Ngipri Ular

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #5

Bisikan Menuju Kesesatan

Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat ketika Hartono memasuki gerbang desa Tawang. Langit berganti warna menjadi jingga keunguan yang suram. Letih dan penat berbaur menjadi satu. Udara di tikungan sungai kecil yang airnya hampir kering sejuk sekali. Angin pegunungan Merapi mulai berembus lembut, membelai wajah Hartono yang penuh coretan kelelahan. Pohon-pohon besar yang masih bisa tumbuh cukup subur karena dekat air memiliki dedaunan yang rindang, membuat keadaan sekitar situ terasa lebih dingin. Bayangan pohon-pohon rindang itu saling bertumpuk, menciptakan lorong-lorong gelap yang misterius. Air sungai yang jernih tampak dangkal. Dasar sungai yang dilapisi batu-batu kecil terlihat dengan jelas. Di kejauhan terdengar suara binatang malam mulai berdendang. Tonggeret dan jangkrik bersahut-sahutan menyambut datangnya malam. Hartono jongkok di tepi sungai lalu membasuh wajahnya dengan air sungai yang jernih dan sejuk. Air dingin itu mengusir rasa kantuk dan debu jalanan yang menempel di kelopak matanya. Kemudian Hartono duduk menyandarkan punggungnya ke batu besar di tepi sungai. Ia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa tenaga sebelum menghadapi kenyataan pahit di rumah kakaknya.

Rumah joglo yang berada ditengah perkampungan di sebelah barat lereng gunung Merapi tampak sedikit sunyi dan temaram karena lampu lima watt yang menggantung di tengah serambi depan. Cahaya kuning yang redup itu membuat ukiran-ukiran tiang jati rumah tersebut berbayang janggal. Tanaman rambat mengeliling sekeliling rumah joglo itu sebagai pagar hidup. Dedaunan hijau pekat itu membentuk semak tebal yang seolah mengisolasi rumah besar itu dari dunia luar. Hartono berjalan gontai menuju ke pintu rumah joglo itu.

" Assalamualaikum..... " Hartono mengucap salam sembari mengetuk pintu kayu jati yang ada ukiran burung garuda ditengahnya. Ketukan tangannya berbunyi buq.. buq.. buq.. pada kayu tua yang keras.

" Walaikumsalam...... " sahutan terdengar dari dalam rumah diikuti dengan suara langkah kaki untuk membukakan pintu. Suara selot pintu besi yang digeser terdengar nyaring di heningnya petang.

Dari balik pintu terlihat seorang paruh baya berbadan bongsor dan memakai daster warna biru. Wajahnya yang berminyak nampak sedikit terkejut melihat Hartono.

" Har, darimana ini tiba – tiba datang mengunjungi mbakyu mu ini. Lalu perempuan gemuk itu memeluk Hartono. Bau minyak wangi melati berpadu aroma bedak dingin tercium samar dari tubuh wanita itu.

" Ayo silahkan duduk dulu, sebentar aku buatkan minum dulu ".

" Tidak usah mbakyu, jangan repot –repot ".

Wanita gemuk yang ternyata Mbakyu Prapti tidak menghiraukan perkataan Hartono. Lalu bergegas masuk ke dalam lagi. Langkah kakinya membuat lantai kayu serambi berderit pelan. Hartono duduk di kursi rotan yang ada di serambi depan, sesekali pandangannya di buang ke arah ujung jalan. Melihat orang tua, muda dan beberapa anak sedang pulang dari masjid selesai menunaikan ibadah sholat Maghrib. Mereka berjalan beriringan sambil bersenda gurau, membawa obor kecil dan mukena—sebuah pemandangan damai yang sangat bertolak belakang dengan kekacauan jiwa Hartono.

Tidak lama berselang, Mbakyu Prapti berjalan ke depan sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan makanan kecil. Uap panas membumbung tinggi dari cangkir, membawa aroma sangrai biji kopi yang pekat.

" Ayo di ciicpi dulu kopi nya, gimana kabar Marni dan anak –anak di Wonosari ". Mbakyu Prapti mengawali pembicaraan. Ia mendudukkan tubuh suburnya di kursi rotan lain yang berderit menahan beban.

" Sehat mbakyu, semua sehat... " kata Hartono sembari menyeruput kopi dalam cangkirnya. Rasa pahit-manis kopi menyiram tenggorokannya, memberi sedikit kehangatan pada hatinya yang dingin.

" Oh ya, dimana kang Tejo dan anak –anak. Sepi sekali rumah seperti tidak ada penghuni ".

" Kakang mu sedang ada tugas ngurusi proyek jalan aspal di beberapa titik di Jogja. Kalau si Moko dan Putri sudah dua tahun ini tinggal di Jogja kuliah disana".

Beberapa lama kedua saudara kakak adik ini terlibat pembicaraan ngalor –ngidul. Berbagai topik keluarga diangkat, dari kenangan masa kecil hingga panen desa yang kian merosot. Namun, Wajah Hartono terlihat gelisah. Dia tiba –tiba sungkan dan tidak mampu membuka mulutnya untuk minta bantuan pada Mbakyu nya itu. Lidahnya terasa kaku, tertahan oleh dinding harga diri yang tersisa. Terngiang – ngiang perkataan Marni tempo hari.

" Duit lima puluh juta itu banyak Mas, apa iya Mbak Prapti mau membantu kamu, membantu kita memberi pinjaman untuk melunasi hutang kita pada juragan Sentiko? "

Sekian lamanya Hartono terdiam dan merenung. Bola matanya bergerak-gerak menatap lantai ubin kuno yang berdebu. Prapti lalu menegurnya. Wajah wanitanya yang tadinya ceria berubah menjadi penuh kecurigaan halus.

" Kenapa Har, apa yang kamu pikirkan? Sepertinya sedang mengalami masalah yang berat? "

Lihat selengkapnya