Ngipri Ular

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #8

Tumbal Kedua

Langit di atas Pasar Sambirejo masih berwarna abu-abu keperakan ketika bau tanah basah dan aroma kotoran pasar beradu dengan wangi rokok cengkeh murah. Pagi belum sepenuhnya pecah, tetapi geliat kehidupan pedagang kecil sudah terdengar sejak pukul tiga dini hari. Suara derit gerobak kayu, dentang seng yang disingkap dari lapak, serta teriakan para kuli panggul yang memanggul karung-karung beras dan goni bawang adalah simfoni rutin pasar desa itu. Namun, beberapa pekan terakhir, ada atmosfer baru yang merayap di sepanjang lorong-lorong sempit dan becek di pasar tersebut—sebuah aura perubahan yang janggal, gemerlap, namun terasa memancarkan kepengapan yang gaib.

Pusat dari perbincangan berbisik para pedagang tua di lorong wetan adalah sosok Hartono.

Siapa yang tidak mengenal Hartono beberapa bulan lalu? Lelaki yang dahulu kerap berjalan menunduk dengan pakaian lusuh berlumpur, yang saban hari tercekik utang bunga berbunga kepada Juragan Sentiko, kini bertransformasi menjadi sosok yang tak terjangkau. Lompatan kekayaannya tidak lagi merambat pelan bagai bertani, melainkan melesat bak guratan kilat yang membelah malam. Uang melimpah ruah menghampirinya seolah-olah dipindahkan oleh tangan-tangan tak terlihat dari dasar bumi.

Di bagian paling depan Pasar Sambirejo—area strategis yang tadinya merupakan deretan kios kayu lapuk milik para pedagang tua yang bankrut terjerat rentenir—kini telah berubah total. Hartono memborong tidak kurang dari delapan blok kios berderet tanpa menawar harga. Kios-kios lama bernuansa kusam itu dirombak total; papan-papan kayunya diganti dengan tembok bata kokoh yang dicat warna hijau pupus yang berkilau—sebuah warna hijau yang aneh, mirip dengan selendang halus yang pernah dilihat Hartono di puncak bukit gaib dalam semedinya.

Pintu-pintu besi gulung (rolling door) merek terbaik dipasang rapi. Di atas deretan kios itu, terpasang papan nama kayu jati berukir besar yang menegaskan dominasi barunya: "USAHA DAGANG SEJAHTERA - HARMONI".

Sembako menjadi poros utama bisnis barunya. Di dalam dua kios terbesar milik Hartono, tumpukan karung beras berkuali-kualitas terbaik menjulang hingga menyentuh langit-langit bangunan. Karung-karung beras bertuliskan merk ternama bertumpuk rapi bagai benteng benteng kekayaan. Di sebelahnya, tong-tong kayu raksasa berisikan minyak goreng bening berkilau keemasan berdiri berjejer, lengkap dengan selang kran kuningan yang siap mengalirkan literan minyak tanpa henti. Karung-karung gula pasir putih bersih dari pabrik besar, peti-peti kayu berisi telur ayam segar yang tak pernah kehabisan stok, hingga tumpukan garam berton-ton terkumpul di sana.

Ketika pedagang lain harus merangkak mencari pasokan dari tengkulak luar daerah dengan sistem utang yang mencekik, truk-truk engkel beroda empat dan enam saban subuh sudah mengantre tepat di depan lorong kios Hartono. Truk-truk itu membongkar muatan sembako segar dalam jumlah yang tak masuk akal untuk ukuran pasar desa. Barang-barang pedagang lain sering kali menumpuk membusuk karena tak laku, tetapi stok barang di kios Hartono seperti memiliki magnet gaib. Selalu ada pembeli yang berjejal, mengantre panjang dengan lembaran-lembaran uang di tangan.

Bukan hanya perdagangan bahan pokok masif yang ia kuasai, Hartono juga mengepakkan sayap bisnisnya ke sektor jasa yang paling sibuk dan menguntungkan di pasar itu: Jasa Parut Kelapa dan Perasan Santan Murni.

Di blok kios sebelah barat, dekat area penjual sayur-mayur, Hartono mendirikan pusat jasa parut kelapa terbesar. Tempat itu tak pernah sepi sedetik pun dari riuh dengung mesin. Hartono tidak memakai mesin parut engkol tua yang bising dan mudah rusak seperti milik Pak Sastro atau Kang Parman. Ia mendatangkan empat unit mesin parut kelapa berbahan baja nirkarat (stainless steel) mengilap yang digerakkan oleh dinamo listrik bertenaga besar.

Suara raungan mesin parut milik Hartono menggelegar sejak sebelum subuh

BRRRRRRR-SZZZZZZZZT!

Di depan kios parut kelapa itu, gunungan sabut dan batok kelapa tua menumpuk setinggi atap. Ratusan butir kelapa pilihan dari pesisir selatan menumpuk dalam keranjang-keranjang bambu raksasa. Tiga orang pekerja muda yang disewa Hartono bekerja dengan gesit, bertelanjang dada dengan peluh membasahi tubuh, terus-menerus menekan belahan kelapa putih ke piringan parut bergerigi tajam yang berputar kilat. Serbuk-serbuk putih kelapa memancar deras bagai salju gandum, jatuh ke dalam wadah-wadah seng besar yang kinclong.

Lihat selengkapnya