Rumah berdinding tembok tebal yang baru selesai direnovasi itu terasa begitu dingin, meski di luar matahari menyengat terik. Di dalam ruang tengah yang luas, aroma kayu jati baru beradu dengan wangi dupa tipis yang kerap mengambang entah dari mana. Marni berdiri mematung di dekat meja makan, menatap suaminya dengan mata yang sembap dan memerah. Uang amplop tebal untuk Mbok Pono masih tergenggam erat di tangannya.
Dada Marni berombak menahan sesak yang membakar tenggorokan. Ini bukan lagi sekadar persoalan tempat pengajian untuk mendoakan almarhumah Witri. Ini adalah tentang keretakan besar yang melubangi jiwa suaminya.
"Mas Har... ada apa sebenarnya dengan kamu?" suara Marni gemetar, pecah oleh kepedihan yang tak sanggup lagi ia bendung. Pertengkaran yang tadinya tertahan akhirnya meledak juga.
Hartono yang sedang duduk di kursi ukirnya tidak langsung menjawab. Tangannya yang mengenakan cincin batu akik hijau tebal meraih sebuah geluk tembikar. Dengan perlahan, ia meneguk cairan di dalamnya. Bukan air putih, melainkan air kelapa muda yang segar dan agak manis.
Sejak roda nasibnya berputar dan kekayaan melimpah ruah mendatangi mereka, Hartono punya kebiasaan aneh yang sangat membingungkan. Ia hampir tidak pernah lagi menyentuh air putih biasa. Saban hari, dari pagi hingga malam, yang diminumnya hanyalah air kelapa muda dari kelapa pilihan yang dibawa khusus dari pasarnya. Marni kerap memperhatikan, setiap kali Hartono meneguk air kelapa itu, tenggorokannya bergerak-gerak seperti ada dahaga membara yang tak pernah tuntas terpuaskan—dahaga gaib yang hanya Hartono dan sekutunya yang tahu alasannya.
"Sudah kukatakan, Marni," jawab Hartono dingin tanpa memandang wajah istrinya. "Pengajian di rumah Mbok Pono sama saja. Yang penting doanya sampai. Rumah ini masih berantakan, aku tidak mau banyak orang lalu-lalang!"
"Alasan, Mas! Itu cuma alasan!" Marni melangkah mendekat, menumpahkan seluruh beban yang mengganjal di hatinya. "Rumah kita ini luas! Kiosmu di pasar ada belasan, uangmu menumpuk di laci, tapi kenapa untuk mendoakan anak kandungmu sendiri di rumah ini kamu ketakutan?!"
Hartono menghentakkan geluk tembikarnya ke meja.
TAK!
Air kelapa muda di dalamnya terpercik ke atas permukaan kayu yang mengilap. Tatapan matanya mendadak tajam dan liar, berkilat menakutkan.
Marni menyusut air matanya dengan ujung selendang, lalu menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. Di mata perempuan itu, Hartono telah berubah 360 derajat. Dahulu, Hartono adalah lelaki sarungan yang bersahaja. Walau hidup mereka melarat dan kerap dimaki orang, Hartono tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Ia selalu menjadi orang pertama yang mengumandangkan azan di mushola kecil dekat rumah jika marbot sedang berhalangan. Dulu, bibir lelaki itu selalu basah oleh dzikir saat memikul kayu bakar atau melangkah menyusung cangkul ke sawah. Namun kini? Sejak uang tumpah ruah melingkupi hidup mereka, Hartono sama sekali tak pernah lagi menyentuh sejadah. Sajadah tua bertumpuk debu di sudut kamar. Ia bahkan bergeming dan pura-pura tuli setiap kali suara azan bergema dari menara masjid desa. Suaminya telah menjadi sosok asing yang sangat jauh dari Tuhan—seorang lelaki yang jiwa dan raganya seolah-olah telah diserahkan sepenuhnya pada kegelapan.
"Kamu berubah, Mas... Kamu bukan Mas Har yang aku kenal dulu," bisik Marni lirih, suaranya sarat dengan kekecewaan yang mendalam. "Uang banyak ini seperti mencabut nyawamu pelan-pelan."
"Cukup, Marni! Jangan mulai mengajari aku!" bentak Hartono serak. "Semua yang kulakukan ini demi kamu, demi Sasongko, demi mengangkat derajat keluarga kita agar tidak ada lagi bangsat-bangsat seperti Sentiko yang meludahi muka kita!"