Arya melangkah masuk ke dalam kamar di rumahnya, lalu meletakkan tote bag di atas meja belajar yang dipenuhi gulungan kertas sketsa dan buku-buku arsitektur. Di sudut meja itu, sebuah bingkai foto kecil berdiri di samping lampu belajar, memperlihatkan Dia dan Jingga mengenakan seragam SMP berdiri berdampingan bersama kedua orang tua mereka di ruang tamu rumah.
Arya menatap foto itu lekat-lekat, berbalik badan, lalu berjalan keluar dari kamar itu menuju dapur. Di sudut dapur itu, baling-baling kipas angin berputar, mengipasi nampan plastik besar di atas meja makan. Di nampan itu terhampar butiran beras berwarna cokelat pucat. Dia meletakkan wajan besi di atas kompor gas, memutar knop. Api biru menyala.
Arya meraih nampan itu, memindahkan butiran beras yang sudah mengering ke wajan. Tangan kanannya mengaduk terus menerus beras di wajan itu dengan spatula kayu. Sesekali terdengar bunyi letupan kecil saat beberapa butir beras satu persatu berubah menjadi seperti popcorn. Aroma seperti kacang panggang menguar ke udara.
Arya memegang kedua pegangan wajan itu dengan kain lap, memindahkan beras yang mengepulkan uap ke nampan di atas meja makan. Dia menggoyang-goyangkan nampan itu, membuat butiran beras menyebar merata. Beberapa jam kemudian, telapak tangan kanannya menyentuh butiran beras itu yang sudah menjadi dingin.
Arya menuangkan butiran beras yang sudah dingin itu ke dalam sebuah kaleng aluminum yang di dasarnya terdapat tumpukan serpihan daun teh hijau kering. Dia menutupnya, lalu mengguncang-guncangkannya dengan pelan.
Arya memasukkan kaleng itu ke dalam tote bag, lalu melangkah keluar menuju teras rumah.
Brumm…
Cahaya lampu depan motor kopling tua milik Arya menyala. Motor itu melaju membelah kegelapan jalanan yang lengang. Tiba-tiba kilatan cahaya menyilaukan matanya, diikuti suara gemuruh rendah. Perlahan, rintik hujan membasahi kaca mata pelindung helmnya.
Arya memperlambat laju motornya. Di sisi jalan, sebuah saung angkringan beratap ijuk berdiri di seberang jalan kecil. Dia membelokkan setang motornya, lalu berhenti di depan angkringan itu.
———————————————————————
Jingga meringkuk di atas kasur kamar kosnya. Hembusan angin dingin, menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi kamar itu. Dia menarik selimutnya hingga menutupi setengah wajahnya. Bunyi gemeretak seperti tembakan peluru menghantam atap.
JTAR… Gluduk. Gluduk.
Tangan kiri Jingga meraih ponselnya di meja nakas, lalu membuka aplikasi mobile banking. Layar itu menampilkan angka saldo rekening tujuh belas ribu. Dia menghela napas. Matanya menyapu sekeliling kamar yang berukuran empat meter persegi. Di sudut kamar itu, tumpukan pakaian menjulang tinggi dan sebuah ember yang menadah air bocor.
Bzzt. Bzzt.
Notifikasi pesan dari grup beasiswa muncul. “Duit beasiswa masih belum cair ya? Katanya malem ini udah dikirim! Yah… Harus puasa selain hari senin kamis, sedih woi! Ingpokan acara nikahan minggu ini gais buat perbaikan gizi!” Jingga melempar sembarang ponselnya di atas kasur itu, lalu memejamkan kedua matanya. Namun, perutnya membalas dengan geraman panjang.
Jingga membuka kedua matanya. Dia menatap lekat-lekat sebungkus mie instan rasa ayam bawang di atas meja belajar.
“Kalo dimakan sekarang, besok pagi gue nggak punya apa-apa buat sarapan. Kalau nggak dimakan, asam lambung gue bisa naek. Ujung-ujungnya gue masih harus keluar duit,” gumam batin Jingga.
Tok. Tok. Tok.
Jingga mengernyitkan dahi. Matanya melirik ke arah jam dinding plastik. Jarummnya menunjukkan pukul setengah sebelas kurang sembilan menit. “Siapa sih yang ngetok? Udah hampir tengah malem bagini? Ibu kos? Nggak mungkin! Beliau biasanya datang pagi-pagi.”
Tok. Tok. Tok.
Jingga bangkit berdiri, lalu berjalan menuju pintu. Matanya mengintip melalui lubang kunci. Seseorang berdiri di depan kamarnya. Dia membuka pintu itu sedikit. “Arya. Ada urusan apa lo datang ke sini pas gue mau tidur?"
Arya mengangkat sebuah kantong plastik dan tote bag yang dibawanya ke depan wajah Jingga. "Gue tadi mau pulang dari abis nongkrong di angkringan depan. Tapi bapaknya ngebagiin makanan ke tiap orang banyak banget karena beliau mau tutup lebih cepet."
"Lo basah kuyup cuma buat nganter itu?" tanya Jingga.
Arya mengangguk pelan. “Boleh gue numpang teduh di dalem bentar?”
Jingga mendengus pelan. “Bawa pulang aja itu buat Ridho. Gue udah ngantuk.”
“Ridho udah dapet bagiannya,” balas Arya. “Kalo lo nggak mau gue kasih ke satpam kampus…”
“Tunggu dulu disitu,” potong Jingga.
Jingga berjalan menuju lemari kayu di sudut kamar itu. Kaki kanannya menyepak tumpukan pakaian ke bawah kolong ranjang kasur. Dia mengambil sebuah handuk di dalam lemari itu, lalu menyodorkannya ke Arya. "Nih. Langsung masuk ke kamar mandi. ”
Arya menerima handuk itu. “Makasih." Dia melangkah masuk, meletakkan kantong dan tote bag di atas meja belajar, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Jingga menyodorkan kaos polos berwarna putih dan celana training ke Arya. “Pakaian punya lo yang lo kasih pinjem gue pas acara pengenalan kampus.”
Arya mengambil pakaian itu. “Permisi izin pake kamar mandinya.” Dia menutup pintu kamar mandi itu.
Jingga duduk di atas kasur. meraih ponselnya, lalu membuka aplikasi streaming video. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Arya melangkah keluar sembari mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. lalu duduk bersila di lantai. Tangannya meraih kantong plastik putih, mengeluarkan sebungkus tiga tusuk sate usus dan dua bungkus nasi kucing berbalut daun pisang dan kertas koran. Seketika, aroma kecap manis, bakaran, dan rempah memenuhi udara di kamar itu. “Makan dulu, Ji.”
“Makan aja sendiri. Gue masih mau nonton drakor ini dulu,” balas Jingga tanpa menoleh.
Arya menghela napas. Dia bangkit berdiri, lalu menyambar ponsel Jingga.
Jingga mendongak. “Balikin hape gue, Ya! Lagi adegan seru-serunya itu!”
Arya meletakkan ponsel itu di atas meja belajar. Dia menyodorkan sebuah sendok plastik putih ke hadapan wajah Jingga. "Pamali nolak nasi yang udah dikasih di depan mata.”