Ngipri Ular

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #3

Keputus Asaan

Matahari yang tadi bersinar amat terik kini sinarnya itu pupus di telan awan hitam yang datang berarak dari arah timur. Hawa panas menyengat yang sempat memanggang persawahan perlahan sirna, berganti gulungan udara dingin yang merayap turun menyelimuti lereng-lereng perbukitan. Sesaat kemudian langitpun mendung hitam. Kegelapan kelam memayungi wilayah Sambirejo, menyulap siang menjadi senyap yang kelabu dan dipenuhi firasat buruk. Hujan rintik-rintik mulai turun disertai sambaran kilat dan gelegar guntur. Suara gemuruhnya memecah sunyi pegunungan, menggetarkan kaca-kaca jendela rumah yang lapuk. Sekali lagi kilat menyabung, membelah langit dengan garis-garis cahaya putih yang memantulkan bayangan pepohonan menakutkan di tanah. Sekali lagi pula guntur menggelegar membuat seantero bumi bergetar. Dan hujan rintik-rintik kini berganti dengan hujan lebat. Tirai air raksasa tercurah tanpa ampun, menumbangkan keheningan desa dan memukul atap-atap seng serta genteng tanah liat dengan bising yang memekakkan telinga. Demikian lebatnya hingga tak beda seperti dicurahkan saja layaknya dari atas langit. Sekejap saja segala apa yang ada di bumi menjadi basah. Tanah-tanah kering meresap air hingga jenuh dan meluap menjadi lumpur pekat. Laut menggelombang, sungai menderas arusnya, sawah-sawah tergenang air. Selokan-selokan kecil banjir, mengalirkan air keruh bermuatan sampah daun dan ranting lapuk.

Hartono duduk di beranda belakang rumah, matanya menatap ke arah kolam ikan kecil di halaman belakang rumah yang mulai meluap airnya. Hujan deras yang menghantam permukaan kolam menciptakan riak-riak liar yang bergolak. Serta merta ikan yang berada di dalamnya mulai hanyut dibawa air. Satu per satu ikan-ikan kecil itu melompati tanggul semen yang tergenang, terbawa arus menuju selokan kecil yang membesar, lenyap telanjur ditelan banjir—persis seperti nasib harta dan kehormatan keluarga Hartono yang hanyut tanpa sisa. Di sampingnya Marni masih menyeka sudut bibir dan sesekali pipi dan kelopak matanya menggunakan sapu tangan yang telah dibasahi oleh air hangat. Setiap usapan lembut sapu tangan itu diiringi dahi Marni yang berkerut menahan perih dari memar membiru hasil kekejaman anak buah Juragan Sentiko. Bau amis darah yang mengering membaur dengan aroma tanah basah dan asap kayu bakar yang meredup di dapur.

" Maafkan aku Marni, maafkan aku..... "

Suara Hartono tercekat di tenggorokan, bibirnya bergetar. Tenggorokannya terasa sangat kering dan menyakitkan, seolah ada bongkahan batu besar yang menyumbat di sana. Pandangan matanya nanar, tertumpu pada bayangan genangan air di bawah kakinya.

" Tak apa Mas, kita lagi dicoba oleh Gusti Allah. Semua umat pasti pernah mendapatkan cobaan. Entah ringan atau berat. Tetap sabar dan nerimo saja ".

Marni berusaha menyunggingkan senyum lemah, meski sudut bibirnya yang robek melahirkan rasa ngilu yang menusuk sampai ke ubun-ubun. Tangannya yang gemetar perlahan meletakkan sapu tangan basah itu ke dalam baskom seng tua yang berkarat.

" Tidak bisa begitu Marni, andai saja aku tidak di phk tidak juga aku bakalan pinjam uang pada si baik Sentiko ! Aku tidak terima atas yang telah mereka perbuat pada keluarga kita. Pada mu pada Sasongko. Lapor polisi juga percuma si Sentiko punya beking orang kuat. Salah –salah aku yang malah akan di penjara ".

Hartono nampak menahan amarah yang mulai bergemuruh di dadanya. Giginya gemeretakan. Kepalan tangannya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat di lehernya bertonjol keluar, menegang seiring napasnya yang naik turun terengah-engah seperti binatang buruan yang terdesak di sudut jurang.

" Nyebut Mas,nyebut... " Marni mencoba menenangkan suaminya. Marni menggeser duduknya, merengkuh lengan Hartono yang kaku dan dingin, berharap kehangatan jemarinya bisa meredam badai murka yang membakar jiwa suaminya.

Lihat selengkapnya