Ngeracik Tears

MRIDHOSAD
Chapter #3

3. Kukicha (Berburu Ranting)

Sinar matahari di arah timur, menembus deretan atap terpal yang bolong-bolong di Pasar Cikapundung. Garis-garis cahaya menyoroti partikel debu-debu yang menari-nari liar di udara. Suara statis dari radio transistor yang berdengung dari lapak ujung, beradu vokal dengan speaker musik dangdut koplo dari lapak depan.

Jingga mengenakan kaos lengan panjang dengan kerah persegi berwarna hitam senada dengan rok rempel, tas bahu kulit, dan ankle boots. Anting hoop kecil berwarna perak yang bertengger di daun telinganya senada dengan kalung tipis di lehernya. Sabuk berwarna cokelat tua dengan gesper logam melingkari pinggangnya.

Jingga melangkah seperti kucing takut air, menghindari jalanan yang becek. “Lo yakin kita nyari kursi ama meja di sini, Ya?”

“Iya.” Arya berjalan dua langkah di depan Jingga. Dia mengenakan celana cargo berwarna biru dongker senada dengan kemeja flanel lengan panjang kancing terbuka, memperlihatkan kaos polos berwarna hijau lumut senada dengan tas ransel, dan sepatu sneakers

Mata Jingga menyapu pemandangan sekelilingnya. Di sebelah kirinya, tumpukan majalah yang kertasnya sudah menguning. Di sebelah kanannya, berjejer mesin tik yang dipenuhi jaring laba-laba. "Ini lebih mirip tempat pembuangan sampah daripada toko furnitur."

"Barang yang dibuang orang belum tentu barang jelek," sahut Arya tanpa menoleh.

Jingga menghela napas. "Gue masih nggak ngerti dengan konsep yang lo omongin itu. Rumah kaca belakang perpus itu udah horor, penuh tanaman rambat. Kalo lo isi pake barang rongsokan ginian… kita mau buka rumah hantu? gitu konsepnya?" 

Langkah kaki Arya terhenti. Dia berdiri di depan sebuah lapak yang dipenuhi tumpukan kursi lipat besi berwarna hitam. Cat kursi itu sudah memudar. "Ji, sini."

Jingga berjalan menghampiri Arya. "Jangan bilang lo mau beli kursi itu. Gue nggak mau orang yang datang pas pulangnya kena tetanus karena duduk lama di tempat kita karena minum teh."

"Bukan kursi yang ini." Arya menggeser tumpukan kursi-kursi besi itu dengan sentakan kasar. Suara logam yang beradu nyaring memecah kebisingan pasar. Di baliknya, terlihat sebuah meja kayu jengki. Kakinya ramping dan meruncing ke bawah. 

Arya berjongkok. Tangannya menyingkirkan sebuah asbak kuningan yang kotor. Jemarinya mengusap permukaan meja itu yang kasar dan berdebu. "Liat seratnya, Ji."

Jingga membungkuk. menumpukan kedua tangan di lutut, Dia menatap meja itu yang warnanya belang-bonteng. Permukaannya penuh dengan noda hitam yang samar. Di sudut kanannya tertempel stiker Superman yang setengah pinggirannya sudah mengelupas dan memudar. "Meja ini jelek banget, Ya.”

Arya mengetuk permukaan meja itu. Suaranya terdengar padat dan berat. “Keliatannya aja jelek. Tapi ini kayu jati.” Mata Arya melirik bagian kolo meja itu. “Sambungan kakinya pakai dikunci pakai pasak kayu. Tukang zaman sekarang udah jarang yang mau bikin struktur beginian. Cuma pernisnya aja yang udah habis dimakan umur sama cuaca." 

"Warnanya sama kayak gigi orang perokok berat." cibir Jingga.

Arya menoleh ke arah Jingga. "Kita bukan beli warnanya, Ji. Pernisnya bisa gue amplas sampai bersih nanti, tempelan stikernya bisa dikerok. Kayu jati setua dan sekuat ini, lo nggak bakal nemu di toko mebel modern minimalis."

Jingga meluruskan punggungnya. "Ini berapa harganya?" 

“Kalau penjualnya sadar ini barang mid-century asli, harganya mungkin bisa tiga kali lipat dari uang sewa kosan lo sebulan,” jawab Arya. 

Jingga mendengus pelan. "Terus lo ngarep gue yang nawar? Skill nawar gue cuma sebatas minta diskon kacamata pake KTM di optik. Tapi, kalo lo yang nanya dengan cara ngelihat detail sambungan kayunya barusan, penjualnya bakal langsung sadar lo ngerti barang. Dia bakal jual dengan harga mahal."

Sudut bibir Arya terangkat sedikit. Dia bangkit berdiri, lalu menepuk debu di kedua telapak tangannya. "Sayang banget. Kaki-kakinya udah goyang parah. Terus sambungan pasaknya juga udah terlalu longgar, nggak bisa diakalin pake lem kayu. Yuk, kita jalan lagi."

Arya dan Jingga kembali menyusuri lorong-lorong pasar itu yang mulai terasa pengap dan lembab. Mereka melewati lapak lampu hias yang kristalnya sudah ompong separuh. Lapak kamera analog yang lensa-lensanya sudah berjamur. Hingga lapak piringan hitam yang sampulnya sudah koyak.

Arya berhenti di setiap lapak furnitur kayu. Dia mengetuk permukaannya, menggoyangkan rangkanya, lalu menghela napas. "Kayunya solid, tapi kakinya udah lapuk dimakan rayap! Kalo yang ini cuma particle board, kena tumpahan air terus menerus jadi hancur! Ini rotan sintetis, cepat getas." 

Langkah kaki Jingga terhenti di depan sebuah kipas angin besi tua yang berputar pelan. Dia menyandarkan bahunya ke tiang lapak, lalu menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Ya, gue capek. Kita beli meja dan kursi plastik aja kenapa, sih? Di toko grosir di marketplace online, dua puluh ribu bisa dapat satu."

Arya berbalik badan. Dia menatap Jingga. "Kursi ama meja plastik cetakan pabrik itu didesain khusus supaya orang nggak betah duduk berlama-lama, Ji. Glass House bukan warung fotokopi. Semua yang ada di sana harus punya alasan."

"Orang yang datang nanti nggak bakal peduli meja dan kursinya terbuat dari apa, Ya!," ujar Jingga, suaranya gemetar. 

"Teh itu soal proses, Ji,” balas Arya datar. “Lo nggak bisa nyajiin teh yang butuh waktu diseduh empat menit di atas meja dan kursi yang bikin punggung pegel dalam empat detik. Kalo ruangannya nggak ngasih sinyal buat rileks, seenak apapun teh yang lo racik, experience-nya bakal hancur."

Jingga mendengus kasar. Dia memalingkan wajahnya. "Duduk ya tinggal duduk, Ya." 

Arya menggeleng pelan. “Gue pengen tempat itu kelihatan hidup.” Dia kembali melangkah. masuk lebih dalam hingga mereka tiba di sebuah lapak di ujung lorong buntu. Gunungan furnitur bekas itu menjulang tinggi nyaris menyentuh atap terpal. 

Mata Arya melirik ke sebuah barang yang tertimbun di bawah tumpukan bingkai foto yang besar dan rangka sepeda onthel yang berkarat. Tiga buah kursi rotan model papasan dengan sandaran setengah melingkar menyerupai mangkuk. Warnanya kusam oleh debu yang mengendap tebal hingga berkerak. Salah satu kakinya diganjal bata merah. "Dapet."

Jingga mengernyitkan dahi. "Dapet apa? Tumpukan kayu bakar itu?"

Arya tidak menjawab. Dia meminggirkan bingkai dan rangka sepeda, lalu menarik salah satu kursi itu keluar. Debu yang bau apek mengepul ke udara.

Jingga refleks mengibaskan tangan di depan wajahnya. “Uhuk! Uhuk!" Perlahan tubuhnya limbung ke tumpukan kertas koran dan kardus bekas di sisi kirinya.

Arya meraih lengan kiri Jingga. “Ji."

Napas Jingga memburu. Wajahnya pucat pasi dan dipenuhi keringat dingin. "Kepala gue pusing banget, Ya!"

Arya menarik kursi itu mendekat dengan kakinya. “Duduk dulu, Ji.”

Jingga menjatuhkan tubuhnya ke kursi itu. Dia menarik napas, lalu memejamkan matanya.

Arya berlutut, lalu menarik resleting tasnya, mengeluarkan botol tumbler berwarna hitam. Dia menyodorkannya ke Jingga. “Ji, minum. Biar agak segeran.”

Lihat selengkapnya