Newsroom

Dwi Tirtowinoto
Chapter #4

DEADLINE

Hari masih pagi sekali, namun pak Arief sudah siap-siap duduk di meja makan sambil menunggu istri dan anak-anaknya untuk sarapan. Sudah terhidang nasi putih hangat dengan lauk gudek,  tempe bacem dan ayam goreng yang menjadi kegemaran keluarga. 

Ada mpok Niroh yang sudah bekerja di rumah keluarga ini sejak lama, sehingga paham betul apa yang menjadi kesenangan anak-anak dan orangtuanya. Meski mpok Niroh asal Betawi, tapi ia sangat mahir masak gudek. Pagi-pagi benar dia sudah menyiapkannya. Mpok Niroh juga paham betul untuk menyiapkan sarapan pagi dengan takaran lebih, karena biasanya ada-ada saja tamu yang datang ikut sarapan, terutama teman-teman Nadira, Yoki dan Yusra. Belum lagi wartawan koran Timely yang ingin jumpa dengan pak Arief. Ada saja tamu yang datang yang biasanya mau tidak mau harus ikut sarapan.

Nadira sudah terlihat segar dan langsung duduk di sebelah ayahnya. Tak lama kemudian menyusul ibu dan adik-adiknya. Pak Arief merasa lega ketika melihat Nadira sudah mulai bersemangat. ‘’Bagaimana, nak, sudah mendingan ya,’’ sapa pak Arief pada Nadira. Gadis wartawan ini tersenyum ceria, dan mulai mengajak ayah ibu dan adiknya langsung sarapan.

Mereka baru saja mulai menyendokkan nasi ke piringnya masing-masing, namun terdengar salam assalamualaikum yang diiringi dengan kemunculan Andy Alexander. Ia langsung mengulurkan tangannya ke pak Arief dan lainnya. Tanpa menunggu tawaran, Andy  langsung duduk di sebelah Nadira, dan tanpa sungkan lagi karena sudah biasa lalu ikutan menyendok nasi ke piringnya. Nadira tersenyum melihatnya. Hubungan Andy dan keluarganya sudah cukup dekat. 

‘’Sudah selesai koasnya Andy,’’ sapa pak Arief sambil mengambil gudek dan ayam goreng. ‘’Belum pak, masih agak lama,’’ jawab Andy sambil senyum. Mereka lalu bersama-sama sarapan.  Yoki dan Yusra terlihat buru-buru menikmati sarapan karena harus mengejar kereta  untuk acara undangan jumpa pers. Sarapan pagi ini tidak seperti biasanya yang penuh dengan canda, karena masing-masing tampak tenggelam dengan pikirannya sendiri.  

Ayahnya hanya melihat saja, karena seperti biasa pada awal pekqn, kedua anaknya akan buru-buru ke kantor  masing-masing. Kemudian, pak Arief juga melihat bu Wida untuk juga segera berangkat ke kantor. Rupanya, bu Wida terlupa minta ijin keluarga, karena pagi itu dia juga buru-buru akan dijemput mobil kantor ke Bogor untuk mengikuti seminar Hari Perempuan Internasional 8 Maret. Tinggal pak Arief akan berangkat ke kantor sendiri, yang tak lama kemudian pamit dengan Nadira dan Andy. 

Andy terlihat termenung dengan suasana pagi itu di rumah Nadira. ‘’Kira-kira nanti keluargaku juga akan seperti ini ya, kalau Nadira tetap memilih karir sebagai wartawan yang super sibuk, ‘’ kata Andy.  Nadira tertawa lepas ketika menanggapinya. ‘’Semuanya happy, Andy,’’ jawab Nadira.

Diskusi mereka  berdua terus berlanjut di meja makan, masih tentang topik mengenai keputusan Nadira yang akan berfikir ulang  tentang janjinya berhenti jadi wartawan. 

‘’Aku tetap berharap kalau nanti Nadira menjadi ibu dari anak-anakku maka dia benar-benar menjadikan rumah sebagai pelabuhan damai, tidak keluyuran mengejar sumber berita,’’ kata Andy dengan suara rendah.  Dia berharap Nadira akan tersentuh. Tapi apa yang terjadi. Nadira langsung  menangkisnya dengan suara agak tinggi, dan mengatakan program menjadi  ibu rumah tangga masih lama. ‘’Kan kemarin sudah kukatakan Andy, kita masih sangat muda, aku masih harus melanjutkan kuliahku, kamu masih koas. Aku juga mau mencari beasiswa LPDP agar bisa kuliah di Ohio jadi wartawan profesional, ‘’ jawab Nadira tegas. Tentu saja Andy sangat terkejut.    

Andy menyandarkan dirinya ke punggung kursi,  tak tahu mau menjawab apa lagi karena  dia tahu persis Nadira tidak bisa dilawan. Dia mengambil tempe bacem sebagai pelarian, lalu minta dibuatkan kopi susu pada mpok Niroh. Nadira juga ikut diam, karena dia kecewa dengan Andy yang seolah-olah tidak mau mengerti dengan penjelasannya.

‘’Biarlah sejak awal kalau memang tidak ada kesepakatan antara kita, Andy, ya kita berpisah sementara. Jodoh takkan kemana,’’ kata Nadira sambil matanya menatap Andy dengan tajam. Andy seolah-olah tahu isi hati Nadira, dan berfikir sama lebih baik  dibahas tuntas masalah hubungan mereka. “Selain masih lama, perbedaan prinsip memang harus dibahas sejak dini, supaya tidak ada penyesalan,”kata Andy.  

Mereka berdua berbicara dengan bisikan hati masing-masing. Sama-sama diam terpaku. Namun, Andy sebenarnya menyimpan kekecewaan, karena Nadira sudah berubah sikap dan tidak menepati janjinya.

‘’Aku mencintaimu Nadira,  apa pun pilihan dan keputusanmu, aku akan mengikutinya.  Kalau kita memang berjodoh, yaa tak kan lari gunung dikejar. Pada waktunya tentu aku juga harus kuliah lagi ambil spesialisasi,’’ kata Andy lagi-lagi dengan suara tanpa semangat. Nadira terharu lalu berdiri.  ‘’Aku juga mencintaimu Andy, takkan lari gunung dkejar, kan,’’ jawab Nadira lembut yang membuat Andy justru terdiam sambil titik air matanya.  Andy langsung saja pamit.  Pagi itu ia juga harus ke rumah sakit untuk keliling bangsal bersama dokter senior.

Lihat selengkapnya