Desa Sambirejo merupakan desa berhawa sejuk yang berada di kawasan pegunungan seribu Gunung Kidul. Kebanyakan penduduknya hidup dari bercocok tanam. Sebagian besar sawah ladang yang ada di desa itu adalah milik juragan Sentiko, bekas seorang pejabat tinggi di pemerintahan yang kini berusia hampir tujuh puluh tahun.
Meskipun sudah lanjut usia begitu juragan Sentiko masih kelihatan gagah dan kukuh. Tubuhnya yang tinggi tidak kelihatan bungkuk walaupun kalau berjalan dia selalu dibantu oleh sebuah tongkat berhulu gading putih kekuningan—sebuah tongkat berukir kuno yang seolah menyimpan aura gaib dan dingin. Rambut dan kumisnya telah memutih seperti kapas, menyemai kesan kebingkasan tua yang janggal dan menyimpan selaksa rahasia pekat. Juragan Sentiko merupakan penduduk pendatang yang berasal dari daerah Ambarawa.
Di samping rumah megah dan besar kediaman juragan Sentiko, terdapat sebuah halaman luas yang ditumbuhi pohon sawo kecik dan jambu dersana di tiap – tiap sudut halaman. Pohon-pohon tua itu berdiri rindang, menaungi pekarangan dalam kegelapan bayang-bayang yang selalu terasa memikat sekaligus mengintimidasi siapa saja yang melangkah di bawahnya.
Terdengar deru suara mobil berhenti di depan regol pintu gerbang kediaman juragan Sentiko. Suara raungan mesinnya memecah kesunyian dingin pagi itu. Dari mobil Toyota Hardtop berwarna hitam itu keluar dua orang lelaki. Di sebelah depan adalah seorang lelaki berkaos oblong dan memakai celana jaenas yang dekilnya tidak berbeda jauh dengan kaos yang dikenakannya, berusia sekitar 40 tahun. Rambutnya yang gondrong tampak ditutup dengan kain hitam. Sementara berewok meranggas dan tidak beraturan tambah membuat mukanya menjadi angker, memancarkan naluri kejam yang tak terselubung.
Di belakangnya mengikuti lelaki tinggi kurus dengan cacat bekas luka di pipi kiri serta memiliki gigi sedikit tonggos memakai jaket dan di kepalanya ada topi pet berwarna hitam. Tatapan matanya liar, culas, dan penuh kedengkian. Mereka berdua adalah Baroto dan Daldiri. Anak buah dari Juragan Sentiko.
Seorang lelaki paruh baya berbadan kurus segera meletakkan sapu ijuk yang sedang dipegangnya lalu tergopoh – gopoh membukakan pintu regol yang masih terkunci. Tangannya gemetar pelan saat memutar kuncian besi tua.
" Maaf Den Baroto dan Mas Daldiri pintu gerbang belum saya buka. "
Kata si lelaki paruh baya berbadan kurus itu yang ternyata bernama Parman. Suaranya bergetar rendah, penuh ketakutan implisit pada dua centeng kepercayaan tuannya.
Baroto dan Daldiri hanya diam tidak menjawab perkataan Parman, lalu mereka berdua masuk ke dalam pekarangan Juragan Sentiko dengan langkah-langkah berat menekan tanah.
Di teras depan tampak Juragan Sentiko duduk di kursi rotan berwarna kecoklatan. Di samping kanan dan kiri nya duduk dua orang wanita yang usianya masih tergolong muda. Pakaian mereka yang bagus dan panjang melekat ketat ke tubuh mereka hingga jelas kelihatan membayang keluar potongan badan mereka yang bagus ramping. Demikian pula rambut hitam panjang yang tersanggul rapi di atas kepala masing-masing. Aura sensual yang eksotis namun dingin terpancar tajam dari paras mereka. Mereka berdua ini adalah istri – istri dari juragan Sentiko yang memakai baju merah dan duduk disamping kanan nya bernama Kuntini. Dan yang sedang duduk di sebelah kiri tampak sedang mengaduk kopi dalam cangkir yang masih panas serta memakai baju berwarna krem bernama Nastiti. Kepulan asap kopi beraroma pahit membaur dengan bau melati gaib yang halus melayang di udara teras.
" Selamat pagi juragan Sentiko "
Kedua anak buah Juragan Sentiko menjura hormat, membungkukkan badan penuh rasa takut yang mendalam.
" Duduk kalian berdua "
Kata Juragan Sentiko sembari meletakkan cangkir di atas meja yabg berada di depannya. Dentingan cangkir beradu piring kecil terdengar tajam memutus hening.
" Apakah tugas yang aku berikan pada kalian sudah dikerjakan?! "