Newsroom

Dwi Tirtowinoto
Chapter #7

KATA HATI

Ketika  semuanya akan berangkat ke kantor pagi itu, Nadira ingin sendiri di beranda. “Nanti Dira meyusul Ayah,”katanya sambil melambaikan tangannya. Beranda itu sejuk dan nyaman. Siapa saja akan merasa betah. Bisa lesehan dan juga duduk santai di sofa  coklat yang sangat lembut. Nadira  memilih duduk di sofa panjang agar kakinya bisa selonjoran. 

Gadis ini sedang galau. Hatinya sedang bergelincak antara rindu dengan kekasihnya Andy Alexander dan Faris seniornya yang membuat  perasaannya selalu damai. Belum lagi detil peristiwa perkosaan pada anak perempuan yang sering berkelabat dalam pikirannya. Dia, ketua projek investigasi kekerasan seksual pada anak perempuan, yang belum juga selesai.

Sudah beberapa kali Nadira ingin mengajak Andy untuk menemaninya liputan malam,  atau kunjungan ke rumah korban kekerasan. Namun Andy selalu sibuk dengan segudang alasan. “Nggak bisa Nad, aku sedang tugas di UGD, tidak bisa ditInggal begitu saja,”jawab Andy memberi alasan. Lain hari lagi, alasannya adalah kunjungan bangsal pasien. Keesokan harinya, alasannya ikut operasi usus buntu. Paling sering alasannya yang disampaikan kepada Nadira adalah  tugas malam. Sebagai koas, dia memang diawasi dokter senior  dengan  ketat. 

Nadira tentu saja maklum walaupun dengan hati kecewa. “Ya, nggak apa-apa, sambil  belajar  dan introspeksi apakah nanti bisa tahan menjadi istri dokter, hahaha,”kata  Nadira dalam hati sambil  tertawa lepas.  Mpok Niroh yang sedang mengantarkan setangkup roti bakar dan kopi susu, heran melihat Nadira tertawa sendirian.  “Nggak ada apa-apa mpok,”kata  Nadira.

Sambil tiduran ia mencomot secuil roti bakar. Hatinya mulai terasa nyaman seolah-olah sedang tidur di pangkuan Faris saat perjalanan ke Tana Toraja beberapa waktu lalu. “Kapan ya kak Faris mau ke Jakarta,” katanya dalam hati sambil memejamkan matanya. Lima hari bersama Faris di Sulsel, ada rasa damai mengalir dalam dirinya. Angin beranda yang sejuk membuat Nadira benar-benar tertidur di sofa.  

Lima menit kemudian  barulah ia terbangun dan langsung loncat. “Aku jadi kangen juga dengan kak Faris,” ujarnya sambil minum kopi susu. “Ah, kenapa pula aku memikirkan dua laki-laki itu, bukan siapa-siapa,”  katanya menegaskan dirinya sendiri. 

Ia melirik jam tangannya. Jam 9, masih pagi. Ia lalu duduk merenung dan memikirkan kenapa bolak-balik pingsan kalau melihat foto atau gambar korban kekerasan seksual pada anak perempuan. Banyak yang menyarankan agar konsultasi dengan psikolog. Nadira selalu menolaknya, karena dia memang sangat sedih melihat atau baca berita kejahatan pada anak.  Ia selalu ingat, dan selalu terbayang semua detil peristiwanya. Tulisannya cenderung emosional. “Yaa, itulah kata hatiku, aku wajib melindunginya,” kata Nadira kepada wartawan di pantai Losari  waktu  itu.

Buktinya, peristiwa beberapa tahun lalu mengenai  pembunuhan dan perkosaan bocah delapan tahun, Angeline, di Bali, oleh ibu angkatnya, sampai sekarang masih mencekam kuat. Kekerasan itu sangat menyayat hatinya. Susah bagi Nadira bisa melupakan detil  peristiwa kekerasan itu.

Masih selalu terbayang nasib anak kecil itu yang  harus membersihkan kandang ayam  dulu sebelum berangkat sekolah. Dengan rambut kusut, perut lapar ia masih  bersemangat ke sekolah. Nasibnya tragis. Sebelum dibunuh, anak itu diperkosa  suruhan ibu angkatnya.  Ketika mengingat peristiwa itu, Nadira menangis sendirian di beranda.  

Ia lalu  juga ingat dengan kasus Raya, bocah enam tahun di Sukabumi yang meninggal karena tubuhnya penuh cacing, akibat kemiskinan orangtuanya. Sebuah berita di TV menggambarkan cacing-cacing yang keluar dari mulut dan hidung Raya. Peristiwa ini membuat Nadira  tidak kuat secara mental sehingga sampai sekarang  tidak bisa lagi menikmati makan mie goreng. 

Selain itu, ia masih menyimpan  peristwa yang sangat menyayat hatinya ketika liputan korban kekerasan seksual  di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Seorang anak disabilitas diperkosa pamannya, tetangganya dan anak nakal, secara bergiliran sampai dia hamil. Nadira langsung bergidik mengingat peristiwa itu, karena polisi belum bisa menangkap pelakunya. “Anak itu tidak bisa mengungkapkan pelakunya karena dia tidak bisa bahasa isyarat,” kata  Nadira sendirian. Kembali lagi ia hanya bisa menangis. 

Apa saja peristiwa yang menyangkut anak-anak dan perempuan akan langsung mencekam perasaannya. Apalagi kalau membaca berita seorang anak perempuan, bahkan yang masih balita, yang diperkosa ayah kandung yang biadab.

Peristiwa yang hampir setiap hari selalu ada saja di berbagai media, membuat hati Nadira  pun  terluka dan ia hanya bisa meratap sendirian.  

Beberapa kejadian tragis yang menerpa anak perempuan, maka hal itu akan menjadi mimpi buruk bagi Nadira, yang hanya bisa  meratap dalam hati sambil menulis. Inilah yang membuatnya rapuh dan mudah pingsan.

Ketika ditanya wartawan saat diskusi di  pantai Losari beberapa waktu lalu, Nadira mengatakan, lebih banyak  suara kata hati yang  mewarnai tulisannya.

Sambil menunggu info beasiswa LPDP, Nadira lebih banyak liputan ke luar  daerah.  Ia lalu melanjutkan investigasinya untuk mendapatkan gambaran yang memungkinkan munculnya perkosaan keji tersebut, bagaimana rumah korban, suasana lingkungan dan lainnya.

Ia lalu kunjungan  ke  desa kecil Karang Sari, Purworejo, Jawa Tengah. Ditemani wartawan Yogyakarta. Hatinya ingin ditemani Andy, tapi ia sudah tahu jawabannya pasti tidak bisa karena banyak tugas koas.

Di desa itu,  Nadira menemukan bagaimana tidak berdayanya anak perempuan. Suasana desa yang sangat sepi  karena hampir semua ibu bapak kesawah, dan banyak pemuda pengangguran. Anak-anak perempuan yang kecil ditinggal di rumah, dibiarkan main sendirian. Nadira langsung bergidik, karena kakek-kakek yang tidak ke sawah menjadi laki-laki beringas melihat anak perempuan yang masih kecil tanpa pengawasan. “Inilah awal tragedi perkosaan,” kata Nadira kepada Sri Nurbaningsih, wartawan koran Inspirasi Rakyat Yogyakarta yang menemaninya ke Karang Sari. 

Seringkali  tugas ke daerah miskin, di sanalah  Nadira melihat anak-anak dan perempuan semakin  tak berdaya. 

Dalam pengamatannya, di sisi lain, banyak juga rumah yang sepi dari kehangatan, kurang sinar agama, kurang keakraban antar keluarga, sehingga ayah bisa berubah menjadi setan. “Tapi ada juga keluarga yang terlalu modern, anak-anak gadis manja yang sudah beranjak remaja dengan celana pendek, selalu menempel di pangkuan ayahnya,” ujar Nadira pada temannya sesama wartawan. Ia teringat dengan kasus temannya, Liliana, yang dua anaknya yang beranjak remaja diperkosa ayahnya. Kelihatan keduanya akrab, ayah suka mengelus tangan dan rambut anak gadisnya, dan sigadis suka bergelayutan pada si ayah.  “Padahal, si ayah masih muda dan anak gadis sudah akil balik. Inilah awal malapetaka itu,” tambahnya dengan sedih, dan seketika juga berkelabatlah wajah Liliana yang sangat menderita.

“Barangkali kita perlu kerjasama dengan kementerian perempuan untuk mengatasi hal ini,”kata Nadira. Intinya, masih banyak musuh yang bergentayangan yang akan menerkam anak perempuan. 

Keinginannya untuk berhenti jadi wartawan, sudah tidak lagi menggebu-gebu, apalagi  setelah     jumpa Faris Alif Akbar, wartawan bintang dari Ujung Pandang. Dari pertemuan lima hari itulah ia menjadi tambah bersemangat  melakoni   pekerjaannya sepenuh hati. “Aku akan tetap menjadi wartawan, kak,”kata  Nadira kepada Faris dalam whats app. 

Namun, dari pertemanan dengan banyak wartawan, Nadira melihat ada masalah cukup serius juga yang menerpa kalangan wartawan. Selain masalah kesejahteraan dan kualitasnya, ada juga skandal wartawan, dan ini sangat memprihatinkannya. 

“Sama-sama punya keluarga, tapi pasangan ini tetap melakukan hubungan asmara terlarang di kantor, ” kata Nadira suatu hari saat  melaporkan temuannya kepada pak Arief di kantor. Pak Arief memilih diam, karena pelaku bukanlah anak-anak atau remaja. “Mereka orang dewasa, Nadira. Seharusnya punya kesadaran sendiri,” jawab pak Arief.   Namun jawaban pak Arief membuat Nadira kecewa. 

Sebenarnya, cerita Nadira bukanlah peristiwa baru. Banyak kawannya yang bergabung dalam Kelompok  Wartawan  Peduli Anak dan Perempuan mengungkapkan bahwa skandal asmara di ruang redaksi  biasanya dimulai karena sering liputan bersama atau selalu duduk berdekatan dalam suatu ruangan. “Maka terjadilah cinta backstreet,”  ujar Nur Alifah, wartawan fajar pagi.com. 

Nggak bisa ada alasan, sungguh suatu hal yang tidak dibenarkan. Bagaimana dia dapat  meliput dengan jujur, kalau dI dalam hatinya ada retak,” jawab Nadira. Dia mengaitkan peristiwa itu dengan kasus-kasus kekerasan seksual teradap anak perempuan yang dimulai dengan kurangnya ketangguhan sang ayah lalu sampai hati memperkosa anak kecilnya. 

“Sebenarnya yang lebih parah lagi kekerasan narasumber pada wartawan,“ tambah Alifah. Dia menceritakan kekerasan itu bisa dalam bentuk kata-kata pelecehan, kirim email porno, mengajak jalan-jalan bahkan sampai ajakan menginap di hotel.

Kalau cuma sekedar duduk berdekatan karena sedang wawancara, masih belum seberapa, Nad. Kita masih bisa bergeser, tambah Alifah. Ia lalu membongkar kasus-kasus kekerasan lain yang masih dihadapi wartawan akibat kelakuan narasumber.

Nadira terperangah mendengarnya  karena tidak menyangka. Gadis  ini masih reporter muda yang belum banyak pengalaman di lapangan dan belum tahu banyak masalah pelecehan yang diakukan  narasumber.

Tiba-tiba saja cita-cita lama yang terpendam yakni ingin berhenti jadi wartawan, kembali muncul.  “Tapi nggak usah takut, Nadira, inilah pentingnya kita bergabung dalam kelompok, supaya kita bisa saling  menjaga,” tambah Alifah. Kita harus berani membuat daftar nama narasumber yang tidak sopan, dan kita blacklist saja, tambahnya. 

Ketika pulang ke kantor usai liputan sambil menunggu pak Arief untuk pulang bersama, Nadira masih terlihat kecewa. Ia langsung duduk di ruang redaksi ekonomi. Masih ada Agus Supardal yang sedang mengedit berita. Tapi bujangan ini  segera maklum, dan tak berani menyapa Nadira.  Gadis ini memang tidak pernah bisa bermain sandiwara, kalau ia sedang marah atau kecewa maka  akan langsung terpancar di wajahnya. Tapi kalau sedang bahagia maka ia akan terus tersenyum.

Lihat selengkapnya