Ngeracik Tears

Muhammad Ridho Saputra Arif Darmawan
Chapter #2

2. Genmaicha (Gosong Berkarakter)

Hujan malam ini terasa seperti ribuan kerikil dilemparkan ke atap seng kosan, menenggelamkan suara canda dan tawa tetangga sebelah. Dingin yang merayap masuk ke dalam kamar kos, membuat perut Jingga yang kosong terasa perih yang melilit. 

Jingga meringkuk, mengawetkan panas tubuhnya di atas kasur busa dengan seprai motif bunga sudah pudar. Dia mengenakan celana sweatpants training yang terstruktur dan baju ribbed tipis lengan panjang warna putih dengan kesan berlapis di bagian perut. Bagian luar terlihat lebih pendek dengan potongan crop dan kancing bulat kecil vertikal, sementara lapisan dalamnya lebih panjang.

Di sudut kamar lima kali lima meter, bayangan tumpukan baju kusut terlihat seperti gunung es yang siap longsor. Sementara ember merah di bawah atap yang bocor setia menangkap tetesan air. Iramanya sumbang, persis seperti detak jantung Jingga setiap kali membuka aplikasi mobile banking,saldo tujuh belas ribu”. Angka itu seolah mengejeknya. Uang itu cukup untuk seporsi nasi goreng di depan gang. Namun, tidak akan cukup untuk bayar ongkos ojek ke kampus besok. Apalagi membeli kuota internet untuk mengerjakan tugas kuliah, scrolling medsos, atau nonton film di platform streaming online.

Jingga membuka medsos, cahaya ponsel itu menyoroti wajahnya yang berminyak dan lelah. Dua jam lalu, dia mengunggah foto langit senja dari jendela perpustakaan dengan caption, “chasing deadlines & dreams.” Dia melempar ponselnya di atas kasur dengan kasar, lalu memejamkan mata. “Tidur itu mesin waktu, Ji. Pas bangun, lo udah nggak laper,” ujar batinnya. Namun, perutnya justru membalas dengan geraman rendah yang memecah keheningan kamar. 

Jingga menatap nanar langit-langit kamar yang berjamur. Di atas meja, sebungkus mie instan rasa ayam bawang tergeletak pasrah. Itu benteng terakhirnya. Dimakan sekarang artinya dia harus puasa besok pagi. Tidak dimakan, maka asam lambungnya akan meronta. Harga obat maag bisa jauh lebih mahal daripada harga sebungkus mie instan.

Tok. Tok. Tok. 

Jingga tersentak. Dengan energi nyaris nol, dia menyeret kakinya ke lantai keramik putih yang dingin, mengintip dari lubang kunci. Di balik pintu kayu, sosok seseorang berdiri seperti jemuran pakaian yang basah. Teras kosan itu yang hanya diterangi lampu lima watt membuatnya terlihat seperti bayangan. Gadis itu merapikan sejenak rambutnya yang kusut, lalu membuka slot kunci pintu.

Krieeet…

Itu Arya. Air mengalir deras dari ujung rambutnya, membasahi jaket dan celana training parasut berwarna hitam yang dikenakan. Tangannya mendekap bungkusan kresek berwarna hitam di dada seolah benda itu adalah sesuatu yang sangat berharga.

"Kenapa? Kurang kerjaan bener datang malem-malem hujan begini," sembur Jingga. Insting pertahanannya menyala. Dia tidak ingin Arya melihat kamarnya berantakan, apalagi dalam kondisi kusut.

"Minggir," sahut Arya datar, mengabaikan protes itu. Laki-laki itu menerobos masuk melewati celah di bawah lengan Jingga, melemparkan sepatu ketsnya berwarna abu-abu yang basah kuyup di dekat pintu. Dia meletakkan kresek itu di atas meja lipat yang sesak oleh kertas proposal judul skripsi.

"Woi! Sopan dikit kek!" Jingga panik, kakinya refleks menendang gundukan baju ke kolong meja. "Lo basah kuyup, Arya! Kamar gue jadi banjir ini… Dari tempat lo, jalan kaki ya?" Dia menutup pintu, menghalau angin malam yang menusuk seperti jarum masuk.

"Motor gue mogok di angkringan depan gang. Businya kemasukan air," jawab Arya santai. Dia melepas jaket, menyisakan kaos oblong abu-abu yang masih kering. 

Tanpa permisi, Arya mulai membongkar kresek yang dibawa. Sebuah kaleng aluminium penyok, tiga tusuk sate usus dan dua bungkus nasi kucing yang dibungkus dengan kertas koran dan daun pisang. Aroma khas rempah angkringan seketika menguar di antara bau kamar yang lembab. 

"Makan dulu ini," perintah Arya, menyodorkan sebungkus nasi kucing. "Gue tahu lo belum makan. Nggak usah gengsi, Ji. Saldo lo tinggal ceban, kan?"

Jingga hanya diam berdiri. Saraf wajahnya menegang karena privasinya dilanggar. Lagipula, aroma nasi hangat dan sambal yang menguar dari balik daun pisang terlalu kuat untuk dilawan oleh harga diri.

Jingga duduk bersila di lantai, tangannya sedikit gemetar saat membuka lipatan bungkus itu. Seporsi kecil nasi kucing, sepotong ikan asin, dan secuil sambal teri. Makanan yang mustahil masuk daftar rekomendasi tempat makan estetik manapun. Namun, di bawah kerlip cahaya lampu lima belas watt, porsi sederhana itu tampak seperti hidangan fine dining.

Saat Jingga melahap makanan dengan mengabaikan etika dan gengsi, Arya menyalakan api biru dari kompor portable

"Suhu air 85 derajat," gumam Arya sembari membiarkan air mendesis pelan di panci aluminium, Lalu, dia membuka kaleng aluminium penyok itu. Seketika sebuah aroma gosong langsung memenuhi ruangan. Wangi beras yang disangrai hingga kecokelatan. 

Aroma itu mengingatkan Jingga pada popcorn di bioskop dan kerak nasi di dasar rice cooker. "Ampaan tuh? O agi buat pa?” Suaranya terdengar tidak jelas, Dia menunjuk ke arah kaleng itu dengan dagunya yang masih bergerak naik-turun.

"Gue baru nyoba roasting beras merah," kata Arya datar. “Butuh testimoni. Lo kan paling jago komplain.” 

"Nggak usah sok asik," cibir Jingga setelah menelan paksa gumpalan nasi di mulutnya.

"Gimana judul skripsi lo?" tanya Arya tanpa menoleh.

“Direvisi,” sela Jingga ketus.

"Gue ngerti," sahut Arya pendek. Dia menuangkan air panas ke teko yang isinya daun teh kering dan butiran beras sangrai. Uapnya menari-nari di udara dingin membawa aroma gurih yang hangat. "Seduh 45 detik."

“Kadang gue mikir, apa gue berhenti aja ya?” gumam Jingga, suaranya pelan.

“Kalo lo berhenti, berarti lo kalah sama diri sendiri. Lihat ini,” ujar Arya, sembari menyodorkan kaleng penyok itu ke depan muka Jingga. "Seperti butiran beras ini yang harus tersiksa api sebelum dicampur dengan daun teh biar bisa jadi sebuah minuman yang nikmat. Mereka hanya butuh sedikit keberanian untuk tetap bertahan dalam pahitnya dunia sampai waktunya mereka tersaji dengan harga yang lebih pantas."

Jingga mendecak, “Terserah lo lah, Mas Arsitek! Sebenarnya mau lanjut bahas soal projek idealisme lo tadi siang, kan?”

Lihat selengkapnya