"AAAA" teriak dalam satu mobil nyaring, suara lengkingan Dharma disusul dentuman keras dan semuanya gelap.
Lengkara tersadar dirinya berada sangat jatuh dari mobil papa dan Mama yang sudah dalam keadaan tidak berbentuk.
Kepala Lengkara terasa nyeri disusul dengan kaki yang terasa seperti mati rasa dan sulit bergerak. Punggung tertindih pohon mahoni sebesar setengah meter, dengan sisi kekuatan yang ia miliki, ia menyisihkan pohon itu ke pinggir dan berusaha menjauh. Matanya berpendar mencari keberadaan tiga sosok yang ia sayangi itu. Mama, Papa dan Dharma. Ia harap mereka baik-baik saja saat ini.
"A..bang.." Lengkara segera mencari sumber suara yang memanggilnya lirih itu. Dharma berada tidak jauh dari dirinya. Ia berusaha mengangkat kakinya, nihil. Kakinya terasa mati rasa, namun lengkara tetap memaksakan dirinya dengan merangkak menuju Dharma.
"Adek! Teriak Lengkara, Dharma tersenyum tipis. "A..bang.."
Punggung Lengkara terasa sakit, dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menghampiri Dharma dan duduk disamping gadis itu, "Abang, disini dek..."
Rambut Dharma yang terurai bersimbah darah akibat Luka yang terbuka cukup lebar di perut adiknya itu. Bibir Lengkara terkatup rapat, napasnya sesak, padahal baru tadi ia dan adiknya bercanda, Lengkara memeluk Dharma dengan erat.
"A..bang.. maafin adek yah.. Adek, bukan.. adek.. yang baik.. tapi... Adek tetap sayang Abang.." ujar Dharma, ia menahan nyeri yang ada diperut tangan dharma melemah, Lengkara tetap mengenggam erat tangan gadis itu.
"Gak, adek abang kuat, tahan yah bentar lagi ambulan kesini." Airmata Lengkara jatuh membasahi pipi Dharma, tangan gadis itu menyentuh pipi Lengkara. "Abang... Ikhlasin Dharma yah..."
"Abang... Hidup dengan baik yah.." bibir Dharma terkatup rapat, matanya terpejam dengan erat, tangannya mulai melemah. "Dek." Tidak, ada sautan, dingin, tubuh yang menghangat itu terasa dingin, Lengkara segera memeriksa denyut nadi Dharma, nihil. Adiknya sudah tiada.
"Adek, jangan tinggalin abangg.."
"Adek, jangan tinggalin Abang dek!" Tidak ada sautan, hening. Ia menggenggam tangan dharma yang dingin.
"bangun." Tangan lengkara mengenggam wajah dharma dengan lembut, bibir itu pucat dan membiru, "maafin abang, dek."
Lengkara tidak dapat berpikir dengan jernih ia hanya melihat Mama yang tergeletak tak jauh dari Papa, mobil mereka dengan keadaan yang hancur. Pintu dari mobil tersebut sudah tidak berbentuk dan sedikit terbakar di bagasi depannya.
Lemgkara nmemapah Dharma namun nihil kakinya terasa mati rasa, ia tetap memaksakan untuk berdiri saat ia hendak memapah dharma namun tubuh gadis itu meluruh dan baru Lengkara sadar, kaki kanan adik perempuannya tidak menyatu lagi dari tubuhnya.
"Ya allah" Teriak Lengkara, ia segera meluruh, tubuhnya terasa mati rasa, ia melihat potongan Kaki adiknya yang tidak jauh dari tubuh papa, Lengkara melihat tangan papa yang masih bergerak di timbunan pohon mahoni.
Ini adalah liburan malapetaka, Lengkara ingin kembali lagi sebelum kejadian ini terjadi begitu cepat, airmata Lengkara tidak berhenti namun ia tetap berjalan dengan tertatih ia menuju kearah sang Papa, tangan papa sibuk menahan pendarahan yang ada di perutnya.
"Nak .. maafin papa yah nak.. "
"Papa bukan orang yang baik... Papa udah ngecewain kalian... Harusnya... Ini.. liburan yang... Indah.. yah,"
"Jaga mama yah, Papa.. Sayangg lengkara.. tetap hidup yah..."
"Papa... Mohon sayang..."
Lengkara tersentak dari tidurnya, mimpi itu lagi! Napasnya tersengal-sengal, keringat membasahi pelipisnya. Mimpi itu masih terbayang dengan jelas, itu bukan sekedar mimpi, tapi kecelakaan tiga tahun silam yang merenggut papa dan adik perempuan satu-satunya, masih ia ingat dengan jelas ucapan ayah yang terakhir kalinya, sembari menahan pendarahan di tubuh mama.
Bahkan dengan jelas kondisi saat itu tubuh papa tertimbun oleh tumpukan kayu mahoni, sama dengan Lengkara, yang kakinya tertindis kayu mahoni.
Mobil yang mereka tumpangi paling hancur adalah bagian tempat dharma, karena gadis itu ditemukan tidak bernyawa dengan tubuh yang tidak menyatu.
Hal itu menjadi mimpi buruk bagi Lengkara. Cowok itu sangat tau kalau mam memutuskan melalui steril dan Papa melakukan vasektomi. mereka memutuskan fokus kepada Lengkara dan Dharma saja.
Jika Dharma masih ada, mungkin suaranya akan mengalahkan debt colector yang suka menagih hutang dengan suara nyaring dan mengedor kamarnya saat ini.
Lengkara tercekat, seperti ada bongkahan batu besar menahan dadanya dan seperti ada sumpalan dalam tenggorokan yang membuat dirinya sulit bernapas.
Andai ia tidak lumpuh.
Andai saja tulang belakangnya mampu menopang tubuhnya.
Lengkara melihat jam di dinding di atas meja belajar, pukul tiga pagi. Sepertinya ia akan sulit jika harus kembali memejamkan matanya, dan tetap terjaga, rasanya ia takut untuk memejamkan matanya kembali.
Lengkara mengingat hal kecil, yang dilakukan Dharma semasa ia hidup, mungkin adiknya itu akan berteriak di ambang pintu, "Abang, bangun udah pagi, ayam jantan aja udah berkokok, laki tuh harus bangun pagi. Nanti jodoh abang di makan ayam."
Lengkara tertawa pelan, ia mengingat ucapan sang adik, jujur saja, kursi roda ini menghambat gerak Lengkara, ia merindukan bermain futsal, selama ini Lengkara hanya menonton orang bermain futsal, bohong jika ia tidak ingin bermain bersama.
Keadaan Lengkara semakin memburuk saat terapi akupuntur yang dulu pernah ia jalani membuat tulang punggungnya semakin rapuh, bahkan tidak bisa menopang dirinya sendiri.
"Andai aja yang meninggal itu gua, bukan dharma. Mama pasti nggak akan kesepian, gua beban banget."
"Boro-boro mau ngelindungin mama, rawat diri sendiri aja nggak bisa, dasar ga guna."
Lengkara mengusap pipinya perlahan, " cowok nggak boleh nangis, cengeng banget." Dan Lengkara kembali memejamkan matanya.
Sinar matahari memasuki sela-sela jendela pukul tujuh Kurang lima belas menit, lengkara sudah siap dengan baju seragam yang rapi dengan atribut yang lengkap. Ia bangun kesiangan, semalam ia berhasil jam empat sore.
"Abang." Panggil Handiani, mama Lengkara kerutan tua di wajah wanita itu terpeta dengan jelas, namun tidak ada lelah dari pancaran mata, wanita itu
Mama membawa nampan yang berisi potongan apel berbentuk kelinci, dua potong papang- roti lapis dengan campuran telur rebus, tomat, timun dan keju- di temani segelas susu, dan beberapa potong cokelat batang bebas gula.
"Mama buat papang, abang suka ga? Tadi mama mau campur sama alpukat tapi takut abang nggak suka, biasanya kan Dhar- eh, bukan apa-apa." Celoteh riang mama berubah, sedikit muram.
Lengkara tertawa pelan," Abang suka apa aja ma, Dharma memang suka Papang pakai alpukat. Anak itu pencinta alpukat. Haha."
Raut wajah mama berubah menjadi muram, Lengkara memajukan kursi rodanya perlahan.
"Ma," Panggil Lengkara.
"Ikhlasin yah, Allah tuh maha baik ma, Dharma sama papa pasti udah senang diatas sana." ucapan penenang Lengkara. Senyum tipis merekah di sudut bibir mama.
Jauh dalam lubuk hati Lengkara ia bohong jika ia merasa ikhlas atas semua kejadian ini.
"Iya."
"Abang, obatnya nanti di minum pas makan siang yah." Perintah Mama, sembari merapikan tas milik lengkara, sepertinya Mama
mencoba fokus melupakan apa kejadian tadi.
"Abang, ini jas nya mama gantung sini yah,"