Jingga memasukkan kedua kakinya ke dalam sepasang kitten heel berwarna hitam senada dengan celana baggy. Dia memasukkan sisi kanan depan ujung kemeja satin longgar berwarna putih tulang yang lengan panjangnya digulung hingga siku, mengencangkan ikat pinggang lebar berwarna charcoal, lalu membuka pintu.
Seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu kamar kos Jingga. “Eh, Nak Jingga. Pas banget.”
Kedua tangan Jingga menggenggam tali tas selempang kulit berwarna cokelat tua. “Iya, Bu?”
Ibu itu menyunggingkan senyum tipis. “Maaf ya, Ibu ganggu pagi-pagi. Soal uang sewa bulan ini…”
“Maaf, Bu. Uang beasiswa saya masih belum turun. Hari ini saya mau coba urus lagi ke bagian kemahasiswaan,” balas Jingga, suaranya lembut.
Ibu itu mengangguk pelan. “Ibu ngerti, Nak. Makanya Ibu nagih lagi. Kalau bisa sebelum siang ya, Jingga. Soalnya sudah lewat lima hari.”
Jingga menarik napas. “Iya Bu, Saya usahain hari ini uangnya ada.”
“Terima kasih ya, Nak Jingga. Ibu tunggu.” Ibu itu berbalik badan, lalu berjalan menjauhi Jingga.
Jingga menghela napas. Hembusan angin mengibarkan rambut panjangnya yang lurus. Dia mengunci pintu kamarnya, lalu berjalan kaki menuju kampus Institut Teknologi Bandung.
Jingga menuruni undakan tangga di Sunken, melangkah ke salah satu ruang terbuka sekretariat mahasiswa. Delapan orang duduk di bangku meja kayu panjang. Dia membungkukkan badannya sedikit. “Maaf, Dim… Semuanya. Gue telat datangnya.”
Dimas menoleh ke arah Jingga. “Nggak apa-apa, Ji. Kita juga baru mulai. Duduk.”
Jingga duduk di meja itu, lalu mengeluarkan laptop dari tasnya.
“Ji, update kerja sama dengan vendor umkm gimana?” tanya Dimas, suaranya datar..
“Sebelas vendor sudah ngasih konfirmasi. Delapan vendor sudah transfer biaya partisipasi. Tiga sisanya minta perpanjangan waktu pembayaran sampai besok.” jawab Jingga, suaranya pelan. “Tapi ada dua vendor yang minta revisi posisi booth.”
“Soal layout jangan kita ubah lagi. Kalau sekarang kita nurutin satu vendor, nanti vendor lain juga bakal minta perlakuan yang sama,” sela mahasiswa berjambang.
“Betul, belum lagi kita masih harus ngurus rundown acara utama festival budaya kampus yang udah tinggal tujuh hari lagi,” sambar mahasiswa berjilbab.
Jingga mengangguk pelan. “Gue kepikiran ngasih opsi untuk nama booth mereka kita masukin ke postingan countdown.”
“Oke, opsi itu gue setuju. Nanti follow up lagi PIC-nya sama tiga vendor yang belum transfer, Ji,” ujar Dimas. “Yun, soal perlengkapan nanti bantu Jingga buat handlle yang dia butuhin.”
Yuni merangkul bahu Jingga. “Siap, kita berdua bakal bekerja keras. Semua urusan jadi aman di tangan kita.”
Dimas tersenyum tipis. “Kalau begitu kita bisa membahas diskusi utama rapat pagi ini…”
Rapat itu berjalan beberapa jam kedepan. Setelah rapat selesai, Jingga dan Yuni berjalan menuju kantin Bengkok
Di bawah pepohonan yang besar, suasana kantin itu diselimuti aroma kuah soto, asam keringat, dan asap rokok. Jarum jam dinding plastik menunjukkan pukul setengah satu lewat sepuluh menit. Mereka berdua duduk di sudut tempat itu
Pelayan kantin menghampiri meja mereka. Dia meletakkan kertas menu yang dilaminasi vinyl bening di atas meja itu. "Silakan, Neng. Mau pesan apa?"
Jingga menyodorkan kertas itu ke Yuni. "Lo pesen duluan aja, Yun."
Yuni menerima kertas itu. Matanya melirik setiap deretan nama makanan. "Aku mau nasi goreng cumi tepung. Minumnya es teh manis aja, Kang. Lo mau pesan apa, Ji?”
Jingga membuka dompet di dalam tasnya di bawah meja. Terselip selembar uang dua ribu di dompet itu. Dia menghela napas, lalu mengeluarkan botol tumbler berwarna merah dan buku kecil. “Gue nanti aja, Yun.”
Yuni menyodorkan kertas menu ke pelayan itu, lalu mengibaskan-ngibaskan kerah kemejanya lengan pendek berwarna abu-abu kecokelatan. “Lo yakin belum mau pesen?
Jingga membuka buku itu. “Iya, bawaan masih belum laper.” Ponselnya bergetar di saku celana. Tapi, Dia mengabaikannya.
Bzzzt…. Bzzzt…. Bzzzt….
Yuni mengeluarkan kipas portable mini dan sebungkus tisu dari dalam tas jinjingnya berwarna hitam. “Kita daritadi pagi baru selesai rapat loh. Atau lo mau cowok di kantin ini ada yang traktir ya?”
Jingga meraih tisu itu, lalu menyeka keringat di dahinya yang ditutupi poni tipis. “Masih banyak hal yang bisa diurus selain ngeharapin cowok, Yun. Lagian kita juga mulai harus mikirin karir dan cepet-cepet nyelesain skripsi.”
Yuni meraih ponselnya di saku celana cargo-nya berwarna hitam. “Sumpah ya, Ji. Gue udah ngetik panjang lebar setara draft skripsi bab pertama buat jelasin alasan kenapa gue marah ke dia. Lo mau tau nggak dia bales pesan gue gimana?”
“Emang cowok lo itu balesnya gimana, Yun?” tanya Jingga tanpa menoleh.
Tangan kanan Yuni menggebrak meja itu. “Dia cuma bales pake stiker kucing nangis, Ji."
Jingga membalik halaman buku itu. “Mungkin dia bingung mau balesnya gimana, Yun.”
“Bingung dengkulmu!” sergah Yuni, suaranya naik satu oktaf. “Cowok mah emang nggak punya sense of crisis. Lo ngertikan perasaan gimana sebelnya kalo komunikasi nggak nyambung?”
Jingga mengangguk pelan. “Gue ngerti kok Yun apa yang lo rasain. Tapi ngomongnya nggak perlu sambil teriak-teriak. Diliatin banyak orang.”
Pelayan kantin meletakkan piring dan gelas kaca di atas meja itu. “Ini nasi goreng cumi dengan es teh manisnya, Neng.”
Yuni menoleh ke arah pelayan itu. “Makasih ya, Kang. Terus ya, Ji. Gue berantem ama dia kronologinya…”
Mata Jingga melirik piring itu. Suara Yuni seolah tenggelam dalam lautan.
Bzzzt… Bzzzt… Bzzzt…