Ngipri Ular

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #7

Tumbal Pertama

Ketika perempuan tua pengurus jenazah memberitahu bahwa kain kafan siap untuk ditutupkan, Marni meraung keras dan menubruk jenazah puteri kecilnya yang baru berusia lima tahun. Tangisnya meledak pecah, merobek udara serambi yang dingin dan muram. Dipeluknya kuat-kuat seperti tak akan dilepaskan apapun yang terjadi. Dekapan itu begitu erat, seolah hendak menyalurkan sisa kehangatan hidupnya pada jasad kaku sang buah hati yang makin membeku. Orang-orang perempuan yang ada di ruangan tengah itu tak dapat menahan keharuan dan ikut mengucurkan air mata. Isak tangis bersahutan melingkupi sudut-sudut rumah yang temaram. Hartono menyeruak di antara mereka yang hadir lalu memegang bahu Marni, berusaha menariknya seraya mengucapkan kata-kata membujuk.

"Sudah Marni. Cukup….. Relakan anak kita pergi. Biar arwahnya tenang di alam baka…"

Setelah membujuk berulang kali dan menarik tubuh permpuan itu dengan susah payah, akhirnya lelaki tadi Hartono, suami Marni berhasil menjauhkan istrinya dari jenazah. Namun begitu terpisah perempuan ini langsung pingsan hingga terpaksa digotong ke kamar.

Hartono mengusap mukanya beberapa kali. Tidak ada air mata di sana. Seolah – olah kematian puteri kecilnya itu sudah sangat direlakan sebagai tumbal pertama pesugihan.

Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada dentam penderitaan dan keperihan yang teramat sangat ketika ia menyadari bahwa Witri—putri kecilnya yang tak berdosa—benar-benar telah dicabut nyawanya oleh Nyi Blorong sebagai pembayaran pertama atas janji iblis di goa Rekso Pratolo. Bayangan wajah lugu Witri sempat melintas, menusuk dadanya bagai sembilu. Namun, sesal dan kesedihan itu hanya bertahan sekejapan mata. Hartono dengan kejam menghempas dan membuang jauh-jauh perasaan hampa tersebut dari benaknya. Ia tidak boleh lemah. Perjanjian telah dimeteraikan dengan darah darah dagingnya sendiri. Mengingat kembali penderitaan, kemiskinan, serta hinaan yang selama ini dilontarkan oleh Juragan Sentiko membuat dada Hartono kembali membara. Dendam kepada Juragan Sentiko tersulut begitu hebat, membakar habis sisa-sisa nurani dan rasa kemanusiaannya. Sentiko harus hancur, harus berlutut di bawah kakinya, berapapun harga dan tumbal yang harus dibayar!

Sebelum kain kafan ditutup dia masih sempat mencium kedua pipi jenazah. Dinginnya kulit pipi Witri menyengat bibirnya, namun hatinya sudah membeku bagai batu. Lalu dia tegak bersandar ke tiang besar ruang tengah.

" Witri…. Witri… Malang nian nasibmu. Mengapa Gusti Allah datang menjemputmu dalam usia semuda ini…"

Yang bicara adalah seorang wanita tua pendek gemuk yang bernama Mbok Pono. Suaranya gemetar oleh duka yang tulus. Dia adalah tetangga Hartono yang setiap hari membantu mengasuh anak Hartono jika Marni sedang membantu tetangga menuai atau menanam padi di sawah.

" Gusti Allah mengambil Witri tentu karena Dia sayang. Gusti Allah pasti tahu apa yang diperbuatNya. Kita dan yang lain-lainnya kelak akan berkumpul lagi di akhirat…"

"Kasihan Witri… Kasihan anakmu Har…" kata Mbok Pono berulang kali. Air matanya mengalir menelusuri kerutan-kerutan di pipinya.

Begitu kain kafan ditutup dan diikat pada ujung kepala dan ujung kaki, beberapa orang masuk membawa usungan. Kayu usungan berderit pelan saat diangkat. Jenazah dimasukkan ke dalam usungan, ditutup dengan beberapa lapis kain batik, lalu di atas sekali kain hijau berumbai rumbai benang kuning emas. Seorang pemuda tanggung berkulit kuning yang sejak tadi tampak ikut mengucurkan air mata beberapa kali merapikan kain hijau penutup usungan. Bahunya tergoncang oleh isak yang ditahan. Dia adalah Sasongko, anak pertama dari Hartono yang merupakan kakak kandung dari Witri.

Tak lama kemudian jenazah di bawa ke mesjid besar untuk disembahyangkan. Lengang terasa mengiringi tiap ayunan langkah para pengusung. Selesai disembahyangkan, sebelum diberangkakan menuju pemakaman, seorang kaum / modin ( orang yang biasanya bertugas menikahkan atau mengurus urusan kampung dari kematian dan sebagainya) desa Sambirejo menyampaikan sambutan pendek, mengharap agar kedua orang tua dan sanak keluarga yang ditinggalkan bersikap tabah menghadapi musibah itu, memohon agar almarhumah diberi tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah.

Selesai upacara pendek itu, jenazah pun diusung ke pemakaman yang terletak cukup jauh. Di depan sekali Sasongko berjalan membawa payung besar untuk melindungi usungan dari teriknya sengatan matahari di siang itu. Panas terik membakar tanah, namun udara di sekitar rombongan terasa begitu berat dan menekan. Selewatnya tengah hari rombongan yang terdiri hampir seratus orang itu sampai di pintu gerbang pemakaman. Seorang pengemis tua tampak duduk menjelepok dekat pintu dan menadahkan tangannya minta dikasihani. Tubuhnya renta tertutup kain compang-camping. Namun tak seorang pun mengacuhkan pengemis ini. Di saat para pengantar semua berada dalam kesedihan siapa pula yang akan tergerak untuk memberi uang pada tukang minta- minta itu. Ketika rombongan pengantar yang panjang sampai di bagian tengah, pengemis tadi ulurkan tangan menarik pakaian seorang pengantar.

Lihat selengkapnya