Ngipri Ular

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #10

Pertempuran Ghaib

Malam itu, halaman dan ruang tengah rumah megah Hartono dipenuhi warga Desa Sambirejo. Lampu petromaks dan pancaran lampu listrik baru menerangi sudut-sudut ruangan yang luas. Karpet-karpet tebal digelar rapi, dan aroma harum makanan sedekah yang disiapkan Marni bersama Mbok Pono menyerbak ke udara. Namun, di balik keramaian itu, ada hawa dingin yang tak biasa merayap pelan di antara lipatan-lipatan baju para jamaah. Di antara barisan tamu yang hadir, sosok Ustaz Makmur duduk bersila di barisan paling depan. Ustaz Makmur adalah ulama desa yang sangat dihormati. Wajahnya yang tenang, senyumnya yang selalu mengembang ramah, serta ketulusannya menolong warga tanpa memandang derajad menjadikan sosoknya panutan di Desa Sambirejo. Namun, di samping ilmu agamanya yang dalam, Ustaz Makmur juga dikaruniai ketajaman batin yang lurus—sebuah kepekaan spiritual yang terasah dari kejernihan hati dan ketawaduan hidupnya.

Sejak pertama kali langkah kakinya melewati daun pintu depan rumah Hartono, dada Ustaz Makmur terasa seperti dihimpit beban berat yang asing. Langkahnya sempat terhenti sejenak di ambang pintu; mata batinnya menangkap bias warna hitam keabu-abuan yang menyelimuti atap rumah itu, beradu secara liar dengan cahaya lampu.

Hartono yang menyambut para tamu segera melangkah mendekat seraya mengulurkan tangannya dengan senyum manis yang dipaksakan.

"Selamat datang, Ustaz Makmur. Terima kasih sudah berkenan hadir mendoakan almarhumah putri kami," sapa Hartono halus.

"Assalamu’alaikum, Pak Hartono..." jawab Ustaz Makmur seraya membalas uluran tangan itu.

Begitu telapak tangan mereka saling beradu, DEK!

Sebuah sengatan hawa aneh yang sangat dingin—mirip rasa tersengat listrik berpadu dengan hawa amis keringat dingin—menembus telapak tangan Ustaz Makmur. Rasa panas melilit jemarinya hingga Ustaz Makmur refleks sedikit menarik tangannya balik. Mata Ustaz Makmur mendalam, menatap lurus ke dalam pupil mata Hartono. Di sana, di balik sorot mata sang tuan rumah, Ustaz Makmur tidak menemukan ketenangan seorang ayah yang sedang berduka, melainkan kegelapan melilit yang pekat dan berhawa jahat.

Hartono dengan cepat menarik tangannya kembali, mengusapnya tipis ke kain celananya seraya mengalihkan pandangan.

"Mari silakan duduk di depan, Ustaz," ajak Hartono, mencoba menutupi kegugupannya.

Ustaz Makmur mengangguk tenang, walau batinnya kini bergetar prihatin. Ia tahu, ada perkara besar dan kelam yang sedang bersemayam di bawah atap rumah ini.

Acara pengajian pun dimulai. Suara Ustaz Makmur memimpin pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan doa-doa tahlil bergema merdu membasahi ruang tengah. Jamaah yang hadir ikut melantunkan ayat-ayat Tuhan dengan khusyuk. Namun, makin nyaring ayat-ayat suci itu dikumandangkan, makin berat pula udara di dalam rumah terasa. Suasana seolah-olah menegang, seperti ada kekuatan tak kasat mata yang terganggu dan meronta-ronta di sudut-sudut gelap ruangan.

Hartono yang duduk bersila di sudut dekat tiang utama tampak tidak tenang. Keringat dingin bertetesan di pelipisnya. Tenggorokannya terasa terbakar dan sangat kering, menagih tegukan air kelapa muda yang tak bisa ia minum di depan para tamu.

Tiba-tiba, di tengah-tengah kekhusyukan pembacaan surah Yasin...

BAMMMM!

Dua daun pintu kayu jati tebal di bagian depan rumah yang tadinya terbuka lebar mendadak terhempas dan tertutup dengan sangat keras! Hantaman pintu itu begitu dahsyat hingga menggetarkan kaca-kaca jendela dan membuat seluruh jamaah tersentak kaget. Angin kencang berbau amis kental mendadak berembus berputar di dalam ruangan, memadamkan tiga nyala lilin di dekat mimbar kecil.

"Astagfirullahal 'adzim!" bisik para warga ketakutan. Suasana pengajian seketika mencekam.

"Tidak apa-apa, mungkin hanya angin malam yang kencang," ucap Hartono bergegas berdiri dengan wajah pucat seraya mencoba menenangkan warga.

Namun, belum sempat Hartono melangkah menuju pintu, gangguan berikutnya terjadi.

PRAAANGGGG!

Sebuah pigura kayu berukir yang tergantung kokoh di dinding utama—foto almarhumah Witri tersenyum manis mengenakan baju putih—tiba-tiba terlepas dari paku pengaitnya. Pigura itu melayang jatuh dan terhempas keras ke atas lantai semen di tengah-tengah lingkar jamaah!

Kaca pigura itu pecah berserakan menjadi kepingan-kepingan tajam yang berhamburan. Anehnya, tepat di atas foto kertas almarhumah Witri yang terbaring di antara pecahan kaca, muncul rembesan cairan berwarna hitam pekat yang berbau busuk menyerupai darah kotor.

Lihat selengkapnya