Ngeracik Tears

Muhammad Ridho Saputra Arif Darmawan
Chapter #5

5. Tie Guan Yin (Daun Memar)

Rumah kaca di belakang perpustakaan itu tampak seperti kerangka raksasa yang baru bangun dari tidur panjang. Bangunan itu memiliki atap setinggi lima meter yang sebagian besar kaca-kacanya sudah buram tertutup debu tebal berwarna agak kecokelatan yang sudah menempel lama.

Matahari pukul sepuluh berusaha menerobos masuk lewat atap kaca menciptakan pilar-pilar cahaya yang menyoroti ribuan partikel debu menari-nari liar tampak seperti galaksi mikroskopis yang sedang mengambang di udara—membelah kegelapan ruangan yang berbau tajam dari tiner dan cat dinding.

Srek. Srek. Srek.

Arya, dengan masker yang menutupi setengah wajah, sedang membungkuk di atas meja bar yang kemarin dibeli dari bengkel furnitur kayu. Keringat mengalir dari pelipisnya, membasahi kaos oblongnya berwarna charcoal, dipadukan dengan celana pendek berwarna krem. 

Kaus kaki putih yang ditarik cukup tinggi dan sepasang sepatu kets krem berwarna abu-abu. Tangan kanannya bergerak ritmis mengamplas permukaan meja kayu jati di area bar. Otot lengannya menegang setiap kali dia menekan amplas. 

Di sudut lain ruangan itu, Jingga duduk bersila di lantai tegel yang dingin dalam balutan jersey lengan panjang agak longgar berwarna biru tua, kontras dengan garis putih di bahunya. Rambut bergelombang panjangnya diikat kuncir tinggi, menyisakan anak rambut yang lepek menempel di leher. 

Di bawahnya, celana baggy jeans berwarna hitam dan sneakers berwarna abu-abu dengan kontras garis putih. Gadis itu dikelilingi oleh kaleng cat dan tumpukan koran bekas yang berserakan. Terdapat noda debu yang samar di pipi kirinya.

"Sialan," desis Jingga sembari meniup telapak tangannya yang perih. Ujung-ujung jarinya menjadi kasar, plester di jari telunjuk dan lepuh kemerahan. Semua itu adalah bukti nyata setelah tiga jam bergelut mengamplas kursi rotan. "Yakin nggak minta bantuan ama temen-temen jurusan lo, Ya?" 

Arya tidak menjawab. Dia sedang masuk dalam zona flow state-nya.

"Ya… Arya? ARYA… uhuk… uhuk…" Jingga terbatuk, mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Gue bisa batuk darah kalau gini caranya.” gerutunya sembari mendongak, merasakan otot lehernya menegang. “Tulang leher gue rasanya barusan bunyi kretek.”

Arya berhenti mengamplas. Dia melepas maskernya, memperlihatkan wajahnya yang separuh bersih separuh berdebu samar. Matanya melirik ke arah tangan Jingga. “Istirahat dulu.”

"Gue belum selesai ngamplas kursi ini, Ya!"

"Tangan lo sudah gemeteran. Kalau dipaksa, hasil amplasnya juga nggak bakal halus. Serat rotannya malah jadi rusak." Arya kembali mengamplas permukaan meja.

Jingga melempar kertas amplas ke lantai, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding semen yang belum dicat. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Tempat itu masih jauh dari bayangan estetik yang diinginkannya meski sudah memindahkan barang-barang yang terbengkalai ke luar dan menyapu jaring laba-laba yang bersarang di setiap sudut.

Jingga meraih ponselnya di balik tumpukan koran, lalu membuka aplikasi notes.

Glass House Marketing Plan:

  1. Grand Opening Promo: Beli Satu. Gratis Satu.
  2. Undang Influencer Kampus (List: Dimas, Bella, Yuni).
  3. Pasang WiFi Seratus Mbps (Wajib kenceng buat nugas dan ngonten).
  4. Spot photogenic: Neon box warna pink tulisan “Spill The Tea”.

"Dengerin,” kata Jingga, suaranya menggema. Kaki kirinya menendang kaleng cat. Gue udah hitung budget operasional. Kita butuh duit cepet."

Arya menyeka keringat di dahinya di dengan lengan bajunya. "Terus?"

"Kita harus bikin tempat ini viral di bulan pertama," ujar Jingga dengan mata membara. Tangan kanannya menunjuk pojok ruangan dekat colokan listrik. "Di sana, kita pasang router Wi-Fi enterprise grade yang kecepatannya minimal 100 Mbps. Gue udah cek provider yang ngasih harga bagus. Lumayan buat narik mahasiswa yang sekarang nggak cuman butuh teh enak… Mereka juga butuh koneksi internet kenceng buat push rank… ngerjain tugas… ngonten…"

Arya menatap titik yang ditunjuk Jingga.

“Terus…,” lanjut Jingga. “Di dinding bata area bar itu, kita pasang neon box tulisan Spill The Tea warna pink! Pasti bakal rame orang yang datang." Wajahnya tersenyum seperti orang yang baru saja berhasil mendaki gunung.

Arya menghela napas panjang. Dia meniup debu serbuk kayu di permukaan meja dengan satu hembusan kuat. Serbuk itu beterbangan, berkilauan indah disinari cahaya matahari, sebelum akhirnya jatuh ke lantai. "Nggak."

Senyum Jingga lenyap, lalu mengernyitkan dahi. "Hah? Apanya yang nggak? Maksud lo kita belum ada duitnya? Kalo iya… Bilang dari awal! Kita bisa patungan dulu atau biar gue coba ajuin di proposal revisi ke kampus…"

"Konsep awalnya memang nggak pasang Wi-Fi… nggak ada neon pink juga," jawab Arya tenang, lalu kembali membungkuk mengambil amplasnya.

"Lo lagi bercanda kan, Ya?" tanya Jingga, suara meninggi satu oktaf. Urat lehernya mulai terlihat.

Arya tidak menjawab, tangannya mulai mengamplas permukaan meja bar lagi.

Srek. Srek. Srek.

Jingga berdiri di tengah kekacauan itu, lalu melangkah mendekati Arya dengan napas memburu—mengabaikan kakinya yang masih kesemutan.

"Ini tahun berapa, Bos? protes Jingga.. “Lo mau jualan teh atau buka tempat pertapaan? Tempat ini bakal jadi kolam renang tanpa air. Orang datang buat wifi-an… bukan buat meditasi… Lo mau jualan ke siapa? ke kuntilanak?”

"Justru itu," sahut Arya datar tanpa menoleh.

Jingga menggebrak meja bar. "Itu namanya bunuh diri! Liat mata gue, Mas Arsitek kulot!”

Arya berhenti, lalu meletakkan kertas amplas. Matanya menatap ke arah Jingga

“Gue yang marketing di sini,” lanjut Jingga.Gue tahu selera pasar itu gimana. Lo boleh pegang kendali soal rasa… Tapi, tolong Ya! Kita butuh duit... Kita butuh tempat ini jadi rame biar bisa muterin modal.”

Lihat selengkapnya