Hujan lebat menggebrak bumi. Guntur menggelegar berkepanjangan. Kilat sambar menyambar. Saat itu baru lepas tengah hari. Tapi hujan lebat, gumpalan awan menghitam membuat suasana seperti dicengkeram gulitanya malam. Dua orang berhenti di kaki gunung Merapi sebelah barat yang merupakan bukit berbatu-batu hampir tanpa pepohonan. Suasana tampak gersang meski tengah dihajar hujan yang mencurah sangat deras dari langit. Kaki gunung dicekam kesunyian aneh di tengah hujan yang mengguyur. Sesekali terlihat kilat menyambar dan suara geledek menggelegar merobek gendang telinga. Suara tiupan angin di kejauhan, bergaung di sela bebatuan. Setiap curahan air hujan yang jatuh menghantam bebatuan hitam pekat memercikkan uap dingin yang aneh. Uap itu tidak melayang naik ke udara, melainkan menjalar merayap di atas tanah bagaikan jemari gaib yang meliuk-liuk mencari mangsa. Bau belerang menyengat beradu dengan aroma tanah basah dan hanyir darah segar yang entah dari mana asalnya, menusuk-nusuk lubang hidung. Lereng barat itu seakan-akan terputus dari dunia manusia. Tak ada kicau burung, tak ada derik jangkrik, bahkan suara desir dedaunan pun tak terdengar—sebab hampir seluruh vegetasi di sana telah mati meranggas, menjelma menjadi tonggak-tonggak kayu hitam yang meruncing seperti tombak-tombak pencabut nyawa.
Di antara raungan angin yang gaung-bergaung menyusup celah bebatuan purba, terdengar sayup-sayup bisikan tanpa wujud. Bisikan itu berbahasa Jawa kuno, merintih dan meratap, terkadang berubah menjadi kekehan tawa lengking yang menyayat saraf. Bau kemenyan yang terbakar beribu-ribu tahun lalu seolah terperangkap di dalam ceruk-ceruk batu vulkanik, menguap kembali bersama air hujan yang mendinginkan permukaan namun membakar sukma.
Orang yang memakai kemeja hitam lusuh yang telah kuyup kena air hujan mengangkat kepala memandang ke arah puncak gunung Merapi. Kabut tipis yang sedari tadi berbondong – bondong turun dari puncak gunung nampak membungkus sudut – sudut Gunung Merapi.
Kemeja hitam yang melekat pada tubuhnya menempel ketat bagaikan kulit kedua yang membelenggu. Air hujan mengalir deras dari helai-helai rambutnya yang kusut, melewati dahi yang berkerut dalam, lalu menetes melintasi kelopak matanya yang memerah menyala. Di balik kabut yang bergulung-gulung turun seperti gulungan kain kafan putih, puncak Merapi tidak lagi tampak seperti formasi alam biasa. Puncak itu menyerupai takhta raksasa bagi entitas kegelapan yang tak terjangkau oleh nalar manusia biasa. Sesekali, tatkala kilat membelah kegelapan langit dengan lidah apinya yang kebiruan, terlihat bayangan-bayangan hitam jangkung berdiri berjajar di balik kabut, memperhatikan gerak-gerik kedua manusia itu dengan tatapan mata merah membara.
Diam-diam orang yang memakai kemeja hitam lusuh itu merasakan adanya keangkeran tersembunyi di Gunung Merapi itu.
Keangkeran itu bukan sekadar rasa takut biasa yang merindingkan bulu kuduk, melainkan tekanan gaib yang maha dahsyat yang seolah menindih dadanya hingga sesak. Setiap kali jantungnya berdenyut, ada getaran halus dari dalam perut bumi yang merambat naik melalui telapak kakinya yang berlumpur. Bumi Merapi seakan bertetitikan darah, bernapas dengan napas yang berbau busuk bangkai purba. Hartono merasai ada puluhan pasang mata tak kasat mata yang sedang meraba-raba jiwanya, menimbang sejauh mana keputusasaan dan kehitaman dendam yang bersarang di dada lelaki itu.
Mbah Dipo membetulkan letak caping bambunya yang terkoyak di beberapa sisi. Air mengucur deras dari tepian caping itu, membentuk tirai air transparan di depan wajahnya yang dipenuhi guratan usia dan pengalaman mistis yang tak terhitung jumlahnya.
" Hartono, aku hanya mengantarmu sampai di sini."
Suara kakek itu parau dan berat, bergetar di udara yang lembap, bertarung dengan dentuman guntur yang tiada henti. Yang berkata adalah kakek bertelanjang dada bercelana komprang warna hitam dan memakai caping bambu. Pada wajahnya sebelah kiri pipi nya ada cacat bekas luka yang sangat besar dan tak sedap untuk dipandang.
Bekas luka di pipi kiri Mbah Dipo itu memanjang dari sudut mata hingga hampir menyentuh rahang bawahnya. Daging di sekitar luka itu mencuat kehitaman, bergerigi seperti bekas gigitan taring binatang buas atau sabetan senjata pusaka beracun yang ditinggalkan bertahun-tahun silam. Bekas luka itu tampak berdenyut-denyut pelan saat air hujan membasahinya, seolah-olah memiliki nyawanya sendiri. Kulit dadanya yang bertelanjang tampak kelabu dan keriput, bertato rajah-rajah Jawa kuno berpola simetris yang memancarkan aura perlindungan magis tipis, menolak tirai gaib jahat dari lereng atas agar tidak langsung merobek jiwanya.
Hartono berdiri bergeming. Sepatunya yang robek terbenam dalam lumpur berpasir hitam yang berbaur dengan abu vulkanik basah.
" Kenapa tidak terus sampai ke puncak gunung sana?"