Ngeracik Tears

MRIDHOSAD
Chapter #1

1. Cold Brew (Pendingin Suasana)

Tuk. Tuk. Tuk.

Seorang laki-laki yang rambutnya comma dengan poni di sisi kanan, duduk di kursi meja makan. Tangan kanannya bergerak dengan presisi, memotong daging buah berwarna kuning menjadi potongan dadu. Tekstur buah yang lembut mengeluarkan cairan setiap kali dipotong di permukaan talenan kayu. Aroma yang manis memenuhi udara di dapur itu.

Laki-laki menggunakan punggung bilah pisau dan telapak tangannya, lalu memasukkan potongan-potongan buah yang berair itu ke dasar gelas mason jar. Dia menuangkan cairan kental berwarna hitam pekat ke gelas itu.

Di sudut meja, sebuah pot kecil berisi tanaman berdaun hijau berdiri di bawah sorot lampu. Bayangannya memanjang di permukaan meja. Laki-laki itu memetik beberapa helai daunnya, meletakkannya di telapak tangan, lalu menepuknya sekali. Dia menjatuhkan daun-daun itu ke atas tumpukan potongan buah di dalam gelas. 

Laki-laki itu membuka tutup toples kaca di depannya. Tangan kanannya mengambil sejumput daun-daun yang kering di dalam toples itu. Dia memasukkan daun-daun itu ke dalam kantong kecil yang berpori-pori halus, menarik talinya hingga rapat, lalu meletakkannya ke gelas

Laki-laki itu meraih teko plastik bening yang berisi air bersuhu ruang, lalu menuangkannya ke dalam gelas. Perlahan aliran air menyapu kantong itu, menenggelamkan potongan mangga dan daun mint di dasarnya. Buih-buih kecil merambat naik ke permukaan air. Dia menutup gelas itu, bangkit berdiri, lalu memasukkannya ke dalam kulkas.

————————————————————

Di bawah pepohonan besar, suasana kantin Bengkok diselimuti oleh riuh percakapan. Udara di kantin itu berbau campuran antara aroma kuah soto yang gurih, keringat yang masam, dan asap rokok elektrik yang sesak. Jam dinding plastik berlogo perusahaan bank berwarna biru, jarumnya menunjukkan pukul setengah satu lewat sepuluh menit.

Jingga duduk di meja kayu formika di sudut kantin itu. Rambutnya panjang bergelombang dengan poni tipis membingkai wajahnya dengan riasan clean girl look. Sudut alisnya terangkat sedikit. Dia mengenakan kemeja satin longgar lengan pendek berwarna putih yang ujung kain satunya dikeluarkan.

Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt. 

Ponsel Jingga bergetar di saku celana jeans baggy-nya berwarna hitam pudar dengan robekan di area lutut kiri. Sabuk kulit berwarna cokelat tua dengan gesper logam berwarna perak melingkari pinggang. Dia mengabaikan getaran itu. Rahangnya mengeras. Jari telunjuknya mencongkel ujung stiker bekas kampanye pemira di atas meja itu. 

“Sumpah ya, Ji, gue tuh udah ngetik panjang lebar setara draft skripsi bab pertama,” seru Yuni, suaranya naik satu oktaf. 

Yuni duduk di hadapan Jingga dalam balutan kemeja lengan pendek berwarna abu-abu kecokelatan dan celana cargo longgar berwarna hitam. Rambutnya panjang bergelombang dengan belahan tengah. Riasan wajahnya natural. “Gue udah jelasin alasan kenapa gue marah ke dia. Terus… lo tau nggak dia bales apa?” 

“Emang cowok lo itu balesnya gimana, Yun?” tanya Jingga, suaranya serak. “Yun, bisa diem bentar nggak? Dari tadi lo ngomongnya sambil teriak-teriak,” gumam batinnya

Yuni menggebrak meja itu. Botol air mineral yang kosong di atas meja itu melompat. “Dia cuman bales pake stiker kucing nangis, Ji. Itu namanya insult intelektual." 

Jingga mengangguk pelan. “Mungkin dia bingung mau ngomong apa, Yun.”

Insult intelektual. Coba lo bayangin insult finansial. Pas saldo rekening cuma cukup buat beli gorengan, tapi lo harus tetep kelihatan slay di depan orang-orang.” ujar batin Jingga.

Yuni meraih gelas plastik bening di meja itu, lalu menyedot sisa cairan keruh yang tinggal bongkahan es batu di dasarnya. “Bingung dengkulmu! Cowok itu emang nggak punya sense of crisis. Lo ngertikan perasaan gue, Ji? lo pasti ngerti kan gimana sebelnya kalau komunikasi nggak nyambung?”

“Gue ngerti Yun apa yang lo rasain,” jawab Jingga pelan.

Yuni tersenyum tipis. “Sudah kuduga kemampuan lo sebagai anak Humas. Orang-orang nggak salah mengenal lo sebagai social butterfly di kampus dan hidupnya selalu mulus. Dan teme deket gue yang selalu tampil cantik dan modis dengan feed media sosial estetik.”

Jingga menghela napas. Di bawah kolong meja itu, dia menarik kedua kakinya, menyembunyikan ujung sepatu hak tinggi berwarna hitam yang sudah terkelupas. “Lo dan orang-orang nggak tahu aja. Di balik semua label itu…” 

Bzzzt… Bzzzt… Bzzzt…

Jangan diangkat… diemin aja Ji!” gumam batin Jingga.

Yuni melambaikan tangan kanannya di depan wajah Jingga. “Jingga. Lo dengerin gue ngomong nggak sih dari tadi?” 

Jingga mengerjap. “Eh… Maafin gue, Yun. Gue… gue tadi lagi mikirin rundown acara festival budaya buat minggu depan. Takut ada yang kurang.”

"Yaelah, workaholic amat sih lo. Itukan bisa dipikirin nanti. Santai dikit napa," cibir Yuni. “Atau… Jangan bilang lo juga lagi ada masalah.”

Jingga menyunggingkan senyum tipis. “Dengerin kok, Yun. Stiker kucing, kan? Cowok mah mungkin memang suka begitu. Kadang nggak punya rasa empati.”

“Nah, makanya, Ji,” sambar Yuni. “Menurut lo gue harus gimana? Gue block aja kontak dan medsosnya, atau gue samperin ke kosannya. Terus… gue lempar kepalanya pake batu bata?”

Jingga menghela napas. “Sabar, Yun.” Dia meraih selembar tisu dari tas kecil kulit berwarna hitam, lalu menyeka keringat yang menempel di lehernya. 

Kipas angin yang menggantung di atap kantin berputar kencang. Namun, udara di kantin itu masih terasa pengap dan makin panas.

Yuni mendengus kasar. Dia meraih kipas portabel berwarna pink di atas meja itu, lalu mengipaskan ke wajahnya. "Panas banget siang ini, ya. Rasanya gue bisa meleleh kayak lilin."

Jingga mengangguk pelan. “Musim kemarau lagi puncak-puncaknya sebelum masuk ke musim hujan sih.” Napasnya perlahan menjadi memburu. Tiba-tiba, sesuatu yang sedingin es menempel di pipi kanannya. “Aah!” Dia menoleh ke arah kanan. Seorang laki-laki berdiri di sampingnya. “Arya!” 

Arya mengenakan celana chinos berwarna cream dan kaos polos berwarna putih yang dibalut dengan apron berwarna krem dengan noda-noda pudar di kainnya. Tangan kanannya memegang sebuah gelas mason jar yang berembun.

Yuni menatap Arya. “Eh, ada Kak Arya. Tumben nih datang ke kantin. Mau ketemu Jingga doang nih pasti.”

“Kurang kerjaan banget hidup lo, Ya. Cari kesibukan lain kek,” cibir Jingga 

Arya meletakkan gelas itu di atas meja. “Muka lo kayak orang mau pingsan, Ji.” 

Cahaya matahari yang terik menembus gelas kaca bening itu, membuat cairan berwarna kuning kemerahan di dalamnya berpendar keemasan. Embun itu menetes perlahan dari dinding gelas, meluncur turun ke bawah, lalu membentuk genangan air seperti danau di permukaan meja itu

Mata Jingga melirik gelas itu. Potongan buah berwarna kuning cerah mengapung di antara lembaran daun hijau dan bongkahan es batu. “Apa nih?”

Lihat selengkapnya