Ngipri Ular

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #6

Perjanjian Iblis

Desa Padas Lintang merupakan nama sebuah desa yang berada tepat di lereng gunung Merapi sebelah barat. Desa itu tampak tandus jika dibandingkan dengan desa –desa di sekitarnya. Tumbuhan tampak sedikit tumbuh dan mungkin bisa dihitung dengan jari. Hanya pohon-pohon kaktus liar dan gundukan semak berduri yang mampu bertahan hidup di tanah keras itu. Jalanan desa tidak rata hanya beruta batu pada atau karang yang menonjol tidak beraturan. Di sela –sela batu padas itu terlihat air yang menggenang seperti tergencet oleh bebatuan. Air genangan itu hitam, tenang, dan memancarkan kilau licin yang aneh di bawah naungan awan malam. Konon katanya desa Padas Lintang dulunya sebuah telaga kecil yang menjelma jadi sebuah desa karena jatuh batuan dari langit sehingga menutup telaga menjadi sebuah dataran karang. Padas berarti batu cadas atau karang dan Lintang berarti bintang. Mitos purba menyebutkan bahwa batuan meteor yang jatuh di tanah itu membawa kutukan gaib, membuat bumi sekitarnya mati dan menjadi tempat bersemayam para makhluk halus penjelajah kegelapan. Desa Padas Lintang hanya dihuni oleh beberapa warga saja, rata –rata mereka pindah karena desa Padas Lintang tidak bisa menghasilkan hasil bumi. Rumah-rumah yang ditinggalkan tampak melapuk, beratap rapuh dan menyisakan kesan desa mati yang mencekam.

Nyala dua lampu dari mobil Daihatsu Charade keluaran tahun 1981 tampak redup dan berkedip – kedip tidak mampu menembus kegelapan malam. Mobil tua itu terguncang-guncang hebat melindas permukaan jalan karang yang tajam. Suara derit susfensi mobil beradu dengan raungan mesin yang tersental-sental.

" Mas Hartono, maaf saya hanya bisa mengantar sampai disini. Soalnya tidak bisa kalau melewati jalanan di desa Padas Lintang. Jalanannya bebatu –batu Rumah mbah Dipo terletak diujung desa hampir tepat di kaki gunung Merapi. Hanya ada satu pondok bambu yang beratap belarak". ( belarak daun kelapa kering yang masih ada di tangkai pohon)

Giran menghentikan kendaraan di tepi celah jalan karang yang meliuk tajam ke atas. Suasana di luar mobil benar-benar pekat. Angin dingin bergulung-gulung turun dari puncak Merapi, membawa bau kemenyan basah dan banger tanah cadas.

" Tidak jadi apa Giran, aku sudah sangat berterimakasih sekali sudah kamu antar sampai disini ".

" Oh ya, tadi Bu Prapti nitip ini untuk Mas Har"

Giran mengeluarkan amplop putih lalu mengulurkannya ke arah Hartono. Melihat pada bentuk dan ketebalan amplop Hartono tahu amplop itu bukan berisi surat. Kalaupun ada suratnya pasti ada sesuatu yang lain.

" Apa-an ini Giran?" tanya Hartono.

" Wah saya juga tidak tahu isinya. Cuma tadi pas saya ambil mobil di garasi Bu Prapti menitipkan amplop ini untuk diserahkan pada Mas Har " .

Hartono menerima amplop tebal itu. Jemarinya merasakan bobot padat dari kertas-kertas di dalamnya.

" Sampaikan ucapan terimakasihku pada Mbakyu Prapti, kalau urusan ku sudah selesai aku akan mengunjunginya ".

Hartono membuka handle pintu mobil, lalu menutupnya. Brak! Suara pintu mobil tertutup terdengar nyaring di tengah sepinya bukit padas. Udara dingin membeku langsung menyergap kulit wajah Hartono tanpa ampun.

" Hati –hati dijalan mas Har ".

Giran berbicara sambil mengeluarkan kepalanya dari balik jendela mobil. Matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam melihat Hartono yang sendirian melangkah ke kegelapan malam desa Padas Lintang. Daihatsu Charade itu perlahan berbalik arah lalu menghilang dikegelapan, hanya sesekali lampunya terlihat berkerlip. Lalu, hening kembali menguasai alam.

Seperginya Giran. Hartono merobek salah satu sisi pendek amplop, lalu mengintip isinya. Tidak ada surat, batu atau pasir. Yang terlihat adalah setumpuk lembaran uang puluhan ribu. Masih baru-baru. Lembaran kertas uang itu terasa kaku dan licin di bawah rabaan jemarinya. Sekilas bisa diduga paling tidak jumlahnya sekitar dua ratus ribu. Sebuah jumlah yang sangat kecil dibanding puluhan juta utangnya, namun cukup untuk memberi makan keluarganya beberapa hari ke depan.

" Terimakasih mbakyu.. " Hartono berucap lirih..

Suaranya hilang tersapu angin dingin yang berembus keras dari arah puncak Merapi. Hartono memasukkan amplop itu ke dalam saku kemeja hitamnya, menepuknya pelan, lalu memutar badan menatap jalanan karang yang menanjak kegelapan. Di ujung sana, di bawah naungan gunung yang tertidur gelisah, Mbah Dipo dan takdir mistis yang merenggut imannya telah menunggu.

Di ujung tapal batas desa Padas Lintang yang hampir tepat berada di kaki gunung Merapi, tak berapa jauh dari sebuah mata air kecil tapi jernih, tampak berdiri sebuah bangunan bertiang bambu hutan, beratap belarak dan dindingnya terbuat dari batang – batang pohon serta ditutupi dengan kulit kayu yang sudah mengering agar angin dingin tidak menerobos ke dalam rumah. Pondok itu berdiri memencil di atas tanah karang, seolah terasing dari peradaban dan diselimuti keheningan yang janggal.

Lampu minyak yang menempel di dinding kayu serambi depan tampak meliuk –liuk diterpa angin gunung. Cahaya jingganya yang remang menari-nari, melempar bayangan-bayangan panjang yang menakutkan ke permukaan tanah padas. Seorang lelaki tua masih kelihatan duduk-duduk di atas lincak atau bale – bale dari bambu. Bambu-bambu tua itu berderit pelan setiap kali tubuh sang kakek bergeser. Lelaki tua itu memakai pakaian serba hitam. Usianya berkisar delapan puluh tahun. Kepala depan hampir licin tidak ada rambt yang tumbuh disana tetapi kepala bagian belakang rambut memutih terjurah panjang. Mukanya cekung, berjanggut dan berkumis lebat berwarna kelabu. Di sela –sela bibir yang menghitam terselip sebuah pipa yang api tembakaunya hampir mati. Asap tipis berbau kemenyan dan cengkeh tua menguar perlahan dari ujung pipa tersebut. Di pipi kirinya terdapat sodetan bekas luka. Pada masing-masing lengannya terdapat tiga buah gelang akar bahar berwarna hitam yang tampak berkilau lekat menghimpit kulit keriputnya.

Hartono tampak ragu –ragu untuk melangkahkan kaki ke arah pondok bambu itu. Hawa dingin yang aneh menusuk kuduknya, membisikkan bahaya gaib yang mengintai dari balik kegelapan serambi.

Tiba –tiba kakek tua itu beranjak dari tempat duduknya dan berseru. Suaranya serak dan bergema, memecah sepi malam.

" Anak muda, jangan sungkan masuk ke pondok ini. Daripada termangu di luaran dikerubuti nyamuk dan membeku kedinginan. Ayo, kemarilah... "

Mendengar si kakek berseru. Hartono memepercepat langkahnya menuju ke arah pondok. Langkah kakinya yang gemetar menimbulkan bunyi kemeresik halus di atas kerikil padas.

" Duduk dulu di sini anak muda. Siapa nama mu? "

Orang tua itu bertanya. Tatapan matanya yang cekung menancap tajam ke arah Hartono.

" Hartono mbah, saya jauh –jauh datang dari pegunungan seribu Wonosari untuk menemui simbah. Saya sangat yakin kalau yang sekrang berdiri di hadapan saya ini Mbah Dipo. Dukun tersohor yang mampu membantu kesulitan banyak orang" .

Orang tua itu terkekeh mendengar sanjungan Hartono. Suara kekehannya terdengar ganjil dan kering, bagai gesekan dua bilah kayu tua.

" Apa maksud kedatangan mu kesini Hartono. Muka mu terlihat kuyu, gelap dan beku. Seperti ada kesulitan, amarah dan dendam di ke dua bola mata mu ".

" Saya ingin jadi orang yang kaya raya Mbah, agar dihormati orang, disegani lawan dan yang pasti punya pengaruh di desa tempat asal saya tinggal ".

Lihat selengkapnya