Newsroom

Dwi Tirtowinoto
Chapter #1

KETIKA MEMILIH

Ruang redaksi adalah dua kata yang boleh dibilang cukup sakral. Tempat ini menjadi ruang rahasia yang menentukan nasib sebuah info boleh disebar atau tidak. Tapi  di sisi lain bisa juga menjadi tempat  gurau menyenangkan terutama sore hari setelah wartawan pulang dari perburuannya. Mereka  saling cerita pengalamannya sambil menyeruput kopi panas. Ruangan itu terbuka luas dengan pembatas hanya sekat-sekat untuk masing-masing redaksi. 

Namun demikian, tidak semua orang bisa melenggang begitu saja masuk ke ruang redaksi. Harus ada janji, sekurangnya mengisi buku tamu. Mereka yang bebas masuk tentu saja hanya wartawannya. Ada kalanya juga ruang redaksi menjadi objek wisata, karena banyak tamu dari berbagai kampus dan instansi berkeliling ingin mengetahui dunia kerja setengah sakral ini.  

Di pojok ruang redaksi, ada sebuah ruang khusus tertutup yang lebih sakral lagi, karena tidak sembarang orang boleh masuk ke dalamnya. Jangankan wartawan yang tidak bisa seenaknya masuk, apalagi orang luar kantor. Itulah yang namanya ruang pemimpin redaksi, orang nomor satu di media, bisa  radio, tv, majalah, on line dan lainnya.  Selain itu, ada juga ruang rapat redaksi yang juga tertutup dan hanya digunakan untuk rapat-rapat penting yang terkait hal redaksi.

Hanya Nadira Naomi Permatasari, yang bisa main sendiri di ruang pemimpin redaksi. Dia sesuka hatinya duduk di kursi, kadang kala duduk di atas meja kerja, kadang-kadang tertidur di sofa panjang. Ia juga bisa asyik mewarnai gambar di komputer. Nadira kecil seringkali duduk diam di sofa panjang mengamati ayahnya yang mengetik tiada henti. Lalu, dengan santai ia akan keluar berlarian dan menyapa para wartawan yang sedang bekerja di  redaksi masing-masing. “Halo, kak,” katanya sambil tersenyum lucu. Para wartawan senior pun bahagia dan menganggapnya sebagai si wartawan bungsu. Tidak jarang pula, setelah beranjak remaja dewasa, Nadira diajak ke berbagai daerah terpencil, dan kadang-kadang juga ikut ayahnya liputan konferensi internasional di luar negeri. 

Nadira adalah tamu istimewa sejak balita. Inilah anak bos yang diharapkan kelak menjadi wartawan top. Ia sering kali  diajak ayahnya ke kantor. Ayahnya, pak Arief Yasiro Wibowo, yang akrab dipanggil pak Arief, adalah Pemimpin Umum merangkap Pemimpin Redaksi surat kabar Timely  di Jakarta. 

Nadira adalah cita-cita pak Arief sejak dia lahir.  Bagi pak Arief, punya anak perempuan ini adalah sebuah  anugrah  keberuntungan.  Ia sangat terobsesi dengan penampilan Katharine Graham, sosok perempuan  yang  menakhodai korporasi sekaliber The Washington Post. Padahal, dunia media hampir sepenuhnya dikuasai oleh laki-laki.

Pak Arief, dengan penampilan nsederhana, adalah bos pemberani. Beberapa kali dihadapkan pada keputusan untuk memilih berita yang harus disiarkan atau dicabut, maka ia dengan matang segera mengambil lepitusan. Cara bicaranya tegas, pikirannya juga cemerlang dan dia juga dengan mudah bersahabat dengan siapa saja, termasuk dengan para wartawannya. Ia memberi ruang bagi wartawannya untuk bekerja merdeka dengan jaminan perlindungan penuh.  Headline atau berita utama koran Timely  selalu merupakan berita ekslusif yang ditunggu-tunggu masyarakat. 

Ibunya, bu Wida Dewi Hartiningsih, redaktur senior di majalah perempuan, mantan pramugari penerbangan Garuda,, juga sering mengajak Nadira liputan peragaan busana, wawancara tokoh atau ketemu pedagang kecil di pasar tradisional. Bu Wida ketemu pak Arief saat masih muda dalam penerbangan Jakarta-Tokyo. Saat itu Arief muda akan liputan konferensi internasional tentang perdamaian dunia di Tokyo.

Jadi, tidaklah heran kalau lingkungan Nadira sejak dini adalah dunia wartawan karena sejumlah teman ayah ibunya juga kenal dia sejak kecil. Beberapa kali pula si wartawan bungsu ini merasakan nikmatnya mendapat amplop dan suvenir ketika diajak kakak wartawan ikut jumpa pers. “Yaa, asyik juga jadi wartawan, dapat duit, kue dan suvenir,” kata Nadira dalam hati sambil tersenyum-senyum. Apalagi kalau dapat  undangan jalan-jalan, makan malam di restoran sambil nonton konser.  Wah, sangat menyenangkan jadi wartawan, katanya berbisik sendirian. 

Setelah lulus IPB,  ia sebenarnya sudah  diangkat menjadi wartawan magang di koran Timely. Pak Arief membiarkan saja, sama sekali tidak mengatur tugas liputan Nadira. Gadis ini mau   bekerja  apa saja, buat berita sesukanya.  Kadang-kadang dia hanya duduk-duduk seharian  di depan komputer. Dia hanya mengembangkan liputan kemarin  menjadi  features.  Nadira boleh dibilang tidak punya teman. Banyak yang sungkan karena dia anak bos.  Lagi-lagi pak Arief membiarkannya. Kantor mulai bisik-bisik  tentang anak bos yang dianggap seenaknya. Nadira mendengarnya langsung, tapi ia cuek saja. Ia lebih suka menunjukkan karya jurnalistiknya daripada melawang gossip.  

Ketika ada Covid-19 pada awal 2020, pikiran pak Arief  juga sedang  kacau. Kantor Timely sebenarnya sedang galau juga, karena sebagian besar wartawan terlibat dalam liputan Covid-19. Di setiap meja ada botol sanitasi.  Beberapa di antaranya sedang cuti di rumah  sakit karena terpapar Covid-19, bahkan beberapa di antaranya mengundurkan diri. Di ruang redaksi, semuanya mengenakan masker. Wartawan dikerahkan untuk liputan pandemi. 

Di sisi lain, pak Arief  merasakan sekali pemberitaan koran Timely kurang berpihak pada pasien.  Liputan wabah  Covid-19  merupakan breaking news sepanjang hari sejak awal Maret 2020. Dia kuatir, masyarakat  sulit   membedakan berita-berita, mana yang akurat dan mana hoaks  yang dirilis koran Timely. Ia mencatat sendiri liputan Timely sampai April 2020, banyak  pemberitaan Covid-19 bersifat  sensasional  sehingga  menimbulkan kepanikan dan ketakutan. Timely terus  menerus  mengeksploitasi penderitaan pasien korona. Pak Arief tentu saja terperangah.

Ia lalu memanggil para kepala redaksi untuk rapat khusus. “Bagaimana mungkin koran Timely  bisa ikut-ikutan dengan media lain. Masyarakat menjadi bebal dengan pelanggaran yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Tetap berkerumun atau tidak memakai masker, sehingga jumlah korban terus bertambah setiap hari,” kata pak Arief dengan nada suara tinggi. Baru kali ini, Pak Arief menunjukkam sikapnya dengan suara tinggi, karena merasa sangat kecewa dengan pemberitaan Timely yang kurang berpihak pada pasien.

“Kritisme pers seharusnya adalah melindungi kepentingan publik, yakni dengan cara menempatkan nilai tertinggi pada akurasi dan konteks dalam berita,” tegas pak Arief.  

Meski rapat khusus di ruang pimpinan, namun suaranya tetap terdengar menggelegar  karena ruangan itu terbuka bagian atasnya. Nadira ikut menyimaknya dari luar, karena dia juga ditugaskan meliput corona. Dia juga sedang kecewa, karena beberapa  kali pula harus mendengar bisik-bisik  tentang dirinya sebagai anak bos yang enak-enakan kerjanya.  

 “No, aku harus pindah. Tidak mau jadi wartawan, apalagi jadi wartawan Timely,” begitu kata hatinya. Padahal, namanya sudah cukup dikenal. Ia sudah ditunjuk menjadi penanggungjawab rubrik Anak Muda di koran Timely, bahkan tulisannya selalu ditunggu-tunggu publik muda.    

 Hatinya mulai terbelah dua, antara cinta dengan pekerjaan wartawan karena sering liputan, tapi di sisi lain ia sudah mulai memberontak ketika melihat fakta kehidupan wartawan. Pihak HRD di kantor berulangkali  menawarkannya untuk jadi wartawan tetap, tapi Nadira selalu menolaknya. Dia ragu, sebagai anak bos dengan tuduhan KKN, seolah-olah banyak fasilitas diberikan kepadanya, padahal  dia bekerja dengan segenap kesungguhan, atau keinginan pindah media seperti dua adiknya. 

“Dira mau kan jadi wartawan di Timely, ya nak,” kata ayahnya suatu ketika sedang duduk bersama di pesawat terbang memenuhi undangan penerbangan Garuda keliling Hollywood di Los Angeles.  Ayahnya merasa siap kalau nanti Nadira juga masuk ke dunia wartawan secara profesional. 

Apalagi ia beberapa kali memenangkan lomba menulis artikel di media. Ia mendapat julukan wartawan lomba, karena setiap ada lomba tulis apa pun, dia akan ikut. Pernah pula ikut lomba menulis artikel obat kuat. Dengan semangat ia menyusuri toko-toko obat kuat di pinggiran Jakarta. Ia menang. “Sebenarnya malu juga, karena disangka mau beli obat kuat, hahaha,” katanya ketika mengungkapkan rahasia menangnya. Tak disangka, tulisannya yang lain yang berjudul “Anak-anak Pantai yang Terhempas Badai” dan “Sikalabai dari Mentawai” berhasil  memenangkan penghargaan Adinegoro, hadiah bergengsi untuk wartawan. Memang benar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Nadira ingin membuktikan bahwa dia adalah wartawan profesional, bukan wartawan KKN. 

Lihat selengkapnya