Pagi Minggu. Nadira hanya duduk menemani keluarganya sarapan. Ia hanya diam dan minum kopi susu, sama sekali tak berselera makan nasi uduk dengan bakwan buatan mpok Niroh. Kedua adiknya terlihat lahap karena jarang sekali ketemu nasi uduk. Begitu juga bu Wida dan pak Arief terlihat dengan semangat menikmati sarapannya. Mereka seakan-akan faham kenapa Nadira terlihat lesu. Mungkin masih terbawa pesta semalam bersama Faris.
Akhirnya Nadira bersuara juga. Dia lalu berterus terang, ketemu Andy semalam pada acara pesta pernikahan temannya Faris yang juga adalah kakak kelasnya di IPB. “Andy mengikuti Dira, Yah, sampai acara selesai tanpa mau menyapa kami, bahkan terlihat marah dan siap-siap akan memukul Faris,“ ujar Nadira dengan suara tertahan. Dia baru pulang setelah kami juga mau pulang, tambahnya.
Lho kenapa nggak Dira sapa dulu?” tanya bu Wida. Nadira terdiam, karena dia tahu persis ibunya pasti berpihak ke Andy. “Dira takut, Bu, karena terlihat jelas Andy sangat marah seperti siap-siap memukul Faris, matanya melotot dengan kedua tengannya terkepal,” jawab Nadira. “ Ya tentu saja Dira nggak mau merusak suasana pesta, dan Dira hanya memegang tangan kak Faris terus,” tambah Nadira. Bu Wida juga terlihat agak marah dan menganggap kelakuan Nadira yang terus bergandengan seperti itu justru seolah-olah ingin memanaskan hati Andy. Padahal Nadira sengaja menggandeng lengan Faris selain takut jatuh karena dia mengenakan sepatu highheels, sebenarnya juga untuk mencegah terjadinya huruhara di pesta itu. Ia melihat bagaimana marahnya Andy yang sudah siap-siap memukul Faris, karena berdiri tidak jauh dari mereka..
Nadira terdiam. Dia juga sudah tahu jawaban ibunya akan seperti itu karena Bu Wida sangat sayang dengan Andy, si calon dokter. Pak Arief terdiam, namun dalam hati dia justru membenarkan sikap Nadira, karena Andy lagi-lagi sering menunjukkan sikap egois. Datang ke pesta tidak mengajak Nadira, lalu marah kalau Nadira pergi dengan orang lain.
Kedua adiknya hanya melongo, namun dalam hati kecilnya sepakat untuk setuju dengan sikap kakaknya. Namun mereka tidak berani berkomentar, karena sudah tahu bagaimana sikap ibunya terhadap Andy.
Untuk menyejukkan suasana sarapan, pak Aried menanyakan pada mpok Niroh apakah masih ada es krim di kulkas. Hari masih pagi, namun terasa gerah karena ada yang sedang marah. Ternyata ada, es krim yang sengaja disiapkan bu Wida untuk menjamu Faris. “Apakah Faris tahu kalau ada Andy di dekat kalian ?” tanya bu Wida lagi sambil melihat Nadira yang terus menundukkan kepalanya karena sedih. Nadira memilih diam saja, karena dia juga tidak tahu.
Pak Arief lalu ijin duluan meninggalkan meja makan. Ia memilih duduk di beranda sambil menikmati es krim. Kedua anak laki-lakinya menyusul duduk santai di beranda. Nadira ikutan menyusul sambil membawa mangkok es kirim. Tinggal bu Wida sendirian di meja makan, karena masih saja kecewa. “Nadira harus minta maaf,” ujar bu Wida dalam hati. Ia pun bergegas menyusul ke beranda sambil membawa mangkok es krim juga. Ia langsung minta Nadira besok ke rumah sakit menemui Andy untuk minta maaf. “Salah Dira apa, Bu, Dira nggak mau,” kata Nadira. Bu Wida diam terperangah ditolak anak gadisnya. Bu Wida juga akhirnya tidak mau memaksa lagi, lalu duduk lantai di sebelah pak Arief. Tak lama kemudian, tiba-tiba saja Faris muncul mendadak karena acara makan-makan dengan teman-teman alumninya batal. Pak Arief bahagia sekali. Ia langsung mengajak Faris ke meja makan sarapan nasi uduk. Faris yang melihat Nadira diam saja, langsung menarik tangannya ikut sarapan. Nadira sebenarnya sedang deg-degan karena tidak menyangka akan ketemu Faris. Bu Wida melihat bagaimana lembutnya cara Faris menarik tangan Nadira. Ia memang belum pernah melihat kemesraan Nadira dan Andy. Ia hanya melongo, namun segera tersenyum ketika Faris menyalaminya juga.
“Ya sudahlah, kalau itu pilihanmu, ibu setuju saja nak,” kata bu Wida dalam hati mengalah. Nadira langsung meloncat berjalan bersama Faris menuju ruang makan. Ia juga belum sarapan. Bu Wida ikut menyusul ke meja makan. Dia melihat lamgsung bagaimana kedekatan Nadira dan Faris. Ia juga terpana melihat wajah Nadira yang bersemu merah ketika sedang berbahagia. Faris langsung mengambil nasi uduk dan mengisi piring Nadira. Nadira pun bergantian mengambilkan ayam goreng dan sambal kacang dan meletakknya ke piring Faris. Hanya mereka berdua yang makan dengan nikmat. “Oke lanjut ya, Ayah tunggu di beranda,” kata pak Arief. Nadira langsung berdiri lagi, pindah duduk di sebelah Faris. Bu Wida yang duduk di depannya bingung, langsung berdiri juga ikut suaminya ke beranda. Belum ada tegur sapa bu Wida ke Faris. Hatinya masih kecewa atas sikap Nadira terhadap Andy di pesta semalam. Sejak awal pertemuan, Faris sudah merasakan sikap dingin bu Wida, tapi ia memilih diam, dan hanya berdekatan dengan Nadira. Sambil makan Faris berbisik, bahwa ketika menyanyi melihat punggung Andy semalam di pesta. “Dia ada di dekat kita terus kak, sambil marah,”jawab Nadira. Faris terkejut karena tidak menyangka ternyata Nadira sudah tahu sejak awal kehadiran Andy, tapi memilih cuek saja. “Lega rasanya, ternyata Nadira sudah lengser dari Andy,” kata hati Faris
Selesai makan, Nadira dan Faris segera menuju beranda. Rupanya, bu Wida sudah tidak tahan lagi dan langsung menanyakan apakah Faris melihat Andy di pesta semalam. Faris terkejut. “Saya sedang menyanyi, Bu, saya hanya lihat punggung Andy yang akan pulang, dan Nadira sedang main organ,” jawab Faris pelan. Bu Wida terdiam dan tentu dia tidak punya alasan untuk marah dengan Faris.
“Oh, bisa nyanyi, ya,” kata bu Wida untuk menutup rasa marahnya yang hampir saja meledak. “Kak Faris vokalis band Krakatau di kampus, Bu,” jawab Nadira. Banyak kerjaannya di kampus. Sselain ketua BEM, juga pemimpin redaksi koran kampus, tambah Nadira yang sengaja mempromosikan Faris.
“Kami berdua rencananya juga akan mencari beasiswa Ohio, Bu. Kata Ayah, siapa tahu bisa bareng kuliah, ya kak,” tambah Nadira, seakan-akan ingin memanas-manasi hati bu Wida yang sangat menyanjung Andy, sicalon dokter. Bu Wida terdiam.
Pak Arief yang mendengar celoteh Nadira, hanya tersenyum-senyum. Setelah ngobrol ringan, Nadira mengajak Faris ke perpustakaan di Taman Ismail Marzuki, baca-baca sambil cari info rahasia mereka yang berhasil lolos, untuk persiapan ujian LPDP. Mereka berdua juga langsung ke kantor LPDP di Universitas Mercu Buana. Tapi di tengah jalan di dalam taksi, Nadira berujar belum tentu akan kuliah di Ohio. “Dira mau kuliah di Sydney University kak, lanjutkan kuliah ke jurusan bisnis ekonomi,” kata Nadira. Lagi-lagi Nadira hanya tersenyum dan menambahkan bahwa dia akan puas-puas kuliah dulu. “Kalau perlu Dira mau lanjut terus ambil PhD,” katanya.
Antara senang mendengar semangat belajar Nadira, tapi di sisi lain Faris tiba-tiba saja merasa sendu karena itu berarti tidak jadi kuliah bareng. Sudah terbayang jauhnya jarak Sydney-New York. Faris hanya menatap Nadira. “Oke Ra, nanti kita balapan siapa yang duluan selesai kuliahnya,” kata Faris.
Menjelang Magrib, barulah mereka sampai di rumah lagi. Pas azan. Mereka semua bersiap-siap salat berjamaah di rumah. Pak Arief langsung meminta Faris menjadi imam. Faris terbiasa membacakan doa-doa yang cukup panjang dengan suara lembut. Bu Wida tak menyangka, ia terharu, doa Faris terasa menyejukkam hatinya sambil titik air matanya. Begitu juga pak Arief yang tak menyangka betapa merdunya suara Faris ketika membaca ayat.