Arya meraih wajan tanah liat yang permukaan sudah menghitam di gantungan paku dinding, lalu meletakkannya di atas kompor gas. Dia menyalakan api kompor, lalu mulai memanaskan wajan itu.
Di sudut dapur itu, baling-baling kipas angin berputar, mengipasi nampan plastik besar berwarna merah di atas meja makan. Di atas nampan itu terhampar butiran beras berwarna cokelat pucat yang tersebar merata dialasi dengan kain berwarna putih.
Arya meraih setiap sisi ujung kain di nampan itu, lalu memindahkan butiran beras yang kering itu ke wajan. Dia mengaduk terus menerus beras di wajan itu dengan spatula kayu. Bunyi gemerisik dari beras yang bergesekan dengan dasar wajan dan spatula, menggema di ruangan itu.
Perlahan, warna butiran beras itu beralih dari cokelat pucat menjadi keemasan gelap. Aroma panggang seperti kacang dan kayu bakar memenuhi udara di ruangan itu. Sesekali terdengar bunyi letupan kecil saat beberapa butir beras berubah menjadi seperti popcorn.
Arya memindahkan beras yang panas itu dari wajan ke nampan di atas meja makan. Asap tipis mengepul dari tumpukan beras itu. Dia menggoyang-goyangkan nampan itu, membuat butiran beras menyebar merata, lalu meletakkannya tepat di depan hembusan kipas angin.
Beberapa jam berlalu, Telapak tangan kanan Arya menyentuh permukaan butiran beras itu yang sudah terasa dingin. Dia meraih toples kaca yang berisi serpihan daun-daun kering di atas meja itu, lalu menuangkannya ke atas hamparan beras sangai.
Arya meraih sebuah kaleng aluminum, memindahkan campuran beras dan daun itu ke dalamnya dengan pelan. Dia menutup kaleng itu, lalu mengguncang-guncangnya sejenak.
———————————————————————
JTAR… Gluduk. Gluduk.
Kilatan cahaya yang terang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar kos Jingga. Suara gemeretak keras seperti tembakan peluru menghantam atap genteng kosannya. Udara di kamar itu terasa dingin dan lembab.
Jingga meringkuk di atas kasur dalam balutan celana sweatpants berwarna hitam dan baju lengan panjang berwarna putih dengan kesan berlapis di bagian perut. Bagian luar terlihat lebih pendek dengan kancing bulat kecil vertikal, sementara lapisan dalamnya lebih panjang.
Di sudut kamar yang berukuran lima kali lima meter itu, siluet bayangan tumpukan pakaian tampak seperti gunung. Sementara ember merah di bawah atap yang bocor setia menangkap tetesan air yang jatuh.
Jingga meraih ponselnya di meja nakas, lalu membuka aplikasi mobile banking. Layar ponsel itu menampilkan saldo rekening tersisa tujuh belas ribu. “Cukup buat beli nasi goreng sebungkus. Tapi… gimana buat bayar ongkos naik ojek ke kampus besok.”
Bzzt. Bzzt.
Notifikasi pesan dari grup beasiswa muncul. “Duit beasiswa masih belum cair ya? Katanya malem ini udah dikirim! Sedih woi nggak bisa scrolling medsos gue! Nonton episode terbaru anime fairy tail one hundreds years quest di Muse Indonesia nggak bisa juga ini!”
Jingga menghela napas, lalu membuka aplikasi medsos. Layar itu menampilkan foto langit senja dari jendela perpustakaan dengan caption, “chasing deadlines & dreams” yang dia unggah lima jam lalu. Dibawahnya, video pendek orang makan di restoran fine dining.
Jingga melempar ponselnya di atas kasur itu, lalu memejamkan matanya. “Tidur, Ji. Tidur itu jalan pintas buat lupa kalo lagi lapar.”
Namun, perutnya membalas dengan geraman panjang. Jingga membuka matanya. Dia menatap sebungkus mie instan rasa ayam bawang di atas meja. “Kalo dimakan sekarang, besok pagi gue nggak punya apa-apa buat sarapan. Kalau nggak dimakan, lambung gue bisa ngamuk lagi. Ujung-ujungnya gue tetap keluar duit.”
Tok. Tok. Tok.
Jingga mengernyitkan dahi. Matanya melirik jam dinding plastik berwarna hitam. Jarum jam itu menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh tujuh menit. “Siapa sih yang ngetok? Udah hampir tengah malem bagini?
Tok. Tok. Tok.
Jingga bangkit berdiri, lalu berjalan ke arah pintu. Dia mengintip melalui lubang kunci. Di balik pintu kayu itu, sesosok laki-laki berdiri diam di bawah lampu koridor yang temaram. Dia merapikan rambutnya yang kusut, lalu membuka kunci pintu itu.
Krieeet…
Jingga menghela napas. “Arya.”
Arya berdiri di depan pintu kamar kos Jingga. Air mengalir dari ujung rambutnya, lalu jatuh membasahi jaket parasut berwarna hitam senada dengan celana training yang dikenakannya. Kedua lengannya mendekap sebuah kantong plastik berwarna merah di dada.
Tangan Jingga mencengkeram gagang pintu, menahan posisinya di ambang pintu. "Ada urusan apa lo datang ke sini pas gue mau tidur? Mana hujan deres begini."
Arya mengangkat kantong plastik itu ke depan wajah Jingga. "Gue tadi mau pulang abis nongkrong di angkringan depan. Tapi bapaknya ngebagiin makanan banyak banget."
"Lo basah kuyup cuma buat nganter itu?" tanya Jingga.
Arya menyunggingkan senyum tipis, lalu mengangguk pelan. “Boleh gue numpang neduh bentar?”
Jingga mengusap wajahnya. “Tunggu dulu di situ.”
Jingga melangkah ke sudut kamar, lalu menendang gundukan pakaiannya ke bawah ranjang kasur. Dia meraih handuk berwarna merah dari dalam lemari, lalu menyodorkannya ke Arya. "Nih.”
Arya menerima handuk itu. Dia menyeka air yang menempel di kepala, jaket, hingga celananya. "Makasih."
"Buka sepatu di luar. Jangan bikin kamar gue becek," ujar Jingga.
Arya melepaskan sepatu ketsnya berwarna abu-abu yang basah kuyup di samping pintu itu. Dia melangkah masuk. “Permisi.”
Jingga menutup pintu, lalu duduk di atas kasur. Dia meraih ponselnya, lalu membuka aplikasi streaming video.
Arya membuka resleting jaketnya, memperlihatkan kaos polos berwarna putih yang masih kering, lalu menggantung jaket dan handuk itu di gagang pintu. Dia meletakkan kantong yang dibawanya di atas meja lipat. Tepat di samping tumpukan kertas proposal judul skripsi.
Arya duduk bersila di lantai. Dia mengeluarkan isi kantong itu. Sebuah kaleng aluminium penyok, tiga tusuk sate usus dan dua bungkus daun pisang yang dibalut kertas koran. Aroma kecap panggang dan rempah-rempah memenuhi udara ruangan itu. “Makan dulu, Ji.”
Mata Jingga melirik kantong plastik itu. “Makan aja sendiri. Gue nggak laper.”
Arya bangkit berdiri, lalu berjalan ke rak. “Kalo lo nggak mau, biarin aja di situ.”
Jingga mendengus pelan. Dia turun dari kasur itu, lalu meraih satu bungkus dengan tangan gemetar. Saat lipatan bungkusan yang hangat itu dibuka, isinya seporsi nasi putih, setengah potong telur rebus, dan secuil sambal teri. Tangan kanannya mengambil sejumput untuk suapan pertama. Rasa gurih, pedas, dan hangat langsung memenuhi mulutnya.