Ngeracik Tears

Muhammad Ridho Saputra Arif Darmawan
Chapter #4

4. Jasmine (Aroma Diplomasi)

Awan abu-abu yang tebal menggantung rendah di atas langit sejak kemarin seperti gumpalan kapas kotor yang menyerap terlalu banyak air, menahan isinya yang tidak kunjung jatuh. Sinar matahari enggan menyapa, membuat koridor Gedung Rektorat tampak seperti kuburan bagi mimpi, antusiasme, dan semangat hidup.

Udara di tempat itu terasa lembap basah dan dingin yang menusuk tulang. Angin kencang yang berhembus di lorong-lorong kosong membawa debu, dedaunan pepohonan dan bau tanah yang kering.

Jingga merapikan balutan sweater rajut berwarna latte, melapisi kemeja lengan panjang berwarna ivory bergaris putih. Ujung kain kemeja mencuat dari bawah keliman sweater di pinggang, menciptakan siluet bertumpuk yang rapi. Manset kemeja dilipat ke luar sweater, terlihat kontras di pergelangan tangan. Dipadukan dengan celana panjang longgar kain lurus berwarna taupe dan sneakers german army trainer berwarna tan dengan kontras tali putih.

Penampilan Jingga memancarkan kesan modern, namun tetap bersahaja untuk menyembunyikan fakta bahwa kemeja di baliknya sudah lembap oleh keringat dingin. 

"Inget, Ji… Lo itu anak Humas… Lo bisa nego harga ke penjual barang bekas kemarin," bisik Jingga pada diri sendiri, menatap bayangannya di kaca pintu yang buram. Proposal setebal dua puluh halaman di tangan kanannya terasa seberat beban hidup. "Lo pasti bisa jual ide ini ke bapak-bapak birokrat di ruangan itu."

Di sampingnya, Arya berdiri dengan tenang. Dia bahkan tidak berusaha tampil formal, hanya baju polo lengan pendek berwarna cream muda dengan dengan pola garis-garis horizontal tebal berwarna cokelat keemasan. Dipadukan dengan celana panjang kain lurus dan sepatu kets berwarna abu-abu pale yang senada. Di tangan kanannya menenteng sebuah paper bag cokelat misterius.

"Ya," bisik Jingga pelan. "Jangan ngomong aneh-aneh soal filosofi teh. Biar gue yang ngomong pake bahasa manusia."

"Hmm..." Arya hanya bergumam, matanya terpaku pada pemandangan dunia luar di balik pintu kaca koridor.

"Lo yakin nggak mau ganti baju dulu? Penampilan itu nomor satu," tanya Jingga skeptis, matanya melirik baju Arya. "Pak Rohim itu Kepala Bagian Umum. Dia feodal banget...."

"Gue cuman mau izin pake tempat. Bukan mau ngelamar jadi mantunya," jawab Arya datar.

Jingga mendengus. "Tapi first impression itu..."

"Masuk, Ji. Keburu jam istirahat." Arya mendorong pintu kaca. 

Suasana di dalam hening, hanya diselingi bunyi ketikan keyboard yang lamban dan suara mesin shredder yang sibuk mencacah kertas. Di balik meja resepsionis yang tinggi, seorang ibu berkacamata tebal melirik mereka sekelebat, lalu matanya menatap layar komputer yang Jingga curigai sedang menampilkan laman online shop.

"Mau ketemu Pak Rohim, Bu," ujar Jingga, menyunggingkan senyum tipis.

"Janji jam berapa?" tanya ibu resepsionis itu tanpa menoleh dari layar komputer

"Jam sepuluh, Bu. Atas nama Jingga dan Arya. Proposal Izin Pengelolaan Aset Kampus," jawab Jingga.

"Silahkan duduk dulu," perintah ibu resepsionis itu.

Mereka duduk di sofa kulit sintetis yang permukaannya sudah robek kecil. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Jingga mulai mengetuk-ngetukkan ujung sepatu ke lantai

"Jingga… Arya… Silahkan masuk," panggil ibu resepsionis itu setelah setengah jam.

Jingga menarik napa, menegakkan punggung, lalu melangkah masuk bersama Arya di belakangnya.

Ruang Sarana dan Prasarana terlihat besar, tapi terasa menyesakkan karena sesak oleh lemari arsip yang menjulang hampir menyentuh langit-langit. Udara di ruangan itu stagnan yang didinginkan oleh pendingin ruangan sentral berdengung lelah pada suhu delapan belas derajat. Baunya membosankan dari campuran kertas HVS hangat sisa fotokopi, tinta stempel, kamper toilet, dan aroma nasi padang.

Di balik meja kayu yang tertimbun tumpukan map, duduklah Pak Rohim. Pria paruh baya itu tampak sibuk menandatangani berkas. Rambutnya disisir klimis, kacamata bacanya melorot di pangkal hidung, dan kemeja batiknya terlihat kewalahan menahan perut yang membuncit.

"Siang, Pak Rohim," sapa Jingga lembut. "Saya Jingga mahasiswa program studi Manajemen. Dan ini Arya mahasiswa program studi Arsitektur. Sesuai janji kemarin, kami mau mengajukan izin pakai rumah kaca di belakang perpustakaan."

"Duduk," perintah Pak Rohim singkat, tanpa melihat wajah Jingga dan Arya. 

———————————————————————————

"Jadi..." Pak Rohim membuka proposal yang diletakkan Jingga di atas meja. Beliau membalik halaman dengan gerakan lambat yang menyiksa, menjilat ujung jari telunjuknya setiap kali ingin berganti halaman. "Kalian mau pakai rumah kaca yang di belakang perpus?"

"Benar, Pak. Kami ingin menjadikannya sebagai student creative hub," suara Jingga tegas. Dia menunjukkan halaman analisis SWOT, menampilkan grafik proyeksi pengunjung. "Secara ekonomi, aset itu juga akan menghasilkan pendapatan untuk kampus. Kami siap membayar sewa dengan sistem bagi hasil sepuluh persen dari laba bersih."

Pak Rohim menatap halaman itu dengan tatapan kosong, lalu menutup proposal. "Kalian mau jualan es teh manis?" 

"Bukan es teh biasa, Pak. Ini teh artisan. Seperti di mal-mal dan tempat-tempat kekinian. Anak muda butuh tempat yang estetik buat duduk sambil ngerjain tugas kuliah."

"Dek Jingga," Pak Rohim melepas kacamatanya, menatap Jingga dengan pandangan merendahkan. "Sudah berapa banyak mahasiswa yang datang ke saya membawa proposal estetik seperti ini? Tahun lalu ada yang ingin membuka coffee shop. Dua tahun lalu, distro pakaian. Semuanya bangkrut dalam tiga bulan. Ujung-ujungnya apa? Kampus yang repot membersihkan sampah mereka."

Jingga menelan ludah. "Tapi kami berbeda, Pak. Kami punya rencana bisnis yang sudah matang dengan..."

"Matang apanya?” potong Pak Rohim cepat. “Harus ada surat dari Warek dua, harus ada audit aset, harus ada jaminan K-tiga. Nggak bisa sembarangan. Kenapa kalian tidak cari di tempat lain saja. Kantin kan luas. Kenapa harus di rumah kaca itu? Kerangkanya ringkih, atapnya bocor. Kalian mau merenovasi bangunan itu dengan apa? Uang jajan? Nanti kalau tidak sanggup, kalian meminta anggaran ke universitas. Aset negara bukan mainan untuk anak kecil."

Jingga terdiam sejenak. Ruangan itu terasa semakin dingin seolah membekukan napasnya. Matanya melirik ke arah Arya. Laki-laki itu hanya diam di tempatnya dengan tenang

Lihat selengkapnya