Di lereng pegunungan sewu Wonosari udara menjelang Subuh dingin mencucuk. Hawa kabut tebal merayap melintasi celah-celah batu padas, menembus pakaian dan mengutuk tulang-tulang manusia dengan rasa ngilu yang pekat. Kesunyian dipecah oleh suara desau daun-daun pepohonan tertiup angin yang datang dari arah pegunungan. Angin itu berembus dalam bisikan panjang yang serak, seolah membawa gema duka masa lalu dari tanah tua yang terkutuk. Tanah berlumpur dan becek sisa hujan deras tadi malam. Genangan air keruh mencerminkan sisa-sisa kegelapan langit yang belum tersentuh fajar. Di kejauhan terdengar suara serangga dan sesekali lolong anjing bersahut-sahutan. Suara anjing-anjing itu melengking pilu, memecah sepi bagai pertanda hadirnya sosok gaib yang melintasi bukit-bukit kapur. Di antara desau angin malam dan gemerisik suara daun-daun pepohonan yang sesekali dirobek oleh lengking lolongan anjing, dari arah selatan lembah pegunungan sewu terdengar gemeretak suara roda-roda pedati mengiringi derap kaki - kaki dua sapi yang menariknya. Roda kayu berbingkai besi itu melindas batuan dan lumpur, menimbulkan derit panjang berirama mistis yang bergema di sepanjang dinding lembah.
Dalam kegelapan pagi, sebuah kereta, laksana kereta hantu meluncur keluar dari sebuah lembah yang rapat oleh pohon-pohon besar dan semak belukar. Kereta terbuka ini bergerak perlahan tetapi pasti. Sais yang mengendalikan dua ekor sapi penarik kereta agaknya sengaja bergerak lambat perlahan. Bayangan tubuhnya tampak jangkung dan samar dalam remang fajar. Orang ini mengenakan ikatan kepala tebal dari kain hitam. Baju surjan batik yang tidak dikancing tersibak ditiup angin, membuat dadanya tersingkap. Kulit dadanya yang legam dan berkerut dimakan usia tampak kebal terhadap gigitan angin malam yang menusuk. Sementara di belakang sais nampak duduk selonjor seorang laki – laki memakai kemeja berwarna hitam. Matanya cekung dengan bayangan hitam tebal di bawahnya, memancarkan keletihan jiwa yang teramat sangat. Badan orang itu bergoyang – goyan mengikuti alur roda pedati yang melindas tanah berlumpur dan bebatuan kapur. Bau apak kayu basah, kotoran sapi, dan aroma tanah liat membaur menjadi satu di udara pagi yang lembap.
" Pagi –pagi buta begini mau kemana kamu Har? "
Pak tua sais pedati itu membuka percakapan. Suaranya serak dan berat, serasa berasal dari kedalaman gua batu.
" Mau ke Muntilan Mbah, ketempat saudara. Ketempat mbakyu saya. Sudah lama tidak dikunjungi ".
Laki –laki itu yang ternyata Hartono menjawab pertanyaan si sais pedati yang bernama Mbah Gito. Suara Hartono terdengar hampa, datar tanpa daya.
"Nasibmu tidak beruntung, Har. Sejak Kang Mangun Sarkoro mangkat keadaan desa ini juga tidak menentu. Begundal juragan Sentiko sering kali melakukan perbuatan seenak jidat mereka "
"Mungkin memang begitu takdir saya. Takdir kita semua."