Selesai berenang setengah jam di kolam renang samping rumah, pak Arief lalu duduk santai di beranda sambil baca koran pagi. Bu Wida masih menikmati berendam di kolam, sambil menunggu Yoki dan Yusra yang balapan renang gaya kulu-kupu. Nadira masih istirahat di kamarnya. Mereka memilih olahraga renang bersama di rumah, sebelum sarapan.
Keluarga pak Arief sudah terbiasa makan bersama setiap sarapan pagi dan makan malam. Anak-anaknya sejak kecil, meski makan selalu berantakan, ikut bergabung dengan orangtuanya. Setiap ada tamu, temannya atau saudaranya sendiri, pak Arief selalu mengajaknya ikut makan di meja besar itu. Jarang sekali tamunya hanya djamu dengan sekedar minuman. Apalagi, kalau kedatangannya pas jam makan malam. Harus ikut makan.
Bahkan para wartawan di kantor Timely juga sering diajak makan malam bersama. Kalau ada peristiwa penting, maka rapat-rapat redaksi dilanjutkan malam hari di rumah pak Arief. Pemimpin Redaksi ini jarang sekali begadang di kantor. Hanya redaktur yang sedang bertugas shift malam atau reporter yang sedang liputan acara pada malam hari yang akan masuk kantor.
Pak Arief seolah-olah ingin menunjukkan kepada keluarganya, kalau pekerjaan kantor itu penting tapi bukan nomor satu. Nadira sangat paham dengan sikap ayahnya. Itulah sebabnya dia selalu merasa bimbang di persimpangan jalan antara berhenti atau terus jadi wartawan.
Nadira mendapat cuti dokter tiga hari, karena fisiknya masih lemah, setelah beberapa kali pingsan di kantor. Tapi ia tetap memaksa dirinya ikut sarapan bersama dengan makan bubur ayam. Dia merasa mendapat tambahan darah kalau sudah duduk bersama di meja makan, bisa curhat tentang apa saja.
Peralihan topik di meja makan ini mengalir mudah karena mereka terbuka dan saling mendengarkan. Suatu hari, ketika Nadira hampIr saja akan bubar atau putus hubungan dengan Andy Alexander, meja makan itulah yang jadi penyelamat. Ayah ibu dan adik-adiknya ikut berbagi pendapat dan perasaan. Diskusi terbuka waktu itu justru menghadirkan Andy Alexander, sehingga hampir tidak ada masalah yang disembunyikan. Sepasang kekasih ini akhirnya kembali akur.
Meski di meja makan dI rumah sendiri, pembahasan mengenai anak korban perkosaan ayah kandung juga berlangsung hati-hati dan menjadi sangat sensitif, karena Nadira sempat pingsan di kantor.
“Dira dapat kiriman foto kasus anak perempuan korban perkosaan, Ayah. Dia Ketua Umum Asosiasi Pers, pak Slamet Sukandar. Tapi Dira belum berani melihatnya, ” kata Nadira saat sarapan pagi. Pak Arief tentu saja terkejut, dan agak kecewa, karena ia kenal betul siapa pak Slamet. “Kok dia tahu ya kalau kita sedang membongkar kasus ini, mengapa dia heboh kirim foto,” kata pak Arief.
‘’Masalah anak yang jadi korban perkosaan ini sangat peka, Dira. Jadi kita harus hati-hati, jangan sampai korban mengalami penderitaan kedua, gara-gara pemberitaan atau foto mereka di media, “jelas pak Arief perlahan. Nadira, sebagai reporter muda, tentu saja kaget sekali.
Pak Arief lalu menjelaskan ada Pedoman Pemberitaan Ramah Anak 2019 dari Dewan Pers yang isinya antara lain tidak boleh menyebutkan identitas anak dan tempat tinggalnya. Nadira kembali tersentak kaget. Tim investigasi belum tahu banyak tentang berbagai peraturan dan pedoman itu. Yaa, karena mereka juga masih reporter muda. “Berita tentang kekerasan seksual itu sensitive, Dira. Jadi tetap berpegang pada motto kita ya: santun, rinci dan akurat,” kata pak Arief.
“Baik Ayah, tim harus paham dulu mengenai aturan ini, jangan sampai menambah masalah baru dalam liputan kekerasan pada anak,” ujar Nadira.