Ngeracik Tears

Muhammad Ridho Saputra Arif Darmawan
Chapter #1

1. Cold Brew (Pendingin Suasana)

Di bawah pepohonan besar tengah hari, suasana kantin Bengkok diselimuti oleh suara keriuhan percakapan dari puluhan mahasiswa. Udara di ruangan itu berbau campuran antara uap kuah soto, keringat mahasiswa yang masam, dan kepulan asap rokok elektrik yang terasa menyesakkan. Jam dinding plastik berlogo perusahaan bank berwarna biru, jarumnya menunjukkan pukul setengah satu lewat sepuluh menit.

Di sudut kantin, Jingga menyandarkan sikunya di atas meja kayu yang dilapisi formika. Permukaan meja itu terasa lengket oleh noda kecap dan saos sambal. Dia merasa kepalanya seolah sedang dipaku perlahan-lahan.

Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt. 

Ponselnya bergetar di saku celana jeans baggy-nya berwarna hitam pudar dengan robekan di area lutut kiri. Jingga mengenakan kemeja satin berwarna putih tulang dengan kerah terbuka dan lengan pendek. Satu sisi kain kemeja dimasukkan ke dalam celana, menonjolkan kontras ikat pinggang kulit berwarna hitam dan gesper logam berwarna perak. Rambutnya panjang bergelombang dengan poni tipis, jatuh melewati dada. Riasan wajahnya clean girl look.

Jingga mengabaikan ponselnya untuk tahu isi notifikasi itu. Entah dari ibu kos yang menagih uang sewa bulan ini, atau peringatan kuota internet yang sekarat. Rahangnya mengeras saat telunjuknya mulai mencongkel ujung stiker bekas kampanye pemira di atas meja. Baginya, itu satu-satunya hal saat ini yang bisa dikendalikan dan dihancurkan dengan sesuka hati.

“...sumpah ya, Ji, gue tuh udah ngetik panjang lebar setara skripsi bab pertama. Gue jelasin alasan kenapa gue marah ke dia. Terus… lo tau nggak dia bales apa?” suara Yuni melengking. Dia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna abu-abu kecokelatan yang ujung kainnya berakhir tepat di atas pinggang, dan celana cargo longgar hingga ke pergelangan kaki berwarna hitam.

Jingga mengangkat wajahnya, memaksakan sudut bibirnya terangkat tipis. “Emang cowok lo balesnya gimana, Yun?” suaranya serak, kerongkongannya terasa seperti baru saja diparut kertas pasir. Dia ingin berteriak ke Yuni, memintanya untuk diam. Namun, gadis itu butuh teman untuk berbagi meja.

Yuni menggebrak meja, membuat Jingga tersentak. Botol air mineral kosong di depannya melompat. “Dia cuman bales pake stiker kucing nangis, Ji! Itu namanya insult intelektual," ujarnya, suaranya melengking. Jemarinya menyisir rambutnya yang panjang bergelombang dengan belahan tengah. Riasan wajahnya natural.

Jingga mengangguk pelan. “Insult intelektual. Coba lo bayangin insult finansial pas saldo rekening cuma cukup buat beli gorengan, tapi lo harus tetep kelihatan slay di depan orang-orang.” ujar batinnya.

“Mungkin dia bingung mau ngomong apa, Yun” jawab Jingga diplomatis.

“Bingung dengkulmu!” Yuni menyedot sisa teh manisnya yang tinggal bongkahan es batu. “Cowok itu emang nggak punya sense of crisis. Lo ngerti kan perasaan gue, Ji? Lo kan anak Humas.”

Jingga ingin tertawa. Orang-orang mengenalnya sebagai social butterfly kampus. Mahasiswi yang selalu tampil cantik dan modis dengan feed media sosial yang terkurasi estetik. Mereka tidak tahu, sol bagian dalam sepatu hak tinggi runcing berwarna hitam sudah menipis hingga dia bisa merasakan tekstur kasar lantai semen. Mereka tidak melihat bahwa di balik senyum dan label "anak Humas" itu, ada teriakan yang mengganjal di pangkal tenggorokannya.

Bzzzt… Bzzzt… Bzzzt…

Ponselnya bergetar kembali di saku celana. Namun, kali ini terasa memanjang. Telepon? Jantung Jingga berdegup sinkron dengan getaran itu. “Jangan diangkat… diemin aja Ji!”

“Ji? Lo dengerin gue nggak sih daritadi?” tegur Yuni, melambaikan tangan kanannya.

“Eh? sorry, Yun. Gue... lagi mikirin rundown acara buat minggu depan. Takut ada yang kurang,” sahut Jingga cepat.

"Yaelah, workaholic amat sih lo. Itukan bisa nanti. Santai dikit napa" cibir Yuni.

“Dengerin kok, Yun. Stiker kucing ya? Cowok mah memang gitu. Kadang nggak punya empati.”

“Nah, makanya! Menurut lo gue harus gimana? Gue block aja, atau gue samperin ke kosannya. Terus… gue lempar pake batako ke kepalanya?”

Kepala Jingga berdenyut. Imaji Yuni melempar batako berkelindan dengan bayangan ibu kos datang ke kamarnya. Dunia terasa seperti menyempit, membuat napasnya terasa pendek dan patah-patah.

Panas di kantin makin menjadi-jadi. Kipas angin yang menggantung di atap kantin berputar lesu seolah mengejek mereka dengan hanya memutar udara pengap yang sama

Yuni mengipas-ngipaskan lehernya yang berkeringat dengan kipas angin portable. "Gila, panas banget hari ini. Rasanya gue mau meleleh jadi lilin."

Jingga mengangguk lemah. Keningnya mulai dibasahi oleh keringat yang mengucur pelan. Tiba-tiba, sesuatu yang sedingin es menempel di pipi kanannya. 

“Aah!” Jingga tersentak. Rasa dingin itu bukan sekadar sejuk melainkan terasa seperti sengatan listrik yang membekukan saraf-saraf wajahnya yang sedaritadi tegang. Seketika, hiruk-pikuk kantin, pekikan Yuni, dan bisingnya dunia diredam oleh keheningan yang mendadak. 

Jingga menoleh cepat. Seorang laki-laki berdiri di sana. Itu Arya, mengenakan celana chinos berwarna cream dan kaus putih polos yang dibalut dengan apron kanvas navy dengan noda-noda samar di kainnya. Rambut comma dengan sentuhan helaian poni di sisi kanan. Laki-laki itu membawa aroma sabun cuci baju yang harum bercampur dengan wangi kayu manis. 

“Muka lo kayak orang mau pingsan,” ujar Arya, suaranya dingin. Dia meletakkan gelas mason jar itu di atas meja.

Tak.

Cahaya matahari yang terik menembus gelas kaca bening itu, membuat cairan berwarna amber kemerahan di dalamnya berpendar keemasan. Embun air menetes perlahan dari dinding gelas, meluncur turun ke bawah, lalu membentuk lingkaran basah di permukaan meja.

Jingga menatap gelas itu. Potongan mangga kuning cerah mengapung di antara lembar daun mint yang segar dan es batu. “Apa nih?” tanyanya sinis.

“Bensin,” jawab Arya singkat. Dia menarik kursi plastik dari meja sebelah, lalu memutarnya. Laki-laki itu duduk mengangkang dengan sikap santai. Tapi matanya meneliti wajah Jingga seperti seorang arsitek yang sedang memeriksa retakan pada pondasi bangunan. “Muka lo merah. Kuping lo merah,” lanjutnya, lalu menunjuk gelas yang dibawanya dengan dagu. “Minumin dulu dengan itu. Mumpung esnya belum cair jadi air kali.”

Jingga menegakkan punggung, menarik tangannya dari meja. “Gue nggak pesen!” Dia benci terlihat lemah, apalagi di depan Arya. 

Yuni yang sejak tadi hanya diam, langsung menyambar. “Eh, Kak Arya! Tumben ke kantin. Kok gue nggak ditawarin sih?”

Arya menoleh sekilas ke arah Yuni. Tatapannya sedikit melunak. “Stok terbatas untuk hari ini sih, Yun. Kalo mau nanti kapan-kapan gue buatin.”

Lihat selengkapnya