Newsroom

Dwi Tirtowinoto
Chapter #5

AMPLOP DAN UNDANGAN

Ketika makan bersama pada malam Minggu, seperti biasa Yoki dan Yusra akan memulainya lebih dulu dengan cerita di lapangan  yang membuat pak Arief dan bu Wida tertawa lebar. Dua anak muda ini masih sebagai reporter muda, tapi terus berkhayal menjadi dua wartawan The Washington Post. 

“Kok kalian tidak berkhayal jadi wartawan Kompas, kan itu juga media paling hebat,” kata pak Arief. 

Yoki tersenyum. “Temanku wartawan Kompas tidak boleh terima amplop, Ayah. Haha ha, Yoki masih mau,”jawabnya jujur. Yusra juga masih mau, Ayah, tambah Yoki mengungkapkan rahasia adiknya. Jangan-jangan kak Dira diam-diam juga terima amplop. Tapi yang jelas kak Dira sering dapat undangan  liputan, katanya lagi. Nadira membalasnya dengan tertawa terbahak-bahak, hal yang jarang dilakukannya. Gadis semampai ini lebih banyak tersenyum lebar sehingga terlihat jelas lesung pipitnya yang membuat Agus Supardal tergila-gila dengannya. Apalagi Andy Alexander yang jatuh hati pertama kali dengannya ketika masih di SMA gara-gara lesung pipitnya.  Tidak hanya itu, rambutnya yang keriting asli dan kulitnya yang putih bersih menjadi daya tarik tersendiri  yang melengkapi kecantikannya. Ada juga yang diam-diam menaksirnya sendiri dalam hati  dari jauh. 

Nggak ada aturan di kantor Timely tidak boleh terima amplop,” ujar Nadira sambil melirik ayahnya, tapi pak Arief cuek saja. 

“Ibu nggak pernah dapat amplop, mungkin melihat ibu sudah senior. Tapi Ibu dapat banyak suvenir mulai dari bahan baju sampai alat kosmetik berkeranjang-keranjang,” tambah bu Wida lagi-lagi sambil tertawa lepas mengimbangi anak-anaknya. 

Bu Wida bersahabat dekat dengan para narasumber dari perusahaan kecantikan, sehingga setiap bulan pasti dapat kiriman. Apalagi menjelang lebaran. Di dalam bingkisan bahan baju kadang terselip juga amplop dengan ujaran buat ongkos jahit, ujar bu Wida tersenyum. Ha ha ha, sambungnya 

So what,”ujar pak Arief sambil tertawa lepas. Bertahun-tahun peristiwa ini terjadi. Sekarang adakah jejaknya? Apakah tabungan kalian bertambah? Apakah undangan semakin banyak? Atau apakah kalian semakin populer? Apakah  ada rasa nyaman setelah dapat amplop? Apakah kalian pernah menolaknya?  Tiba-tiba saja pak Arief mengajukan pertanyaan bertubi-tubi menyangkut soal amplop, seperti ada suatu ganjalan dalam perasaannya.  

Pak Arief mengungkapkan, ketika masih reporter muda sering kali dapat amplop, bingkisan, undangan jalan-jalan, makan di restoran mewah. Kalau ada acara jumpa pers bisa dipastikan ada amplop. Ayah juga ikut geng wartawan yang kerjanya pura-pura saja wawancara khusus, tapi ujung-ujungnya amplop tebal. Hampir setiap hari ayah pasti dapat amplop, ditambah lagi uang transpot bulanan dari Humas. “Seperti gaji buta,” tambahnya.

‘‘Tapi apa, nak, nggak ada bekasnya, tabungan juga  nggak nambah. Meski bersumpah amplop tidak akan ngaruh isi berita, itu omong kosong, tetap saja ada rasa nggak enak kalau buat berita asal,’’ kata pak Arief. Padahal, isi amplop nggak pernah banyak, nggak bisa beli mobil juga haha, hanya kesenangan sesaat tapi kita jadi berhutang, jelasnya.  

Mereka belum memulai suapan nasinya, meski sudah di piring, karena  masih menatap sang ayah dengan serius. Setelah agak longgar, barulah mereka mulai menyuap nasinya.   

Meski sambil makan dengan santai, Pak Arief tetap bersemangat mengemukakan data serius buat tiga wartawan muda, anaknya sendiri. Kualitas wartawan itu dapat diukur dengan rumus  IKP namanya, kata pak Arief. 

Setiap tahun, Dewan Pers survey yang namanya IKP atau  Indeks  Kemerdekaan Pers di seluruh Indonesia. Dari tahun ke tahun skor selalu di bawah 80. 

“Tahun ini skor hanya 69, 40. Coba Yusra, kalau orang kuliah, nilai sebesar itu, apa artinya. Dapat C, kan, artinya mahasiswa ini nggak pintar,” kata pak Arief. Nah, wartawan juga nggak pintar-pintar amat.

Lihat selengkapnya