Newsroom

Dwi Tirtowinoto
Chapter #2

BUKAN KERJA BIASA

Kantor redaksi tentu saja berbeda dengan kantor pegawai negeri atau pabrik  sepatu yang  memproduksi sepatu sesuai selera pasar. Kantor redaksi menghasilkan berita yang tidak boleh salah untuk kepentingan publik.  

Nadira dan teman-temannya sesama wartawan tahu persis apa tugas wartawan. Kadang-kadang mereka terlihat santai di kantor, tapi pikirannya berjalan terus 24 jam, bahkan sampai terbawa tidur.  Inilah  yang  membuat Nadira terbelah pikiran dan hatinya untuk terus jadi wartawan atau segera memutuskan untuk berhenti.  Ia sudah berjanji dengan Andy Alexander akan menjadi ibu rumah tangga yang baik, tidak kerja keluyuran mencari berita. “Aku kan tetaplah perempuan biasa, ibu yang siap untuk anak-anaknya,”kata Nadira dalam hati meyakinkan keputusannya berhenti jadi wartawan. 

Namun, rapat Senin yang memutuskan Nadira dan empat temannya menjadi tim liputan khusus kasus kekerasan seksual pada anak perempuan, telah membuat Nadira tersentak. Ia marah sekali terhadap pelaku yang dianggapnya sakit jiwa.

Dia  berubah pikiran lagi. Nadira yang berperawakan tinggi semampai ini gampang  sekali berubah pikirannya, untuk hal apa saja. Gampang jatuh cinta. Sekarang bilang ya, sebentar lagi bisa tidak. Dia tipe  plin-plan. 

Dskusi redaksi mengungkapkan pelaku kasus kekerasan seksual pada anak adalah orang-orang terdekat, termasuk ayah kandungnya. Saat itu juga Nadira sudah merasa lunglai, lalu minta kopi hitam pada sekretariat redaksi.

Nah, pada saat rapat itulah, dalam pikirannya langsung berkelabat gambaran Liliana, teman karibnya di IPB yang  terpaksa berhenti kuliah karena menikah dengan seorang pegawai. Mereka semula berbahagia dengan dua anak perempuan, namun terungkap  betapa bejat suaminya yang kaya harta tapi miskin moral. “Dua anakku yang masih remaja  diperkosa ayahnya, dan polisi membebaskannya karena dia khilaf dan sudah minta maaf, ”kata Liliana waktu itu sambil berurai mata. Penderitaan sahabatnya itu masih saja mencekam perasaan Nadira, meski mereka lama tidak berjumpa lagi.

Nadira langsung saja in action mengadakan rapat istimewa dengan timnya  untuk menyusun langkah-langkah investigasi. Dia juga dengan cepat melanjutkan riset awal, dan hasilnya sangat mengejutkannya.  “Banyak ayah biadab yang tega memperkosa anak perempuannya sendiri. Belum lagi kasus pemuda yang melakukan perkosaan secara bergerombolan, mereka sungguh sudah sakit jiwa, ” kata Nadira dengan marah dalam rapat itu. Mbak Suryantini yang ikut rapat itu terpana melihat penampilan Nadira.

Pemberitaannya tidak bisa lagi hanya sepenggal-sepanggal. Tidak bisa lagi berita lempang. Apalagi hanya pengumuman dari polisi saja,  tapi harus berkelanjutan, tegas Nadira. Sikap Nadira inilah yang menjadi kebanggaan sekaligus harapan pak Arief, nanti kelak Nadira akan menjadi  wartawan hebat, karena naluri dan kepekaan Nadira sangat tajam. 

Dalam rapat tim khusus, Nadira juga terlihat berapi-api menjelaskan kejahatan seksual pada anak perempuan. Ia menunjukkan data, ternyata kekerasan seksual paling tinggi yang dialami anak perempuan. Ia lalu memaparkan hasil riset awal, dengan sajian gambar-gambar kejahatan yang mengerikan. 

Saat itu, bayangan Liliana yang kurus kering kerontang muncul lagi, dan Nadira mulai merasa tidak kuat. Tiba-tiba saja, ia terhuyung-huyung jatuh pingsan. Ruang redaksi lalu geger. Pak Arief langsung loncat  dan berlari untuk mengangkat Nadira masuk ke ruang kerjanya dan membaringkannya di kursi panjang.  Sambil menunggu Nadira siuman dengan bantuan dokter kantor, pak Arief lalu memperhatikan gambar-gambar hasil riset yang dipaparkan anaknya. Dia sendiri sangat terkejut dan kuduknya langsung merinding. “Pantaslah  Nadira jadi pingsan, ada ya bapak sesadis itu pada anaknya, ” kata pak Arief kepada Agus Supardal yang ikut menunggui Nadira.

Beberapa menit kemudian, Nadira sadar. Ia langsung menangis terisak-isak seketika ingat lagi dengan gambar-gambar sadis kejahatan seksual pada anak perempuan. ‘’Ini tugas kita  sir, wartawan harus dapat membela anak perempuan. Bukan hanya sekedar menangkap bapaknya,  tapi bagaimana agar keluarga dan masyarakat juga melindungi anak-anak perempuan dari laki-laki biadab,’’ kata Nadira dengan marah. Matanya sembab. 

Berita kekerasan seksual pada anak perempuan  selama setahun terakhir saja di seluruh  Indonesia yang disiarkan koran 560. Pak Arief ikut terperangah. Berarti Timely belum berperan banyak dalam ikut memecahkan masalah darurat. ‘’Kalau wartawan diam saja, maka kasus ini  akan meledak,’’ tambah pak Arief.

Nadira lalu mengajak tim liputan khusus untuk melanjutkan rapat sore itu, padahal fisiknya  masih agak lemah setelah pingsan beberapa saat. 

Lihat selengkapnya