Newsroom

Dwi Tirtowinoto
Chapter #6

YOU AND I

Nadira masih jadi wartawan honorer di koran Timely. Ia semakin asyik tenggelam dengan tugas rutin liputan di koran Timely.  Ia juga masih harus menyelesaikan projek investigasi kekerasan seksual pada anak perempuan, sambil mencari informasi beasiswa LPDP.

Beberapa kali kunjungan ke daerah, ia juga mendekati teman-teman wartawan daerah untuk ikut projek investigasi. Ia menemui kepala desa, pejabat daerah dan organisasi ibu rumah tangga. Ternyata banyak di antara mereka nggak baca koran cetak atau online. Tingkat kegemaran membaca  masih rendah.  

“Seberapa pun hebatnya tulisan hasil investigasi, akan sia-sia kalau masyarakat nggak baca, Wil, ”kata Nadira saat kunjungan ke Ujung Pandang kepada Andi Willy Abdussalam, wartawan majalah Kinantan di Ujungpandang.      

Willy  terdiam. Sebagai wartawan majalah pariwsata, ia merasa rendah  diri karena miskin data dan fakta tentang kekerasan pada anak perempuan. Majalahnya hanya berkonsentrasi pada liputan soal budaya dan pariwisata, padahal di balik itu tersembunyi situasi yang mengenaskan tentang anak perempuan. 

Nadira selalu membawa hasil risetnya setiap kali liputan ke daerah dan mengajak wartawan daerah. Kembali Willy terperangah. Ia langsung saja mengundang Nadira ngopi-ngopi  sambil menikmati ikan bakar di pantai Losari Ujugpandang. “Kami juga ingin mendengar paparan hasil riset Nadira,”ujar Willy sambil menambahkan akan mengajak   wartawan daerah  lainnya. “Siap, kita jumpa sore ya, ”kata Nadira dengan gembira.

Ketika sedang lesehan menikmati kue barongko, bolu peca,  jalangkot dan es pisang hijau, sambil menunggu teman wartawan, betapa terkejutnya Nadira ketika tak disangka-sangka ketemu dengan Faris Alif Akbar, wartawan sudut pandang.id. Faris adalah kakak kelas di IPB dan sama-sama mengasuh koran kampus waktu itu. “Hai kak, takkan lari gunung dikejar, kita jumpa di sini,” sapa Nadira lebih dulu sambil mengajak bersalaman. 

Sesungguhnyalah, saat Nadira duduk menikmati angin pantai Losari, dalam suasana romantis, sekelabat   terbayang wajah Andy Alexander dan seketika itu ada rasa rindu yang mencekamnya. Namun, tak sengaja ketika jumpa Faris, keluarlah kata-kata Andy: takkan lari gunung dikejar.  

Namun bagi Faris, sapaan Nadira justru membangkitkan lagi cinta lamanya yang terpendam pada Nadira. Bertahun-tahun semasa kuliah dan sampai sekarang, laki-laki yang masih bujangan ini juga masih menyimpan cinta lamanya pada Nadira. Ia sulit melupakan lesung pipit Nadira yang terus menggodanya. Namun, Faris memilih mengalah dan sama sekali tak berniat untuk memperjuangkan cintanya,  karena ada Andy Alexander, si calon dokter yang sudah menempel pada Nadira sejak SMA.

Saat lesehan itu, betapa bahagianya Faris bisa duduk berdekatan dengan Nadira, sambil matanya terus lekat pada Nadira. Ia tak kuasa menanyakan apapun pada Nadira yang tampak sibuk berbincang dengan wartawan lainnya. Sejak masih di bangku kuliah, Nadira juga sudah merasakan Faris yang  berbeda. Tapi, selain sebagai kakak kelas, Faris yang menjadi Pemimpin Redaksi koran kampus IPB,  juga adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa/BEM waktu itu, sehingga Nadira memilih diam-diam saja jika sedang berada dekat Faris. Mereka juga sering bersama jika ada acara kampus. Faris adalah vokalis band Krakatau dan Nadira sebagai pemain organ. Nadira juga tahu, banyak temannya yang jatuh cinta dengan Faris secara diam-diam.   

Ngobrol dengan wartawan daerah, membuat Nadira semakin bersemangat dan dengan suara berapi-api menceritakan banyaknya ayah yang biadab. Ia lupa dengan kelemahan fisiknya yang tidak kuat melihat gambar sadis atau kisah-kisah anak-anak perempuan korban perkosaan. Angin pantai Losari menusuk tubuhnya yang membuatnya menjadi kedinginan  dan tidak kuat sehingga akhirnya kembali oyong  jatuh pingsan. Faris yang duduk di dekatnya  segera menangkapnya dan dengan sigap  langsung memapahnya ke kursi  panjang di ruangan itu.   

Willy langsung memanggil dokter kenalannya.  Sekitar 50 wartawan yang hadir saat ngopi-ngopi itu, masih terus duduk menunggu Nadira siuman. Saat Nadira  masih pingsan, Faris lalu mengontak pak Arief. Ia masih menyimpan nomor pak Arief ketika masih kuliah dan bersama rombongan mahasiswa IPB  melakukan kunjungan media  ke kantor surat kabar Timely. 

Pak Arief tentu saja terkejut dan minta tolong agar Faris segera  memanggil dokter. Ia langsung menghubungi Andy yang juga terkejut dan akan langsung terbang ke Ujungpandang pada penerbangan pertama besok pagi. Dalam hati, pak Arief langsung dapat merasakan keseriusan hati  Andy pada Nadira. Ia bersyukur.  

Beberapa menit kemudian,  setelah diperiksa dokter, Nadira siuman, langsung minta maaf dengan teman-teman wartawan. “Ini pingsan  yang ketiga karena tidak kuat melihat gambar atau foto sadis bapak yang memperkosa anaknya,” kata Nadira masih dengan suara agak lemah.  Ia masih saja duduk lesu, namun semangatnya masih membara untuk memaparkan hasil risetnya. 

Faris berinisiatif  melihat hasil riset Nadira, lalu minta ijin untuk memfotokopinya agar bisa dibahas bersama. Nadira tersenyum setuju. Lagi-lagi Faris terpana melihat lesung pipit Nadira saat ia tersenyum. Hatinya berdebar keras, namun dengan kuat hati ia berusaha menepisnya. “Jangan, aku tidak lagi boleh berharap,” kata Faris dalam hati. 

Semua wartawan malam itu lalu  memegang hasil riset Nadira. Faris yang  sudah terbiasa memimpin  rapat redaksi sejak ia kuliah, lalu mengambil alih tugas Nadira  memaparkannya. Ia memang mahasiswa pintar saat di IPB, dan dengan suara bulat ia memaparkan hasil riset Nadira.

Sambil paparan, tokh matanya tetap lekat menatap Nadira, bukan karena cintanya yang belum berbalas, tapi kuatir Nadira pingsan lagi. Ia sudah ikhlas sejak lulus kuliah dan memilih pulang kampung ke Ujung Pandang, dan bekerja di media online. Namun di sudut hatinya yang paling dalam, sampai detik ini  ia masih menyesalkan dirinya yang tIdak berani berjuang merebut cinta Nadira. Ia sudah kalah duluan. Faris tetap tegar. 

Hasil riset Nadira, katanya kepada para wartawan yang hadir,   juga mengungkapkan potret buram kualitas media yang kurang peduli  dengan kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan. Jumlah kasus 2025 berdasarkan data Menteri PPPA mencapai 14.039. “Sungguh menyedihkan,”kata Faris

Sampai sekarang, sajian berita  kasus anak perempuan diperkosa ayah kandung, paman, kakek, tetangga, tukang jahit, bahkan guru mengaji, dari hasil penelitian ternyata hanya menjadi berita laporan kejadian, dengan model sama.  Media seolah-olah tidak berdaya.  Wartawan secara konvensional sanggup  menangkap suatu fenomena, tapi sering tidak mampu mengungkap duduk soal sebenarnya,  sebagai tugas terpenting jurnalisme, demikian Nadira dalam risetnya, kata Faris ketika membacakannya. 

“Begitu teman-teman semuanya, masalah kekerasan seksual pada anak perempuan ini sudah masuk tahap gawat darurat. Saya mau simpulkan riset Nadira, bahwa semua media harus bergerak bersama untuk melawan kejahatan yang dilakukan siapapun yang tega memperkosa anak perempuan,” kata Faris dengan suara tegas. 

“Sebagai wartawan, kekuatan kita adalah tulisan dan media. Sayangnya kekuatan media ini belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan, karena masyarakat kurang suka membaca,” tambahnya. Tingkat kegemaran membaca masyarakat kita masih di bawah 70. Jadi, urusan kita melingkar, belum ketemu jalan keluar, ujarnya lagi.   

Nadira yang mendengarkan paparan Faris  tiba-tiba saja langsung mengajak semua wartawan yang hadir memberi aplaus hangat untuk Faris. Ia juga  sendiri langsung berdiri  mendekati Faris  dan memeluknya dari belakang.   

Faris pun membalasnya, sambil titik air matanya. Bukan apa-apa. Ia juga tulus ingin bergerak bersama untuk mengatasi masalah anak perempuan korban kebiadaban. Selesai acara ngopi-ngopi, semua peserta lalu menikmati ikan bakar pantai Losari. 

Sambil duduk-duduk mengudap ikan bakar,  Faris sempat menanyakan program ke depan setelah Nadira wisuda. “Mau cari beasiswa LPDP, kak, mau kuliah journalism di Ohio University. Kan kuliahku S1 jurusan Ekonomi Pembangunan,” kata Nadira. Gayung bersambut, Faris lalu tertawa keras, karena tidak menyangka  punya cita-cita sama dengan Nadira.

“Saya juga ingin kuliah journalism di Ohio dengan beasiswa LPDP,” katanya dengan perasaan bahagia.  “Ini baru Ra, takkan lari gunung dikejar,” tambah Faris yang selalu memanggil Nadira hanya dengan Ra, berbeda dengam teman-temannya yang lain. 

Lihat selengkapnya