Ngeracik Tears

Muhammad Ridho Saputra Arif Darmawan
Chapter #3

3. Kukicha (Berburu Ranting)

Pasar antik Cikapundung adalah museum raksasa bagi benda-benda yang menolak mati. Sinar matahari pagi berjuang menembus atap terpal biru dan oranye. Menciptakan garis-garis cahaya yang menyoroti partikel debu yang menari-nari liar di udara yang berbau lembap dan apek. Bagi fotografer jalanan, itu mungkin pemandangan yang estetik. Namun bagi Jingga, itu ancaman nyata untuk wajah dan rambutnya.

Jingga melangkah seperti kucing takut air, memastikan sepatu ankle boots-nya tetap bersih dari jalanan yang becek. Dia mengenakan rok rempel, dan baju kerah persegi lengan panjang dengan detail ruched di pergelangan tangan. Gadis itu tampak serba hitam. Kontras dengan ikat pinggang kulit cokelat tua gesper logam, aksesori anting hoop kecil, dan kalung tipis berwarna perak. 

Di kirinya, tumpukan majalah National Geographic tahun sembilan puluhan mulai menguning dimakan rayap. Di kanan, sesosok manekin botak menatapnya dengan pandangan kosong yang ganjil. Suara statis dari radio transistor tua di lapak ujung seolah sedang beradu vokal dengan lagu dangdut koplo dari speaker pecah di lapak depan.

Jingga menahan napas, menarik maskernya hingga nyaris menyentuh kelopak mata. “Lo yakin kita nyari di sini, Ya?” tanyanya, suaranya teredam. "Ini lebih mirip tempat pembuangan akhir daripada toko furnitur."

Arya berjalan dua langkah di depan Jingga, membelah kerumunan manusia. Laki-laki itu mengenakan celana cargo berwarna biru dongker yang punya banyak kantong dan kemeja flanel lengan panjang berwarna biru garis putih. Kancing kemejanya terbuka. Kontras dengan kaos oblong, tas ransel, dan sepatu sneakers berwarna hijau lumut. Dia tampak menyatu sempurna dengan keriuhan pasar di sekeliling mereka.

"Justru karena mirip tempat sampah, harganya bisa masuk di kantong kita," sahut Arya tanpa menoleh, matanya sibuk memindai tumpukan buku lama, mesin tik, dan kursi yang berdebu di kiri-kanan mereka.

Jingga menghela napas panjang. Pikirannya melayang pada lorong-lorong mall yang sejuk, aroma parfum vanila, dan lantai keramik yang begitu mengkilap hingga bisa bercermin di sana.

"Gue masih nggak ngerti dengan konsep yang lo omongin," keluh Jingga, menghindari tumpukan velg motor yang berkarat. "Rumah kaca belakang perpus itu udah horor, penuh tanaman rambat. Kalau lo isi pake barang rongsokan ginian… kita mau buka rumah hantu? gitu konsepnya?"

"Ji, sini," panggil Arya. Dia berhenti di depan gunungan kursi lipat besi yang sudah berkarat.

Jingga mendekat dengan enggan. "Jangan bilang lo mau beli kursi itu. Gue nggak mau orang yang datang pas pulangnya kena tetanus habis duduk lama karena minum teh."

"Bukan yang ini." Arya menggeser kursi-kursi itu dengan sentakan kasar. Suara logam yang beradu nyaring memecah kebisingan pasar. Di baliknya, terlihat sebuah meja kayu jengki yang tersembunyi. Kakinya ramping dan meruncing ke bawah. Dia berjongkok, jemarinya mengusap permukaan kayu yang kasar. "Liat seratnya, Ji."

Jingga ikut berlutut di samping Arya, matanya melirik meja itu yang warnanya belang-bonteng. Terdapat stiker superman yang tampak samar, dan noda cokelat pekat bekas tumpahan kopi di permukaannya. 

“Ini meja kayu jati tua,” ujar Arya. "Mungkin sisa bongkaran rumah kolonial gaya mid-century. Cuman… pernisnya aja yang sudah habis dimakan umur."

"Itu jelek banget, Ya, "Warnanya sama kayak gigi orang perokok berat." cibir Jingga.

Arya menoleh, menatap mata Jingga lekat-lekat. "Kita bukan beli warnanya, Ji… Kita beli strukturnya. Pernisnya bisa kita amplas dulu… tempelan stikernya bisa dikerok. Kayu bagus dan setua ini, lo nggak bakal nemu di toko mebel modern. Kalo pun ada, harganya bisa tiga kali lipat dari uang sewa kos sebulan."

"Terus ini berapa harganya?" tanya Jingga 

"Paling empat ratus lima puluh ribu. Kalo lo pinter nawar," jawab Arya datar. 

Jingga mendengus. "Gue? Nawar? Skill nawar gue cuma sebatas minta diskon pake KTM."

Arya berdiri, menepuk debu dari telapak tangannya. "Tapi… kakinya goyang. Terus sambungan pasaknya juga sudah longgar. Yuk, kita jalan lagi."

Mereka kembali menyusuri lorong-lorong pasar itu. Jam-jam berikutnya adalah ujian kesabaran. Matahari merangkak naik, memanggang atap terpal hingga udara di bawahnya terasa lembap. Keringat mulai mengalir di punggung Jingga, membuat kulitnya terasa lengket dan gatal. Mereka melewati lapak lampu hias yang kristalnya sudah ompong separuh, barisan kamera analog yang lensa-lensanya sudah berjamur, dan tumpukan piringan hitam yang sampulnya koyak. 

Arya berhenti di setiap gundukan furnitur kayu, mengetuk permukaannya, menggoyangkan rangkanya, lalu berakhir dengan gelengan kepala yang sama "Kayu Solid. Tapi terlalu lapuk kakinya… Ini cuma particle board, kena air sedikit langsung hancur… Ini rotan sintetis." 

"Ya, gue capek," keluh Jingga akhirnya. Dia berhenti di depan sebuah kipas angin besi tua yang berputar lambat, membiarkan angin panas yang membawa aroma debu menerpa wajahnya. "Kita beli kursi plastik saja kenapa, sih? Yang di mall, lima puluh ribu sudah dapat satu. Bersih, baru, warna-warni."

Arya berhenti mendadak. Dia berbalik, lalu menatap Jingga dengan ekspresi seolah baru saja dihina. "Plastik?" ulangnya, suaranya dingin. "Plastik itu nggak punya jiwa, Ji. Nggak punya pori-pori, nggak bernapas, nggak menua dengan anggun. Kalo rusak, dia cuma jadi sampah abadi. Lo mau ruangan kita diisi sampah untuk masa depan?"

"Gue cuman mau ada tempat duduk, Ya!" balas Jingga, suaranya naik satu oktaf. Rasa lapar mulai mengambil alih akal sehatnya. "Orang yang datang nggak peduli soal jiwa kursi! Mereka cuma peduli pantatnya nggak sakit!"

"Kita pake kayu," potong Arya tegas. "Gue yang ngedesain atmosfernya. Teh itu tentang waktu danproses. Kalo lo ngasih orang duduk di atas kursi plastik cetakan pabrik yang dibuat dalam dua detik… Lo ngerusak rasa teh yang sudah diseduh empat menit."

Jingga hanya diam, kehabisan kata-kata. Dia benci saat Arya mulai mengeluarkan argumen idealis yang selalu masuk akal. "Terserah lo. Gue cuma mau duduk," gumamnya sambil memalingkan wajah.

Arya tidak membalas. Dia kembali melangkah, masuk lebih jauh ke bagian pasar yang lebih gelap dan berantakan. Jingga mengikutinya dengan langkah kaki yang diseret dan rahang yang mengeras di balik masker yang semakin terasa menyesakkan.

Sampai akhirnya, mereka tiba di sebuah lapak di ujung lorong yang jalanya buntu. Tempat ini berbeda, tidak ada tumpukan barang elektronik atau suara speaker yang pecah belah. Hanya ada gunungan furnitur kayu dan rotan yang menjulang nyaris menyentuh terpal. Baunya lembap, namun ada jejak aroma manis dari kayu tua yang samar di baliknya.

Lihat selengkapnya