Selama tiga hari menjadi tamu di kantor Indonesia Raya, Faris merasa nyaman. Hampir setiap jam, ia terlibat langsung diskusi panjang dengan pak Arief, sang bos. Dalam waktu sekejap, ia pun sudah kenal dengan semua awak media serta seluk beluk kantor.
Pak Arief pun merasa lega, karena penampilan Faris sesuai dengan harapannya. Ia langsung saja minta Faris untuk memperpanjang cutinya. Namun, Faris dengan elegan mengatakan tidak bisa karena banyak tugas di kantornya. “Saya tambah pintar di kantor ini, banyak pelajaran penting dari pak Arief. Tapi saya besok lusa harus pulang ke Ujung Pandang, penerbangan sore, karena sudah ditunggu, “ kata Faris. Ia segera menangkap raut kekecewaan pak Arief. Keduanya lalu terdiam, larut dengan pikirannya masing- masing.
Tak lama kemudian, menjelang makan siang, Nadira, Valeri, Aleyssa, Marissa dan Anggita, baru saja pulang liputan bersama mengikuti seminar kekerasan pada anak di kantor kementrian perempuan dan anak. Mereka sengaja liputan bareng untuk menambah pengetahuan mengenai kekerasan pada anak. Kan, mereka tim investigasi kekerasan seksual pada anak.
. Nadira langsung saja melongok ke ruang kerja pak Arief untuk bersalaman. Ia terkejut karena ada Faris. “Hai, kak,”sapa Nadira. Faris tersenyum dan langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman juga, salam yang sangat erat seperti yang dilakukannya untuk Valeri. Rupanya, itu adalah gaya Faris setiap kali bersalaman dengan perempuan sebagai tanda hormatnya. Banyak perempuan yang salah mengartikannya.
Nadira langsung menuju meja redaksinya. Ternyata Faris juga keluar lalu mengikutinya dari belakang setelah ijin dengan pak Arief. Ia hanya melihat bagaimana sigapnya Nadira mengetik laporannya. “Nanti aku yang edit, ya Ra,” kata Faris. Nadira hanya tersenyum seolah-olah dengan sengaja memamerkan lesung pipitnya yang menggoda Faris.
Ia masih menunggu berita teman-temannya. Setelah digabung barulah diserahkannya kepada Faris. Pak Arief memang sengaja memberikan hak istimewa kepada Faris untuk ikut mengedit berita di Timely. Faris tidak membawa laptop. Ia lalu berpindah duduk dengan Nadira. Tak jauh dari mereka, di redaksi sebelahnya, Agus Supardal dengan nanar melihat sinetron pasangan yang sedang duduk berdekatan ini. “Wah hebat Ra, hampir tidak ada coretan. Tulisan beritanya sempurna,” kata Faris.
Emoat temannya yang liputan bersama ini juga lalu beranjak ke meja redaksi Nadira untuk melihat adakah masukan atas tulisan mereka. Hampir saja mereka berteriak bareng karena tidak ada kesalahan sedikit pun. Padahal, mereka sudah deg-deg karena yang mengoreksi adalah wartawan bintang dari Sulsel. Mereka masih tetap nongkrong di dekat meja Nadira.
Namun, Faris ingin memberikan masukan. “Kalau bisa liputan bareng itu bukan berarti harus keroyokan lalu berangkat bersama-sama ke satu acara. Tapi ada pembagian tugas untuk topik yang sama, misal wawancara psikolog. Jadi, beritanya berkedalamam dari berbagai sudut, tidak hanya tentang seminar,” ujar Faris.
Kalau seperti ini beritanya, nggak salah, tapi hanya menunjukkan who says what semata belum memberi tahu pembaca apa yang harus dilakukannya, tambah Faris. Itulah Ra, salah satu penyebab kenapa berita kekerasan seksual terhadap anak selalu ada setiap hari, tapi jumlah kasus belum surut, tegas Faris sambil melihat Nadira dengan tatapan tajam karena Nadira adalah ketua tim investigasi kekerasan pada anak. Nadira lalu balik menatap Faris. Dia faham.
Kelima gadis ini terperangah. Dalam pikirannya, liputan bareng itu adalah pergi bersama-sama ke satu acara, seperti yang selama ini mereka lakukan. Makanya, ada kegembiraan sendiri bagi geng cewek ini jika ada tugas liputan bareng karena bisa keluyuran bersama.
Faris tersenyum. Ia menambahkan, kalau cara seperti ini, maka kantor akan rugi. Pergi liputan satu acara, berita hanya satu, tapi yang pergi ke luar kantor ada lima orang. Mereka berlima seperti mendapat teguran, hanya bisa terdiam, dan tidak menyangka ada pak Arief yang juga ikut mendengar teguran Faris. Ia tersenyum bahagia, karena Faris sudah menunjukkan kebolehannya.
Meski sudah mulai bisa menerima kehadiran Faris, bu Wida masih penasaran dengan sikap Andy. Apakah benar mereka sudah bubar? Pada jam istirahat di kantornya, ia ijin lalu lari sekejap ke rumah sakit, tempat Andy koas. Ia pergi ke kantin dulu untuk melihat suasana rumah sakit itu. Seperti wartawan, ia juga menyimak lingkungan. Ada rasa kurang nyaman, karena yang namanya rumah sakit tentu akan bertemu dengan orang sakit. Bu Wida tidak tahan. Minuman dan makanan kecil yang sudah dipesannya langsung ditinggalkannya. Dia juga sudah tidak berminat mencari informasi di mana bagian tugas Andy.
Namun, ketika dia akan mencegat taksi di pelataran parkiran, tidak sengaja justu ketemu Andy yang juga akan pulang setelah dinas semalaman keliling bangsal pasien. Bu Wida segera memanggil Andy yang terlihat lesu. Andy terkejut. Lalu mereka berdua ke restoran di seberang rumah sakit. Andy memesan roti bakar, bu Wida sama sekali tidak bisa menyentuh makanan apa pun setelah melihat banyak orang sakit.”Ibu nggak kuat ya melihat orang sakit. Inilah lingkungan kerja Andy, bu,” kata Andy dengan suara getir.
Setelah terdiam sejenak dengan pikirannya masing-masing, barulah bu Wida menanyakan kenapa Andy sudah tidak pernah datang ke rumah lagi. “Pasti Nadira sudah cerita ya Bu, dan dia juga sudah bersama orang lain, Bu. Buktinya, sudah berbulan-bulan tidak jumpa, ia tidak bertanya sedikit pun apalagi mau menemui Andy,” jawab Andi dengan nada pasrah. Dia juga sempat mengungkapkan pertemuannya dengan Nadira yang bergandengan mesra dengan Faris di pesta pernikahan sepupunya. “Tapi Nadira berlagak tidak melihat saya, Bu,” kata Andy.
Bu Wida tercengang dengan penjelasan Andy yang justru menyalahkan orang lain. Dia sendiri tidak berusaha keras untuk merebut kembali cinta Nadira. Andy juga tidak berusaha mendapatkan penjelasan Nadira. Bu Wida belum tahu anaknya sudah jumpa dengan Andy, dan keduanya sudah merasakan ada retak di antara mereka. Dalam sekejap, pikiran dan perasaan bu Wida berubah 180 derajat. “Andy ternyata cengeng, egois, dan seperti orang sakit juga, cenderung menyalahkan orang lain saja,” kata bu Wida dalam hati. Kalau semula ia kagum dengan Andy sebagai calon dokter, sekarang sudah terbalik. Apalagi ia sempat duduk di kantin yang juga penuh dengan orang sakit, tempat Andy suka makan juga.
Bu Wida sekarang sudah punya gambaran tentang Andy yang setiap saat akan berurusan dengan orang sakit. “Kasihan Nadira, kalau harus bergaul dengan orang yang pekerjaannya hanya mengurus orang sakit,” kata bu Wida dalam hati. Ia merasakan mulai ada penolakan secara tidak langsung terhadap Andy yang pasti setiap hari hanya mengurus orang sakit. “Ooh no... jangan sampai ya Dira,” bisik bu Wida. Selama ini ia hanya terpukau dengan gelar dokter, tapi tidak pernah tahu apa kerja dan bagaimana lingkungannya.
“Baiklah nak, ibu pamit dulu ya,” kata bu Wida terburu-buru karena tidak ingin memperpanjang masalah dengan orang yang setiap hari berurusan dengan orang sakit, meski itu adalah pekerjaan mulia. Bu Wida langsung memesan taksi menuju kantor pak Arief. Dia sudah tidak tahan lagi, seperti orang mau pingsan.
Ternyata ibu dan anak sama-sama mudah pingsan. Bu Wida baru saja sampai di halaman kantor Timely. Tiba-tiba saja dia oleng dekat warung kopi. Ada seorang wartawan yang kenal dengan bu Wida, langsung memapahnya masuk ke ruang dokter di lantai dasar. Ia langsung memanggil pak Arief dan Nadira, yang langsung loncat menuju ruang dokter. Faris juga terkejut dan bersama Agus Supardal yang juga mendengar info tersebut berlarian ke lantai dasar.
Ruang redaksi langsung geger. Hampir semua wartawan sudah kenal bu Wida, kerena mereka sering kerumahnya untuk ketemu pak Arief. Lima menit kemudian barulah bu Wida sadar, dan langsung memeluk Nadira.
Bu Wida hanya duduk terdiam. Ia lalu minta pak Arief agar pulang saja. Pak Arief langsung membatalkan rapat khusus sore itu, dan bersama Nadira dan Faris langsung pulang. Dalam perjalanan pulang, tak satu pun yang bertanya. Semuanya diam membisu.
Akhirnya bu Wida bersuara juga dan menanyakan kapan Faris balik ke Ujung Pandang. “Lusa Bu, penerbangan pertama pagi, karena mau langsung masuk kantor,” jawab Faris pelan. Nadira malah belum tahu jadwal kepulangan Faris, karena biasanya orang cuti minimal seminggu.
“Besok sore kita buat acara perpisahan seluruh redaksi dengan Faris, selain ada pengumuman penting yang akan saya sampaikan. Rapat evaluasi Jumat kita ajukan saja besok pagi, agar kita tahu bagaimana penilaian Faris,” kata pak Arief masih dalam mobil. Kita semua makan bersama di restoran Sentosa Senayan di GBK, tambahnya. Sesampainya di rumah, semuanya duduk di beranda untuk menenangkan bu Wida yang masih terlihat pucat.
Setelah minum kopi panas dan pisang goreng, barulah bu Wida menceritakan pertemuannya dengan Andy di rumah sakit. “Ibu hanya ingin tahu saja, kenapa dia langsung menghilang,” kata bu Wida. Pak Arief, Nadira dan Faris sangat terkejut. Mereka tidak menyangka bu Wida akan senekat itu. “Tapi jangan salah sangka dulu, bukan ibu minta agar dia balik lagi, ibu hanya cek ricek saja. Pagi itu ibu melihat banyak sekali orang sakit. Yaa, namanya juga di rumah sakit. Ibu langsung tidak kuat, “kata bu Wida dengan suara pelan sekali. Faris hanya tercengang, kuatir bu Wida berubah pikiran.
Nadira terdiam. Faris terdiam. Pak Arief terus menatap bu Wida. Mereka masih menunggu mungkin ada penjelasan lanjutan bu Wida. Mpok Niroh datang dan menyuguhkan kotak es krim. Mpok Niroh sudah tahu kalau ada sesuatu yang terjadi dan dia tahu juga kebiasaan bu Wida selalu menyediakan kotak es krim untuk meredakan suasana apa pun. Nadira lalu mengisi mangkok-mangkok es krim dan menyerahkannya kepada bu Wida, Faris dan pak Arief. Betul juga resep bu Wida yang berlatar belakang psikologi ini, ksrena mereka yang makan es krim ini lalu jadi lumer hatinya seperti lumernya es krim. Mereka lalu duduk lesehan
Mereka mulai tertawa-tawa, karena pengalaman bu Wida sama juga dengan Nadira beberapa waktu lalu. Tidak tahan melihat orang berdarah-darah. Namun Nadira masih sempat melihat-lihat bangsal anak meski dari jendela besar. Ia hanya bisa menangis. “Dira bersyukur nggak jadi kuliah di kedokteran. Nggak kebayang kalau harus melihat anak kecil kesakitan, hanya orang yang kuat mental yang bisa jadi dokter,”ujar Nadira. Faris hanya menatap Nadira. Dengan jenaka ia menambahkan kalau Nadira kuliah di kedokteran, kita nggak ketemu ya Ra. “Hahaha,” mereka tertawa bersamaan.
Masih sambil lesehan di beranda, pak Arief menyinggung rencana kuliah di Ohio nanti. Faris tetap dengan pilihan pertamanya, ingin melanjutkan ke journalism.”Banyak alasannya, pak, apalagi sekarang banjir informasi dan masyarakat mulai tidak mau baca koran,”kata Faris. Nanti mau daftar LPDP di Ujungpandang, sambil bereskan skor Toefl, tambahnya.
“Bagaimana Dira, nak, jadi ke Ohio juga ya,” kata pak Arief. “Nggak, Yah, pilihannya ke Sydney University atau Oxford University di Inggris. Dira nggak mau ke Amerika,” jawab Nadira. Bu Wida dan pak Arief tercengang. Sebagai seorang ibu dan seorang ayah, keduanya merasa tenang jika Nadira bisa kuliah bersama Faris, seseorang yang sudah dioercayainya.
Faris pun terlihat kecewa. Bayangan kuliah bareng dengan Nadira pupus sudah. Nadira berubah. Gadis ini gampang berubah. Memang rada-rada plin-plan.
Rupanya selama ini, Nadira juga sering liputan masalah kemiskinan. Dari hasil risetnya. ia menemukan salah satu penyebab kekerasan pada anak juga adalah kemiskinan. Untuk itu, ia sering ketemu dengan narasumber Bagus Suratno, pakar kebijakan publik dari UGM. Nama Bagus Suratno cukup terkenal di kalangan wartawan, dengan panggilan mas Bagus. Dia selalu hadir ketika wartawan membutuhkan pemikirannya dalam masalah apa saja terutama menyangkut kemiskinan. Selain masih muda, pintar, tampan, juga santun pada wartawan. Mereka sering bertemu untuk diskusi atau makan siang bersama. Nadira mulai kesengsem dengan narasumber UGM ini, lulusan S3 Universitas Oxford di Inggris, yang hampir setiap bulan menjadi dosen terbang di kampusnya. Nadira tertarik untuk kuliah di kampus terkenal ini.
Pak Arief tidak tahu tentang narasumber ini. Teman-teman Nadira di kantor juga sama tidak tahu, karena kadangkala Nadira ingin menghasilkan berita yang ekslusif. Dia bergerak sendiri. “Dira ingin melanjutkan kuliah ke ekonomi, meneruskan studi Dira di S1,” katanya lagi memberi alasan.
Semuanya lagi-lagi hanya bisa diam. Faris merasa kena bom, karena tiba-tiba saja dia menghadapi masalah baru yang tak disangka-sangkanya. Baru semalam mereka masih bergandengan mesra di pesta. Baru tadi malam pula ia berikrar minta ijin untuk boleh mencintai Nadira. Tapi apa yang terjadi. Ternyata Nadira menyimpan rahasia yang sangat dalam. Dia jatuh cinta dengan narasumbernya.
Namun, Faris segera menenangkan dirinya, sambil menatap Nadira lembut. “No. aku akan terus mempertahankan cintaku, Nadira sedang tergoda, sikapku tidak akan berubah, sayang,” kata Faris memantapkan hatinya,
Lagi-lagi, mereka terdiam agak lama juga. Bu Wida lalu berusaha mencairkan suasana. Ia mengajak makan siang. “Bagaimana kalau kita makan bakmi goreng GM saja siang ini,” kata bu Wida. Boleh bu, jawab Faris. Ia lalu berdiri dan langsung menarik tangan Nadira untuk pergi ke restoran bakmi GM di seberang rumahnya. Nadira terkejut. Tapi ia tetap menurut . Mereka bergandengan menyeberang jalan, lalu langsung ke restoran memesan lima bungkus bakmi goreng. Faris tetap menggengam tangan Nadira, seperti biasa ia lakukan kemana pun mereka pergi berdua.
Nadira tersenyum, dan Faris pun kembali berdebar melihat lesung pipitnya. Semuanya memilih makan siang di beranda. Ternyata, kurang satu bungkus bihun goreng buat Nadira yang sudah alergi dengan mie goreng. “Dira makan bakso dan sayurnya saja ya, “ katanya pada Faris. Mereka makan berdua. Faris menyisihkan bakso lalu menyuapkannya kepada Nadira. “Pasangan yang mesra,” ujar pak Arief dalam hati sambil berdoa. Masih di beranda, suasana sudah mulai ceria. Faris sudah bisa menenangkan dirinya. Tapi Nadira masih merasa bersalah. Dalam hatinya selalu berkelabat bayangan narasumber kesayangannya, Bagus Suratno. “Mas Bagus, I love you,” kata Nadira pelan sekali. Namun masih dapat didengar Faris yang duduk di sebelahnya.