Ngipri Ular

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #11

Kematian Juragan Sentiko

Mobil Mercy Tiger 280e berwarna biru itu berhenti di depan sebuah rumah besar dengan regol yang terbuat dari besi kokoh. Raungan mesinnya halus namun bertenaga, membelah kesunyian halaman rumah yang megah. Hartono masih berada di balik kemudi dimainkannya klakson sehingga menimbulkan bunyi berisik. Suara nyaring itu membahana, memantul di dinding-dinding tembok tinggi. Tidak lama kemudian dari balik pintu regol muncul seorang lelaki paruh baya berbadan kurus memakai kaos oblong putih dan bercelana hitam panjang yang digulung sampai lutut. Wajahnya dipenuhi guratan lelah dan kebingungan.

" Pak Parman, aku hendak ketemu dengan majikan mu. Sampaikan kepadanya Hartono mencari ".

" Iya den, akan saya sampaikan sementara den Hartono menunggu dahulu saja di serambi. Sebentar saya panggilkan ".

Parman menutup kembali regol setelah mobil Hartono masuk kemudian berhenti di depan rumah besar itu. Ban mobil menggilas kerikil-kerikil putih pekarangan dengan bunyi kemeresik yang mantap.

Hartono duduk bersandar pada kursi yang ada di serambi depan rumah Juragan Sentiko. Kursi ukir dari kayu jati tua itu terasa kokoh. Matanya memandang ke arah pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo kecik dan jambu dersana di tiap – tiap sudut halaman. Daun-daunnya yang rimbun menaungi tanah dari terik matahari, menciptakan bayang-bayang redup.

" Lumayan bagus juga rumah dan pekarangan juragan keparat ini. Dahulu aku mungkin untuk membayangkan saja tidak berani untuk memiliki kekayaan seperti Sentiko. Tetapi sekarang..aku lebih kaya dari dia ".

Batin Hartono dalam hati. Hartono tersenyum sendiri. Senyum penuh kemenangan dan kecongkakan yang terukir tajam di bibirnya.

Lamunannya buyar setelah sesorang berdeham dari belakang. Seorang lelaki berusia sekitar tujuh puluh tahun. Rambut dan kumisnya telah memutih seperti kapas. Tubuhnya yang tinggi tidak kelihatan bungkuk. Langkah kakinya terdengar berwibawa. Sebuah tongkat berhulu gading putih kekuningan tergenggam erat di tangan kanan. Suara ketukan ujung tongkat di lantai granit berdentang pelan.

" Selamat siang juragan Sentiko".

Hartono berdiri dari tempat duduknya sembari setengah menunduk hormat.

Juragan Sentiko hanya tersenyum. Senyum tipis yang penuh perhitungan. Kemudian menarik kursi dan duduk. Diikuti oleh Hartono yang juga kembali duduk di kursinya.

" Ada apa gerangan kau datang Hartono? "

Suara juragan Sentiko terdengar berat dan dingin. Seperti ada rasa tidak suka dinada suaranya. Mungkin merasa tersaing sebagai orang terkaya di Sambirejo. Tatapan matanya menyelidik, mencoba membaca arah angin perubahan yang dibawa Hartono.

" Ada dua tujuan saya kesini Juragan. Selain silaturahmi saya juga ingin memberikan sedikit hadiah. Sekedar ucapan terimakasih atas bantuan juragan yang selama ini selalu membantu saya ".

Nada suara Hartono seperti menyindir. Halus namun sarat racun dendam di dalamnya. Akan tetapi, juragan Sentiko tidak bereaksi apa –apa. Air mukanya masih kelihatan dingin.

" Satu lagi juragan, saya ingin mengajak juragan untuk bekerja sama. Saya yakin kita berdua akan bisa menguasai daerah –daerah disini jika kita punya kekuasaan. Dan saya yakin Juragan Sentiko sangat berpengalaman dalam hal ini ".

Juragan Sentiko tertawa terkekeh. Kebekuan hatinya tiba -tiba cair dengan seketika. Otaknya yang licik cepat tanggap mencari jalan untuk menghancurkan Hartono.

" Usulan kamu cemerlang Hartono. Tidak salah kalau kau anaknya Mangun Sarkoro pejabat tinggi di pemerintahan daerah. Otak mu cerdas ".

Juragan Sentiko memuji Hartono. Padahal di dalam hatinya sumpah serapah terucap. Saat kesempatan itu datang. Aku akan menyingkirkan mu Hartono. Aku yang berhak menyandang gelar sebagai orang terkaya dan berpengaruh serta berkuasa di desa ini.

Hartono menyeringai aneh. Seringai dingin yang menyimpan bahaya mematikan.

Diulurkan tanganya ke arah juragan Sentiko.

" Juragan Sentiko dengan ini perjanjian kita telah diputuskan. Jabat tangan suatu pertanda kalau kita sekarang telah berkerja sama ".

Juragan Sentiko menyambut uluran Hartono. Lalu menjabatnya dengan erat. Sambil tertawa –tawa. Hartono kembali menyeringai.

" Juragan Sentiko saya membawa banyak perhiasan dan juga keramik mahal yang saya dapat dari kolega saya orang Borneo. Saya sengaja membawa kesini sebagai simbol kerjasama kita ".

Lihat selengkapnya