perlahan, lirikan matanya tak lepas dari Papa yang sibuk mengemudi itu.
"Apaan sih, Mas!" Tegur Mama, membuat keduanya tertawa renyah.
"Cantik banget, Papa bersyukur nikah sama Mama. Sudah cantik, solehah, baik. Sopan, tutur katanya seperti bidadari surga. Wanita cantik ini, istri aku. Dia, ibu dari anak-anak aku, yang cakep dan sholeh-sholehah— walaupun abang Lengkara suka ganggu Dharma sampai Papa naik darah tapi kehadiran kalian itu membuat papa merasa pulang." Ujar Papa di selingin gombalan kepada istrinya.
" Kalian rumah papa, apalagi si cantik ini. Papa bersyukur banget, jatuh cinta sama mama." Gombalan papa di intrupsi oleh Lengkara dan Dharma, dengan suara menyerupai nyamuk.
"Ngungenggg~" Suara itu keluar dari mulut Lengkara, dengan sigap Dharma pura-pura menepuk pipinya khas jadi santapan nyamuk.
"Ngungenngg~"
"Ada autan ga sih nggak sih, kita jadi nyamuk, soalnya ada orang kasmaran." Ujar Dharma dengan sedikit di tekan, hal ini membuat Papa dan Mama tertawa.
"Kalian jealous ya, makanya punya pacar, Kayak Papa dong, pacarnya Mama, udah cantik, solehah lagi. Suaranya merdu banget apalagi kalau di—" Pujian papa belum selesai segera di bungkam dengan tangan kanannya Mama se-merah tomat.
"Loh, di apa Pa?" Tanya Dharma dengan polos mendapatkan jitakan dua kali dari abangnya.
"Bang, tanggung jawab kalau gua goblok gimana? lu jitak kepala gua mulu," Sungut Dharma.
Lengkara hanya menjulurkan lidahnya mengejek Dharma yang semakin kesal.
"Abang!" Teriak Dharma
Mama terkejut oleh suara nyaring Dharma, yang mengalahi Toa, masjid.
"Sudah-sudah, Abang, Adek mau makan apa nanti?" Tanya mama buru-buru mengalihkan topik.
"Abang mau sate padang deh, kalau ini kudanil gatau mau makan apa." Ejek Lengkara, dengan wajah perungut ciri khas Dharma, membuat Lengkara tertawa.
"Abang, mah gitu, sate padang mulu. Cape, aku makan itu tiap sore, kalau di dunia ada parfum sate padang pasti abang beli."
Gelak tawa memenuhi di dalam mobil, Lengkara tersipu malu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kan, tidak ada salahnya dari suka sate padang.
Hari, keluarganya ingin mengunjungi Curug di Bandung—cuacanya sangat mendukung untuk itu. Sudah tiga jam mereka habiskan untuk mengemudi santai, menikmati pohon cemara yang menjulang; seperti bisa, dengan suara gemersik angin yang bermain dengan daun di Curug dan batang-batang pohon yang tinggi itu—Handiani Pramita, Ibu dari Lengkara dan Dharma, sangat menyukai udara tanah sehabis hujan, garis lengkung dari bibir semanis gula itu tak pernah memudar.